Dapur yang belum merdeka

Opini43 views

Kesbangnews.com – 81 Tahun Indonesia Merdeka, Tetapi Siapa yang Menguasai Piring Kita?

Setiap Agustus, kita mengibarkan merah putih dengan dada tegak.

Kita menyanyikan Indonesia Raya. Kita mengenang para pahlawan. Kita bercerita tentang kerajaan-kerajaan Nusantara, tentang perlawanan terhadap kolonialisme, tentang darah yang tumpah, tentang Proklamasi 17 Agustus 1945.

 

Tetapi ada satu medan perjuangan yang nyaris tidak pernah kita bicarakan:

dapur.Dan ada satu bentuk penjajahan yang mungkin terlalu halus untuk kita sadari:

 

ketika sebuah bangsa perlahan kehilangan kendali atas apa yang dimakannya, apa yang dibanggakannya, dan apa yang diwariskannya kepada anak-anaknya.

 

Maka, pada 81 tahun Indonesia merdeka, saya ingin mengajukan pertanyaan yang mungkin tidak nyaman:

 

SUDAHKAH DAPUR INDONESIA MERDEKA?

Saya, Jawel Husin – The Singing Chef, tidak sedang berbicara tentang perang melawan bangsa lain.

Saya sedang berbicara tentang perang melawan lupa.

Perang melawan rasa minder terhadap warisan sendiri.

Perang melawan cara pandang yang membuat makanan asing tampak modern, sementara makanan Nusantara dipaksa terus-menerus memakai label “tradisional”, seolah tradisional berarti tertinggal.

Dan saya khawatir:

kita sedang kalah di meja makan kita sendiri

PENJAJAHAN TIDAK SELALU DATANG DENGAN SENAPAN

Dulu penjajahan datang dengan kapal.

Dengan meriam.

Dengan serdadu.

Dengan monopoli.

Dengan kekuasaan.

Hari ini dunia berubah.

 

Tidak semua bentuk dominasi datang dengan seragam militer.

Ada yang datang dalam bentuk logo.

Ada yang datang melalui waralaba.

Ada melalui kemasan.

Melalui algoritma.

Melalui iklan.

Melalui pusat perbelanjaan.

Melalui hotel.

Melalui televisi.

Melalui media sosial.

Dan akhirnya:

masuk ke dalam piring kita.

 

Inilah yang harus kita pahami dengan jernih.

 

Saya tidak menyebut setiap makanan asing sebagai penjajah.

Itu terlalu sederhana.

Saya juga tidak mengatakan masyarakat Indonesia harus berhenti makan makanan asing.

Tidak.

Yang harus kita lawan adalah ketika kita kehilangan posisi tawar terhadap makanan kita sendiri.

Ketika kita menjadi pasar yang sangat besar bagi makanan dunia, tetapi gagal menjadikan kekayaan kuliner sendiri sebagai kekuatan ekonomi dan budaya dunia.

Ketika kita lebih cepat percaya bahwa makanan asing adalah “premium”, sementara makanan Nusantara harus bekerja keras untuk membuktikan bahwa dirinya layak dihargai.

Ketika kita rela membayar mahal untuk sesuatu karena labelnya berasal dari luar, tetapi menawar murah makanan yang lahir dari dapur leluhur sendiri.

Di situlah penjajahan mental bekerja.

DULU MEREKA MENCARI REMPAH KITA. SEKARANG KITA MEMBELI CERITA MEREKA.

Ada ironi yang sulit diabaikan.

Berabad-abad lalu, bangsa-bangsa dunia datang ke Nusantara karena rempah.

Pala.

Cengkih.

Lada.

Kayu manis.

Dan berbagai hasil bumi lainnya.

Rempah bukan sekadar bumbu.

Ia pernah menjadi kekayaan strategis yang membuat kepulauan ini diperebutkan.

Hari ini, rempah itu masih tumbuh.

Tanahnya masih ada.

Petaninya masih ada.

