Dr. Ir. H. Djandji Akbar Zahiruddin Tandjung, atau yang lebih dikenal sebagai Akbar Tanjung, adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah politik Indonesia, khususnya di era transisi Orde Baru ke Reformasi. Lahir pada 14 Agustus 1945 di Sorkam, Tapanuli Tengah, ia tumbuh dari keluarga pengusaha dan aktivis Muhammadiyah yang religius serta disiplin.
Titik Awal Karier: Sang Aktivis Kampus
Dunia pergerakan sudah menjadi bagian hidup Akbar sejak masih menjadi mahasiswa Teknik di Universitas Indonesia. Pada tahun 1966, ia terlibat aktif sebagai anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) UI dan Laskar Ampera Arief Rahman Hakim.
Ketangkasannya berorganisasi membawanya menduduki berbagai posisi strategis:
– Ketua Umum HMI Cabang Jakarta (1969-1970).
– Pendiri Kelompok Cipayung (1972): Forum komunikasi yang mempersatukan organisasi mahasiswa ekstra-universiter (HMI, GMNI, GMKI, PMKRI, dan PMII).
– Pendiri KNPI & AMPI: Ia merupakan salah satu tokoh kunci di balik lahirnya Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) pada tahun 1973 dan Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI) pada 1978.
Kiprah di Pemerintahan Tiga Presiden
Karier birokrasi dan politik Akbar sangat panjang, menjadikannya menteri di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto dan Presiden B.J. Habibie. Beberapa posisi menteri yang pernah ia emban meliputi:
– Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (1988–1993).
– Menteri Negara Perumahan Rakyat (1993–1998).
– Menteri Sekretaris Negara (1998–1999).
Menakhodai Golkar dan DPR-RI di Era Reformasi
Akbar Tanjung memainkan peran vital dalam menyelamatkan Partai Golkar saat gelombang reformasi 1998 menuntut pembubaran partai tersebut. Sebagai Ketua Umum Partai Golkar (1998-2004), ia berhasil membawa partai tetap eksis dan kompetitif.
Puncak karier legislatifnya adalah saat terpilih menjadi Ketua DPR-RI (1999-2004) setelah memenangkan pemungutan suara di parlemen. Di bawah kepemimpinannya, ia juga aktif di kancah internasional sebagai Presiden Asean Inter Parliamentary Organization (AIPO) dan Presiden Parliamentary Union of OIC Members.
Pendidikan dan Keteguhan Prinsip
Meskipun disibukkan dengan urusan kenegaraan, Akbar tidak melupakan pendidikan. Ia berhasil menyelesaikan gelar Doktor Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 2007.
Kehidupan pribadinya didampingi oleh istri, Krisnina Maharani, dan empat orang putri yang selalu mendukung kiprah politiknya.
Meskipun perjalanan kariernya sempat diwarnai isu hukum terkait dana bantuan pangan pada tahun 2002, ia akhirnya dinyatakan bebas di tingkat banding pada tahun 2004, yang membersihkan namanya dari segala tuduhan. Selepas masa jabatannya, ia mendirikan Akbar Tanjung Institute sebagai wadah kaderisasi kepemimpinan nasional.
Sumber: Wikipedia
#AkbarTanjung #TokohPolitik #KetuaDPR #Golkar #HMI #TokohPemuda #SejarahPolitikIndonesia











