Bukan Orang Sunda! Inilah Sosok Putra Minang yang Menjadi Gubernur Jawa Barat di Masa Paling Darurat

Umum10 views

 

Sejarah sering kali menyimpan cerita unik tentang bagaimana persatuan bangsa melampaui sekat kesukuan. Salah satu kisah yang jarang tersorot adalah tentang Mr. Mohammad Djamin, seorang putra asli Minangkabau yang dipercaya memikul beban berat sebagai Gubernur Jawa Barat kedua di masa paling genting dalam sejarah Republik Indonesia.

Di tengah desing peluru dan kepulan asap revolusi, sosok bergelar Datuk Sutan Maharaja Besar ini menjadi nahkoda bagi warga Jawa Barat saat Jakarta jatuh ke tangan Sekutu dan kedaulatan negara berada di ujung tanduk.

Memimpin dari “Kantor” Gerilya di Tasikmalaya
Berbeda dengan gubernur masa kini yang berkantor nyaman di Gedung Sate yang megah, Mr. Mohammad Djamin harus menjalankan roda pemerintahan dari pengungsian. Sejak tahun 1946, pusat pemerintahan Jawa Barat terpaksa digeser ke wilayah pedalaman, tepatnya ke Tasikmalaya.

Langkah berani ini diambil untuk memastikan administrasi pemerintahan tetap tegak berdiri meski kekuatan militer asing mencengkeram kota-kota besar. Sebagai seorang intelektual lulusan Belanda dengan gelar Meester in de Rechten (Master Hukum), Djamin menggunakan keahlian diplomasi dan ketenangan berfikirnya untuk menjaga stabilitas wilayah yang tengah bergolak. Ia membuktikan bahwa martabat sebuah pemerintahan tidak ditentukan oleh gedung yang mewah, melainkan oleh komitmen untuk tidak meninggalkan rakyatnya di masa sulit.

Darah Bangsawan Sulit Air dan Keluarga Seni
Mohammad Djamin lahir di Sulit Air, Sumatera Barat, pada tahun 1903. Ia tumbuh dari silsilah keluarga pejabat terpandang yang memiliki jiwa kepemimpinan kuat:

Ayah: Datuk Malin Maharadja, seorang penghulu kepala di Sulit Air.

Kakek: Datuk Radjo Mansoer, sosok Larashoofd (Kepala Laras) terakhir di wilayah tersebut.

Kehidupan pribadinya pun mencerminkan keberagaman Indonesia. Ia menikah dengan Siti Nuraini, seorang putri Betawi yang dikenal sebagai penari berbakat. Perpaduan budaya Minang dan Betawi ini melahirkan bakat seni yang luar biasa pada putra mereka, Yazeed Djamin, yang kelak menjadi komposer legendaris Indonesia yang mengharumkan nama bangsa di kancah musik klasik dunia.

Akhir Hayat Sang Penjaga Martabat
Mr. Mohammad Djamin wafat pada 10 Mei 1957. Meski namanya mungkin jarang menghiasi buku teks sejarah sekolah, jasanya sebagai Gubernur Jawa Barat di masa perang tetap menjadi bukti nyata betapa eratnya jalinan persatuan tokoh-tokoh bangsa tanpa memandang asal-usul daerah.

Ia bukan sekadar pejabat administratif; ia adalah simbol perlawanan yang membuktikan bahwa pengabdian tidak mengenal batas suku. Mr. Mohammad Djamin mengajarkan kita semua bahwa seorang putra Minang pun bisa menjadi penjaga rumah bagi warga Jawa Barat, selama tujuannya satu: Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Sumber: Wikipedia bahasa indonesia (Profil Datuk Djamin)

#MohammadDjamin #GubernurJawaBarat #TokohMinang #SejarahIndonesia #JawaBarat #SumateraBarat #FaktaSejarah #MelawanLupa #SulitAir

News Feed