Kisah pengabdian seorang tokoh besar sering kali melintasi ruang dan waktu yang sangat panjang. Emil Salim, putra kelahiran Lahat yang akar keluarganya tertanam kuat di Nagari Koto Gadang, Agam, merupakan sosok intelektual lintas tiga zaman. Keponakan kandung Pahlawan Nasional Haji Agus Salim ini menghabiskan masa kecilnya berpindah-pindah kota mengikuti tugas orang tuanya, mulai dari Banjarmasin, Lahat, hingga Palembang, sebelum akhirnya menempuh pendidikan tinggi yang gemilang di Universitas Indonesia dan University of California, Berkeley.
Karier pengabdiannya di pemerintahan dimulai dengan langkah yang sangat kokoh. Ia tercatat sebagai menteri yang paling lama menjabat secara berturut-turut dalam sejarah Indonesia. Perjalanan panjang itu dimulai saat ia dipercaya menjadi Menteri Negara Bidang Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara pada tahun 1971. Dedikasinya yang tinggi membuat kepercayaan negara terus mengalir kepadanya, membawanya mengemban amanah sebagai Menteri Perhubungan pada periode berikutnya, hingga akhirnya ia menempati posisi yang sangat lekat dengan namanya hingga kini: bidang lingkungan hidup.
Di bidang inilah, Emil Salim menorehkan warisan yang tak ternilai bagi bangsa. Sebagai Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup yang pertama, ia menjadi pelopor gerakan pelestarian alam di tanah air. Berawal dari gagasannya yang ingin menjadikan isu lingkungan sebagai gerakan masyarakat, ia mengumpulkan berbagai organisasi non-pemerintah dari seluruh penjuru daerah. Pertemuan bersejarah itulah yang menjadi cikal bakal berdirinya Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan kemudian Yayasan Kehati, dua pilar penting dalam pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Reputasi intelektual Minang ini tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga menggema di panggung internasional. Ia menjadi salah satu dari sedikit tokoh Indonesia yang menerima penghargaan bergengsi tingkat dunia, seperti The Leader for the Living Planet Award dari WWF dan Blue Planet Prize. Kecerdasannya dalam meramu kebijakan ekonomi yang selaras dengan keberlanjutan alam membuatnya dikenal sebagai tokoh yang teguh pendirian, bahkan tetap aktif berkontribusi bagi negara di usianya yang kini mencapai 95 tahun melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Kehidupan pribadinya pun mencerminkan kesetiaan yang luar biasa, di mana ia menjalani bahtera rumah tangga selama puluhan tahun bersama Roosminnie Roza. Dari sosok yang pernah memimpin Tentara Pelajar di masa revolusi hingga menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, Emil Salim menunjukkan bahwa jabatan bukanlah sekadar posisi, melainkan jembatan untuk menjaga martabat bangsa dan kelestarian alam. Ia adalah bukti nyata bahwa intelektualitas yang dibarengi dengan integritas mampu menjaga nafas demokrasi dan lingkungan hidup tetap berdenyut bagi generasi mendatang.
Sumber: Wikipedia – “Emil Salim”
#EmilSalim #BapakLingkunganHidup #TokohMinang #WALHI #IntelektualIndonesia








