Kesbangnews.com – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, telah menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.
Merespons hasil Muktamar tersebut, Nata Sutisna, Aktivis Muda NU dan mahasiswa MA in International Peacebuilding di Hartford International University for Religion and Peace, Amerika Serikat berharap momentum ini menjadi kesempatan bagi NU untuk kembali menghidupkan keberanian moral KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Nata merupakan kader muda NU sekaligus pernah menjabat sebagai Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Tunisia periode 2020–2024 dan kontributor NU Online.
Menurut Nata, warisan Gus Dur bukan sekadar gagasan yang perlu dikenang, tetapi nilai yang harus hadir dalam cara NU menjalankan khidmahnya. Kemanusiaan, keadilan, kesederhanaan, dan persaudaraan harus kembali menjadi kompas moral NU di abad kedua.
“Gus Dur mengajarkan bahwa membela manusia berarti membela martabatnya, tanpa melihat agama, identitas, maupun latar belakangnya. NU harus terus berdiri bersama mereka yang lemah, tertindas, dan diperlakukan tidak adil,” ujar Nata.
Menurutnya, keberpihakan tersebut harus dimulai dari lingkungan NU sendiri. Masjid dan mushala harus menjadi rumah kemanusiaan, sementara pesantren harus menjadi ruang yang aman bagi anak-anak untuk belajar dan bertumbuh.
“Jangan sampai lembaga yang seharusnya memuliakan manusia justru menjadi tempat terjadinya kekerasan dan perundungan. Pesantren harus menjadi kawah candradimuka yang melahirkan pemimpin, ulama, hingga cendekiawan masa depan,” tegasnya.
Nata juga mengingatkan pentingnya kesederhanaan dan keteladanan. Di tengah masyarakat yang masih menghadapi kesulitan ekonomi, ia berharap para pemimpin NU tidak terjebak pada kemewahan dan gaya hidup berlebihan.
“Jabatan adalah amanah. Wajah NU seharusnya tetap menjadi wajah ulama yang sederhana, dekat dengan masyarakat, berakhlak, dan memiliki integritas,” katanya.
Dalam konteks persaudaraan, Nata berharap NU tetap menjadi suara yang berani membela hak setiap warga negara, termasuk kelompok yang berbeda agama dan keyakinan.
“Suara Gus Dur yang kita rindukan adalah suara yang berani mengatakan bahwa tidak seorang pun berhak merampas hak orang lain untuk beribadah dan hidup dengan martabat yang sama. Persaudaraan harus diwujudkan dengan keberanian melawan diskriminasi dan membangun dialog,” ujarnya.
Ia juga berharap NU tidak hanya semakin besar secara organisasi, tetapi semakin besar manfaatnya bagi masyarakat dan semakin kuat kontribusinya bagi perdamaian dunia.
“Abad kedua NU seharusnya menjadi momentum untuk kembali kepada manusia. Kita tidak perlu mengulang Gus Dur, tetapi kita perlu meneruskan keberanian moralnya: membela kemanusiaan, menegakkan keadilan, hidup dalam kesederhanaan, dan merawat persaudaraan,” tutup Nata.

















