JAKARTA — Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Keluarga Besar FKPPI (Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-POLRI) Bambang Soesatyo, mengapresiasi Buku berjudul “Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung” yang akan diluncurkan pekan depan dalam acara diskusi dan bedah buku di Parle Senayan Jakarta, Minggu (15/2/2026).
Buku ini ditulis oleh wartawan senior Joseph Osdar, yang dikenal luas melalui karya-karyanya yang merekam dinamika politik Indonesia secara mendalam, reflektif dan kritis. Dengan para pembicara: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie (Akademisi/Ahli Tata Negara), Aries Marsudiyanto (Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus/Bappisus, Suryopratomo (Wartawan Senior/Ketua Forum Pemred 2015-2017/Mantan Duta Besar Singapura), Anindya Bakrie (Ketua Umum KADIN Indonesia) dengan moderator Effendi Gazali (Pakar Komunikasi Politik).
“Buku yang ditulis mantan wartawan senior Kompas di Istana dengan 6 Presiden (mulai dari Presiden Suharto hingga Presiden Jokowi) ini, mengangkat praktik politik yang jarang disorot; politik yang bekerja dalam senyap, tanpa panggung, tanpa sensasi, dan tanpa kebutuhan untuk mempertontonkan konflik. Langkah politik Prabowo Subianto dijadikan pintu masuk untuk membaca wajah lain demokrasi Indonesia—politik yang berlandaskan rasionalitas, etika, serta kepentingan kebangsaan,” ujar Bamsoet di Jakarta, Minggu (8/2/26).
Dalam kesempatan yang sama, Osdar sebagai wartawan senior sekaligus penulis buku menjelaskan, bahwa dalam tulisanya itu Dia juga menjadikan Bambang Soesatyo (Bamsoet), politisi dan wartawan senior sebagai narasumber utama yang ikut memberikan gambaran dan kesan yang sangat mendalam tentang perkenalannya sebagai wartawan muda dengan sosok Mayjend TNI AD Prabowo Subianto, Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus sekitar 30 tahun lalu atau tepatnya sekitar 1986 di Markas Komando Pasukan Khusus (Kopasus), Cijantung, Jakarta Timur.
Di situlah menurut Osdar, Bamsoet mengetahui tidak semua perwira menyandang pangkat jenderal memiliki pengalaman berperang di lapangan mempertahankan kedaulatan bangsa.
Prabowo memang jenderal perang. Bukan jenderal salon. Sebagai prajurit TNI, Prabowo
mencatat serangkaian pengalaman tempur. Pada dekade 1970-an, dia diterjunkan dalam Operasi Seroja di Timor Timur (kini Timor Leste). Sebagai Komandan Jenderal
(Danjen) Kopassus, Prabowo pada 1996 memimpin operasi penyelematan tim ekspedisi ilmiah Lorentz yang disandera di Papua.
Bamsoet, tutur Osdar, selain menceritakan bagaimana Prabowo sebagai seorang komandan begitu memberikan perhatian yang luar biasa kepada kehidupan keluarga-keluarga prajuritnya yang gugur dalam tugas, juga menyoroti bagaimana relasi politik yang dibangun Prabowo atas dasar saling menghormati guna menjaga stabilitas politik jangka panjang.
Dalam pengantar tulisannya, Osdar menjelaskan bahwa buku ini tidak dimaksudkan sebagai buku glorifikasi tokoh, melainkan refleksi atas praktik politik yang mengedepankan akal sehat dan tanggung jawab kenegaraan.
“Buku ini merekam bagaimana politik sesungguhnya bekerja. Tidak selalu di depan kamera, tidak selalu di panggung besar, dan tidak selalu melalui pernyataan keras. Politik akal sehat justru sering hadir dalam ruang-ruang sunyi, dalam keputusan-keputusan yang tidak populer tetapi penting bagi bangsa,” ujarnya.
Osdar menambahkan, salah satu penekanan Bamsoet sebagai narasumber utama dalam buku ini adalah pentingnya kedewasaan dalam mengelola perbedaan. Dalam demokrasi, perbedaan pandangan dan kepentingan merupakan keniscayaan. Namun, kualitas demokrasi ditentukan oleh cara para elite mengelola perbedaan itu.
