*JAKARTA* — Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo, menilai hubungan diplomatik Indonesia dan Italia semakin strategis dan perlu terus ditingkatkan agar memberi dampak nyata bagi kepentingan nasional. Karenanya, pemerintah Indonesia perlu terus memperkuat kerja sama bilateral dengan Italia secara lebih terarah dan berjangka panjang, terutama di sektor ekonomi, perdagangan, pendidikan, budaya, serta transfer teknologi.
Data perdagangan kedua negara menunjukkan tren yang terus meningkat. Nilai perdagangan bilateral Indonesia–Italia pada tahun 2024 tercatat mencapai sekitar USD 3,9 miliar, menempatkan Italia sebagai salah satu mitra dagang utama Indonesia di Uni Eropa. Pada tahun 2025, nilai perdagangan tetap menunjukkan kinerja positif seiring meningkatnya ekspor Indonesia ke Italia, terutama pada komoditas alas kaki, tekstil, karet, furnitur, produk perikanan, serta kopi dan kakao. Sementara dari Italia, Indonesia banyak mengimpor mesin industri, peralatan manufaktur, produk kimia, dan teknologi pendukung industri.
“Posisi Italia sebagai salah satu kekuatan industri dan manufaktur Uni Eropa memiliki kesesuaian dengan agenda pembangunan nasional Indonesia yang tengah mendorong industrialisasi, hilirisasi, dan transformasi ekonomi berbasis nilai tambah. Potensi ini perlu dimaksimalkan secara konkret agar memberikan manfaat langsung bagi kedua negara,” ujar Bamsoet saat bertemu Duta Besar Indonesia untuk Italia Junimart Girsang di Wisma Duta Besar Indonesia Roma, Jumat (16/1/26).
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menuturkan, pentingnya transfer teknologi sebagai bagian dari kerja sama bilateral Indonesia dan Italia. Di sektor aerospasial dan teknologi satelit, Italia dikenal memiliki kapabilitas tinggi melalui pengembangan sistem pengamatan bumi, mitigasi bencana, dan teknologi maritim. Kerja sama di bidang ini dinilai relevan dengan kebutuhan Indonesia sebagai negara kepulauan yang rawan bencana dan memiliki wilayah laut yang luas.
Selain teknologi tinggi, industri kreatif juga menjadi ruang kolaborasi yang menjanjikan. Italia dikenal sebagai pusat desain, mode, dan industri kreatif dunia, sementara Indonesia memiliki kekayaan sumber daya kreatif yang besar. Sinergi kedua kekuatan ini dapat mendorong lahirnya produk kreatif berdaya saing global sekaligus memperkuat diplomasi budaya.
“Di bidang pendidikan dan budaya, kerja sama antarperguruan tinggi, pertukaran pelajar, serta kolaborasi riset perlu terus diperluas agar hubungan kedua negara tidak berhenti pada level pemerintah, tetapi juga menyentuh masyarakat luas. Diplomasi budaya melalui seni, film, desain, dan kuliner dinilai efektif memperkuat saling pengertian dan kedekatan antar bangsa,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini juga menyoroti pentingnya penyelesaian Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IEU-CEPA. Perjanjian tersebut dinilai akan menjadi pendorong utama peningkatan hubungan ekonomi Indonesia dengan negara-negara Uni Eropa, termasuk Italia. Dukungan Italia terhadap IEU-CEPA menjadi sinyal positif yang perlu dijaga dan diperkuat melalui diplomasi aktif.
“IEU-CEPA akan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia ke Uni Eropa melalui penurunan dan penghapusan tarif, sekaligus meningkatkan kepastian hukum dan iklim investasi. Bagi Italia, perjanjian ini memberikan peluang memperluas investasi dan kerja sama industri di Indonesia,” pungkas Bamsoet. (*)