Tradisinya masih ada.

Tetapi pertanyaannya:

 

Apakah kita masih memiliki kendali atas nilai yang dihasilkannya?

Dulu dunia datang mengambil rempah.

Hari ini kita justru sering membeli produk yang telah diberi nilai tambah oleh dunia.

Bahan kita.

Cerita kita.

Tetapi mereknya bisa milik orang lain.

Teknologinya bisa dikuasai orang lain.

Distribusinya bisa dikendalikan orang lain.

Nilai tambahnya bisa dinikmati orang lain.

Inilah pekerjaan rumah yang jauh lebih besar daripada sekadar mempertahankan resep.

KITA MEMILIKI RIBUAN HIDANGAN, TETAPI BELUM MEMILIKI CUKUP BANYAK KEKUATAN

Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang luar biasa.

Rendang.

Sate.

Pempek.

Rawon.

Gudeg.

Coto Makassar.

Papeda.

Arsik.

Tinutuan.

Ayam betutu.

Seribu jenis sambal.

Ratusan tradisi fermentasi.

Beragam teknik pengasapan, pemanggangan, pengeringan dan pengawetan.

Namun kekayaan tersebut sering kita perlakukan seperti museum.

Kita bangga memilikinya.

Kita foto.

Kita rayakan.

Kita tampilkan saat festival.

Lalu kita pulangkan kembali ke pojok.

Padahal warisan budaya yang tidak berkembang akan berubah menjadi benda mati.

Kita tidak membutuhkan kuliner Nusantara hanya untuk dikenang.

Kita membutuhkan kuliner Nusantara untuk:

hidup, tumbuh, berinovasi, menjadi bisnis, menciptakan lapangan kerja, menjadi diplomasi, menjadi ekspor dan menaklukkan pasar dunia.

LIHAT HOTEL-HOTEL DI TANAH KITA

Hotel-hotel megah berdiri di berbagai penjuru negeri.

Mereka menggunakan tanah Indonesia.

Mempekerjakan orang Indonesia.

Menerima wisatawan yang datang untuk melihat Indonesia.

Tetapi ketika wisatawan duduk di meja makan:

apa yang menjadi wajah Indonesia?

Berapa banyak hidangan Nusantara yang menjadi hero dish?

Berapa banyak chef yang diberi kebebasan untuk menggali resep daerah?

Berapa banyak bahan lokal yang diangkat menjadi produk premium?

Dan pertanyaan yang lebih tajam:

Apakah kita sedang menjual Indonesia kepada wisatawan, atau hanya menjual kamar hotel di Indonesia?

Jika seorang wisatawan datang ke Bali, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Maluku atau Papua tetapi pengalaman makan yang diterimanya bisa saja ditemukan di kota mana pun di dunia, apa yang sebenarnya ia bawa pulang tentang Indonesia?

Sebuah foto?

Atau sebuah rasa?

MASUK KE MALL. LIHAT SIAPA YANG MENDAPATKAN PANGGUNG.

Jepang punya sushi.

Korea punya Korean barbecue.

Amerika punya burger.

Italia punya pizza dan pasta.

China memiliki jaringan kuliner yang berkembang lintas negara.

Mereka datang dengan merek, modal, sistem, standardisasi dan narasi.

 

Indonesia?

Kita punya ribuan makanan.

Tetapi terlalu banyak yang masih berjalan sebagai usaha kecil yang berdiri sendiri.

Tidak terdokumentasi.

Tidak distandardisasi.

Tidak dibangun mereknya.

Tidak diperkuat rantai pasoknya.

Tidak dikembangkan teknologinya.

Tidak dipikirkan ekspansinya.

 

Kita memiliki kekayaan, tetapi sering tidak memiliki arsitektur untuk menguasainya.

Dan akhirnya kita kembali menjadi konsumen.

 

BAHKAN ANAK-ANAK KITA SEDANG DIAJARI MENGENAL DUNIA MELALUI PIRING

 

Di sinilah persoalan menjadi lebih serius.

