Banyak yang Belum Tahu! Ternyata Sosok di Balik Megahnya PRJ Jakarta adalah Eks Kapten TNI Asal Pandai Sikek

Umum8 views

 

Setiap pertengahan tahun, jutaan pasang kaki melangkah menuju kemeriahan Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair. Namun, di balik gemerlap lampu stand pameran dan keriuhan konser musiknya, ada sebuah nama besar yang nyaris terlupakan oleh zaman: Sjamsuddin Mangan.

Siapa sangka, gelaran pameran terbesar di Asia Tenggara ini lahir dari visi tajam seorang putra asli Pandai Sikek, Sumatera Barat, yang memiliki latar belakang militer yang sangar sekaligus naluri bisnis yang brilian.

Nyali Kapten: “Tembak Kami jika Berani Menurunkan Bendera Ini!”
Sebelum dikenal sebagai “Bapak PRJ”, Haji Mangan adalah seorang patriot dengan keberanian luar biasa. Berpangkat terakhir Kapten TNI-AD, ia mencatatkan aksi heroik yang melegenda pada masa revolusi fisik tahun 1949.

Kala itu, Mangan memimpin delegasi pemuda mendatangi Hotel Oranje untuk berhadapan langsung dengan pimpinan Tentara Sekutu. Dengan tangan yang kokoh menggenggam bendera Merah Putih, ia melontarkan tantangan yang membuat nyali lawan ciut:

“Kami bersedia ditembak jika kalian berani menurunkan bendera ini!”

Gertakan maut sang Kapten berhasil. Merah Putih tetap berkibar, dan martabat bangsa terjaga di tangan dingin seorang pemuda asal Minang.

Arsitek Ekonomi Jakarta dan Lahirnya PRJ
Setelah meletakkan senjata, Haji Mangan membawa semangat juangnya ke dunia wirausaha. Ia sukses membangun dinasti bisnis tekstil di Jakarta dan dipercaya menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jakarta yang pertama.

Pada tahun 1968, Jakarta yang kala itu dipimpin Gubernur Ali Sadikin membutuhkan terobosan untuk memutar roda ekonomi. Mangan kemudian mencetuskan ide brilian: sebuah pameran besar untuk merayakan HUT DKI Jakarta sekaligus wadah pemasaran bagi pengusaha lokal.

Visi sederhana itu mewujud menjadi Pekan Raya Jakarta (PRJ) pertama yang digelar pada tahun 1968. Mangan percaya, Jakarta butuh pusat gravitasi ekonomi yang juga bisa dinikmati oleh rakyat kecil sebagai hiburan.

Warga Teladan yang Wafat di Puncak Pengabdian
Nasib berkata lain, Haji Mangan tak sempat melihat betapa raksasanya PRJ tumbuh di masa depan. Beliau wafat pada 13 April 1968 dalam usia yang masih sangat muda, 44 tahun—tepat di tahun yang sama saat PRJ pertama kali dibuka untuk umum.

Atas jasa besarnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan penghargaan Warga Teladan DKI Jakarta. Menariknya, ini adalah pertama kalinya penghargaan prestisius tersebut diberikan kepada seorang warga sipil, bukti betapa besar dampak yang ia berikan bagi Ibu Kota.

Warisan yang Terus Hidup
Keteladanan Haji Mangan tidak berhenti pada dirinya saja. Putrinya, Linda S. Mangan, kemudian menikah dengan sang Gubernur legendaris, Ali Sadikin. Sebuah pertemuan dua garis keturunan yang sama-sama berdedikasi membangun Jakarta menjadi kota metropolitan.

Haji Mangan adalah simbol nyata perantau Minang yang paripurna: ia datang ke Jakarta bukan hanya untuk mencari penghidupan, tapi untuk memberi “nyawa” pada ekonomi dan martabat bangsa.

Hari ini, saat Anda menikmati kembang api di Jakarta Fair, ingatlah sejenak nama Sjamsuddin Mangan—sang Kapten dari Pandai Sikek yang menenun sejarah besar untuk Jakarta.

#HajiMangan #SejarahJakarta #PRJ #JakartaFair #TokohMinang #InspirasiBangsa #PandaiSikek

News Feed