INDONESIA SETELAH BERHENTINYA PERANG DI TIMUR TENGAH.

Nasional14 views

 

Oleh: Saiful Huda Ems.

Rasanya tidak ada negara yang paling sial di dunia kecuali Indonesia di bawah Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka (PRAGIB). Tidak ada satupun bom atau rudal selama Perang Iran vs. AS dan Israel yang jatuh di Indonesia, namun perekonomian di Indonesia mengalami gonjang ganjing.

Persediaan BBM hanya terlihat aman di permukaan, namun sebenarnya keropos, bahkan bisa jadi kosong melompong untuk persediaan beberapa bulan kedepan. Nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar tak henti-hentinya mengalami penurunan. Industri perdagangan mengalami kemerosotan dan PHK masih terjadi dimana-mana. Sedangkan pajak untuk rakyat semakin tinggi, gila-gilaan !.

Ketika Perang di Timur Tengah kemarin masih berlangsung sengit, mungkin Pemerintahan PRAGIB masih bisa beralasan semua itu terjadi akibat adanya perang di Timur Tengah, lah kalau perangnya sudah selesai (setidaknya untuk dua minggu ke depan ini), lantas Pemerintahan PRAGIB mau beralasan apalagi untuk situasi perekonomian negeri yang sudah kacau seperti ini?.

Pilihan politik luar negeri RI yang ikut-ikutan masuk menjadi member Board of Peace (BoP) saja sudah sangat keliru besar. Pemerintahan PRAGIB selain melawan arus utama (kehendak mayoritas rakyat), juga terbukti membuat Presiden RI dipermalukan di dunia oleh Donald Trump, yang menyuruh Presiden Prabowo mengangkat map dan clingak clinguk di hadapan para pemimpin nasional negara-negara lain dan setelah itu foto bersama namun di posisi paling ujung.

Selain itu perjanjian perdagangan Indonesia Amerika, Agreement on Reciprocal Trade (ART) , juga terbukti selain merugikan Indonesia, juga seolah menginjak-injak kedaulatan Negara Indonesia itu sendiri, yang seharusnya tidak boleh didikte oleh negara lain (AS) untuk menerima atau menyepakati perjanjian yang diajukannya dan yang hanya menguntungkan satu pihak, AS saja. Konyol sekali bukan?

Namun bukan Prabowo Subianto namanya kalau beliau tidak bersikukuh dengan pendiriannya, jangankan memintanya untuk segera keluar dari BoP dan membatalkan perjanjian perdagangannya dengan AS yang merugikan Indonesia, proyek MBG dan Koperasi Merah Putih yang diprotes jutaan orang saja, Prabowo masih ngotot untuk melanjutkannya. Padahal mayoritas rakyat sudah tahu, di kedua proyek itu bau amis korupsi sangatlah menyengat sekali !.

Entah siapa orang yang paling didengar oleh Presiden Prabowo untuk mempertahankan semua hal yang sangat kontroversial itu, yang jelas sebagai rakyat saya hanya ingin mengingatkan saja, bahwa Presiden Prabowo Subianto harusnya lebih peka lagi mendengar aspirasi genuine dari rakyatnya sendiri, yang tak memiliki kepentingan apa-apa selain majunya Republik Indonesia.

Benang merah dari ketidak berdayaan Pemerintahan PRAGIB dalam persoalan internasional, jelas mengarah pada ketertundukkannya Presiden Prabowo Subianto pada Donald Trump, namun untuk persoalan dalam negeri Indonesia kelihatannya mengarah ketertundukan Prabowo Subianto pada Jokowi. Inilah dua benalu yang merusak tumbuh berkembangnya Indonesia, yang harus segera dipangkas oleh Presiden Prabowo Subianto sendiri.

Presiden Prabowo Subianto harusnya mulai mencari figur-figur terbaik dari anak-anak negeri ini yang dapat dijadikan sebagai teman diskusinya untuk memanage negara menjadi jauh lebih baik. Jangan sampai seperti ketika menganalisa Perang Iran vs. AS dan Israel, orang-orang dungu digiring untuk mempercayai analisa Abu Gosok dan Rizal Malapetaka, yang akhirnya malah mendapatkan informasi-informasinya yang salah kaprah.

Yang satu menjadi corong Setanyahu dan yang satunya lagi menjadi corong Donald Trump, alhasil ketika fakta menunjukkan kota-kota di Israel porak poranda dan pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah dibumi hanguskan oleh rudal-rudal Iran, orang-orang dungu baru mulai mengerti dan berkata dalam hati:

“Ooh…ternyata Abu Gosok itu hanya pengamat amatiran yang terobsesi dengan legenda kecanggihan intelijen Mossad dan sangat memuja Setanyahu, sedangkan Rizal Malapetaka hanyalah seorang Intelektual Tukang yang sedang mengkampanyekan Kapitalis Fundamentalisnya AS yang dipimpin Donald Trump !”. Kalau sudah begini jadi kacau semua kan pada akhirnya? Wallahu a’lamu bishawab…(SHE).

8 April 2026.

Saiful Huda Ems (SHE).

News Feed