“Demokrasi tidak rusak karena perbedaan, tetapi karena ketidakmampuan mengelola perbedaan. Politik tanpa panggung adalah politik yang tidak sibuk memperlebar jarak, tetapi berupaya menjembatani kepentingan demi stabilitas nasional agar investasi tumbuh, dunia usaha berkembang,” ujar Osdar mengutip pesan Bamsoet.
Buku ini juga menyoroti bagaimana relasi politik yang dibangun atas dasar saling menghormati peran kelembagaan mampu menciptakan stabilitas politik jangka panjang. Menurut Bamsoet, hubungan politik yang sehat tidak harus selalu diekspresikan melalui koalisi formal atau pernyataan publik yang demonstratif.
“Terpenting dalam politik adalah kejelasan tujuan dan komitmen kebangsaan. Ketika tujuan nasional menjadi titik temu, maka ego personal dan kepentingan jangka pendek harus dikesampingkan,” ujar Ketua DPR RI ke-20 ini.
Dalam buku ini, Joseph Osdar menempatkan Prabowo dan Bamsoet sebagai contoh praktik politik rasional di tengah budaya politik yang sering kali emosional dan reaktif. Politik akal sehat, sebagaimana digambarkan dalam buku, adalah politik yang memahami kapan harus berbicara dan kapan harus bekerja.
Osdar menilai, narasi seperti ini penting dihadirkan karena publik saat ini mengalami kelelahan politik akibat polarisasi berkepanjangan, konflik elite, serta politik identitas yang terus dipelihara. “Masyarakat sudah lelah dengan politik yang penuh drama. Buku ini ingin menunjukkan bahwa ada jalan lain: politik yang tenang, substantif, dan berorientasi pada kepentingan bangsa, bukan kepentingan sempit sesaat,” ungkapnya.
Selain merekam praktik politik, buku “Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung” juga menawarkan pembacaan etis tentang kepemimpinan. Politik, menurut Bamsoet, bukan sekadar soal kekuasaan, melainkan amanah konstitusional.
“Kekuasaan dalam demokrasi adalah alat, bukan tujuan. Ketika kekuasaan dijadikan tujuan, maka politik kehilangan etikanya. Buku ini mengingatkan kembali bahwa politik harus selalu berpijak pada moral publik,” ujarnya.
Bamsoet berharap buku yang di tulis Joseph Osdar ini dapat menjadi referensi bagi politisi, akademisi, mahasiswa, serta generasi muda yang ingin memahami politik dari perspektif yang lebih dewasa dan rasional. “Kita membutuhkan generasi politik baru yang tidak reaktif, tidak mudah terprovokasi, dan mampu berpikir jangka panjang. Politik akal sehat harus menjadi fondasi demokrasi Indonesia ke depan,” pungkas Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia itu.
Sebagai informasi, Bamsoet saat ini menjabat sebagai Anggota DPR RI 2024–2029, Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjajaran, serta Dosen Program Doktor Ilmu Hukum di Universitas Borobudur, Universitas Jayabaya, dan Universitas Pertahanan (Unhan). Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua DPR RI, Ketua MPR RI dan Komisi III DPR RI.
Saat ini Bamsoet juga masih aktif sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Keluarga Olahraga Tarung Derajat (PB Kodrat) 2025-2029, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perdagangan Barang Distributor Keagenan dan Industri Indonesia (ARDINDO) 2022-2027, Ketua Dewan Pembina Ikatan Motor Indonesia (IMI) 2025-2030 serta pembina di beberapa organisasi advokat, diantaranya KAI, Peradi dan lain-lain.
Peluncuran buku ini diharapkan dapat memperkaya diskursus publik mengenai praktik politik yang sehat, rasional, dan berorientasi pada kepentingan bangsa, sekaligus menjadi penanda bahwa demokrasi Indonesia memiliki alternatif narasi selain politik panggung dan kegaduhan. (*)










