Bamsoet Apresiasi Tiffney Tyara Jadi Juara Pilmapres Nasional 2026, Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi*

Nasional547 views

 

*JAKARTA* – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Komisaris Independen PT Siloam International Hospitals Tbk dan PT Lippo Karawaci TBK, Bambang Soesatyo (Bamsoet), mengapresiasi keberhasilan mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH), Tiffney Tyara Setyoko, yang meraih Juara 1 Program Sarjana Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Nasional 2026. Keberhasilan ini sekaligus memperlihatkan bahwa kualitas mahasiswa berprestasi di Indonesia semakin merata dan perguruan tinggi swasta memiliki kapasitas kuat untuk melahirkan talenta akademik, peneliti muda, sekaligus inovator yang mampu bersaing di tingkat nasional. Pada 2026, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga memperluas cakupan Pilmapres dengan menambahkan kategori mahasiswa disabilitas sebagai bagian dari penguatan ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif.

“Prestasi Tiffney Tyara Setyoko patut kita apresiasi setinggi-tingginya. Ia telah menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia, termasuk dari perguruan tinggi swasta, memiliki kapasitas akademik, daya pikir kritis, kemampuan riset, kreativitas, serta keberanian berinovasi yang mampu bersaing di tingkat nasional. Ini sekaligus menjadi pesan bahwa kualitas sumber daya manusia tidak boleh diukur semata dari asal perguruan tingginya, melainkan dari karya, kompetensi, integritas, dan dampak yang mampu diberikan kepada masyarakat,” ujar Bamsoet di Jakarta, Senin (10/8/26).

Tiffney, mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter UPH angkatan 2023, sebelumnya meraih Juara 1 Pilmapres Tingkat Wilayah LLDIKTI III pada 29–30 April 2026. Ia kemudian mewakili UPH dan LLDIKTI Wilayah III dalam kompetisi tingkat nasional. Pada tingkat wilayah tersebut, Tiffney menjadi yang terbaik setelah bersaing para finalis dari berbagai perguruan tinggi.

“Yang membuat prestasi ini semakin penting adalah proses panjang yang dilalui Tiffney. Dari ratusan mahasiswa yang mengikuti seleksi di 17 wilayah LLDIKTI, sebanyak 60 mahasiswa kemudian melaju ke tingkat nasional dan akhirnya tersaring menjadi 19 finalis. Artinya, untuk menjadi juara diperlukan kombinasi antara prestasi akademik, kemampuan berpikir, gagasan yang relevan, komunikasi yang kuat, kepemimpinan, serta kesiapan menghadapi persoalan nyata. Tiffney berhasil memenuhi seluruh tantangan tersebut,” kata Bamsoet.

Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan, dalam Pilmapres Nasional 2026, Tiffney mengusung gagasan Smart Febrile Patch, sebuah wearable sensor non-invasif berbasis keringat yang dirancang untuk membantu skrining dini tingkat keparahan penyakit infeksi yang ditandai dengan demam. Gagasan tersebut berangkat dari persoalan sederhana yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Demam kerap menjadi gejala awal berbagai penyakit infeksi, tetapi masyarakat sering kesulitan menentukan kapan kondisi tersebut masih dapat dipantau dan kapan membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.

“Smart Febrile Patch memperlihatkan bagaimana persoalan sehari-hari dapat menjadi pintu masuk sebuah inovasi. Teknologi kesehatan semestinya diarahkan untuk membuat masyarakat lebih cepat mengenali kondisi tubuhnya dan mengambil keputusan yang tepat. Jika gagasan ini kelak dapat dikembangkan melalui penelitian dan uji klinis yang memadai, manfaatnya berpotensi besar, terutama dalam mendukung skrining awal dan membantu tenaga kesehatan memperoleh informasi tambahan sebelum menentukan langkah pemeriksaan maupun penanganan berikutnya,” jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menuturkan, gagasan Tiffney juga memiliki relevansi dengan tantangan global dalam penggunaan antibiotik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa secara global pada 2023 sekitar satu dari enam infeksi bakteri yang telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium menunjukkan resistensi terhadap antibiotik. Dalam periode 2018–2023, resistensi meningkat pada lebih dari 40 persen kombinasi patogen-antibiotik yang dipantau, dengan rata-rata peningkatan tahunan sekitar 5–15 persen.

“Ketika diagnosis terlambat atau informasi awal mengenai kondisi pasien terbatas, ada risiko masyarakat melakukan pengobatan sendiri atau menggunakan antibiotik secara tidak tepat. Karena itu, inovasi diagnostik dan skrining dini harus menjadi bagian dari strategi kesehatan nasional. WHO sendiri menempatkan pengembangan tes cepat di titik layanan untuk membedakan infeksi bakteri dan virus sebagai salah satu prioritas dalam menghadapi resistensi antimikroba,” kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela FKPPI dan Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menambahkan, Indonesia sendiri telah mulai memperkuat sistem pengawasan resistensi antimikroba. Kementerian Kesehatan RI bersama WHO meluncurkan survei nasional pertama untuk resistensi antimikroba pada infeksi aliran darah pada akhir 2024 hingga awal 2025. Survei tersebut mencakup 80 rumah sakit dan 30 laboratorium di 25 kabupaten/kota pada 16 provinsi, dengan sasaran sekitar 10.000 pasien. WHO juga mencatat Indonesia memiliki lebih dari 3.000 rumah sakit akut sehingga penguatan sistem surveilans dan kualitas data menjadi kebutuhan penting.

“Prestasi Tiffney harus menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem riset kesehatan di Indonesia. Mahasiswa perlu diberi ruang untuk mengembangkan ide sejak di bangku kuliah, sementara perguruan tinggi, pemerintah, rumah sakit, industri, dan lembaga penelitian harus membangun jembatan agar gagasan tersebut dapat bergerak dari ruang kompetisi menuju laboratorium, uji lapangan, uji klinis, hingga apabila terbukti aman dan efektif dapat diimplementasikan secara luas,” pungkas Bamsoet. (*)

News Feed