 

Program Makan Bergizi Gratis memiliki skala yang sangat besar.

 

Ini bukan hanya tentang memberi makan.

 

Ini tentang membentuk kebiasaan.

 

Membentuk selera.

 

Membentuk permintaan.

 

Dan dalam jangka panjang, membentuk industri pangan.

 

Ketika anak-anak Indonesia makan setiap hari, pertanyaannya bukan hanya:

 

“Apakah gizinya cukup?”

 

Tetapi juga:

 

“Apakah mereka mengenal pangan negerinya sendiri?”

 

Burger bukan dosa.

 

Chicken katsu bukan dosa.

 

Makanan asing bukan musuh.

 

Tetapi jika makanan Nusantara terus-menerus ditempatkan sebagai pilihan sekunder sementara makanan luar dipersepsikan sebagai simbol modernitas, kita sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya:

 

bahwa yang datang dari luar lebih layak dibanggakan daripada yang lahir dari tanah sendiri.

 

Dan itu bukan persoalan resep.

 

Itu persoalan mentalitas.

 

 

LALU KITA BERTANYA: SALAH SIAPA?

 

Jawabannya mungkin menyakitkan.

 

Kita semua.

 

Pemerintah.

 

Industri.

 

Chef.

 

Sekolah.

 

Hotel.

 

Media.

 

Pengusaha.

 

Orang tua.

 

Dan konsumen.

 

Kita ikut menciptakan keadaan ini.

 

Kita sering memuji makanan Indonesia setelah orang asing memujinya.

 

Kita baru merasa bangga ketika sebuah media internasional menobatkannya sebagai salah satu makanan terbaik dunia.

 

Mengapa?

 

Mengapa validasi dari luar sering menjadi tiket bagi kita untuk menghargai sesuatu yang sebenarnya sudah kita miliki?

 

Kita tidak kekurangan makanan.

 

Kita kekurangan keberanian untuk menganggap makanan kita penting.

 

 

KITA JUGA HARUS BERCERMIN PADA SEKOLAH KULINER

 

Seorang calon chef Indonesia tentu harus belajar dunia.

 

Tetapi jangan sampai terjadi paradoks:

 

chef Indonesia lebih hafal teknik kuliner asing daripada sejarah dapurnya sendiri.

 

Ia mampu menjelaskan sauce, tetapi tidak mampu menjelaskan sambal.

 

Mengenal stock, tetapi tidak memahami kaldu tradisional Nusantara.

 

Mengenal fermentasi dari luar, tetapi tidak mengenal tempe, tape, terasi, dadih dan berbagai tradisi fermentasi lokal.

 

Mengenal teknik dunia, tetapi tidak memahami mengapa masyarakat Nusantara mengasapi, mengeringkan, mengasinkan atau memfermentasi pangan.

 

Kita tidak sedang meminta pendidikan kuliner kembali ke masa lalu.

 

Kita sedang meminta pendidikan kuliner Indonesia berani melihat ke dalam sebelum mengajarkan anak bangsa menatap ke luar.

 

 

SEJARAH KITA KEHILANGAN BANYAK DAPUR

 

Mungkin sudah waktunya sejarah Indonesia ditulis dengan pertanyaan yang berbeda.

 

Bukan hanya:

 

Siapa rajanya?

 

Tetapi:

 

Apa yang dimakannya?

 

Bukan hanya:

 

Siapa pahlawannya?

 

Tetapi:

 

Siapa yang memasak untuknya?

 

Bukan hanya:

 

Di mana peperangan terjadi?

 

Tetapi:

 

Bagaimana rakyat mendapatkan pangan ketika perang berlangsung?

 

Karena sering kali sejarah hanya mencatat tangan yang memegang senjata.

 

Padahal ada tangan lain yang tidak kalah penting:

 

tangan yang menanak nasi.

 

Tangan yang menumbuk rempah.

 

Tangan yang membersihkan ikan.

 

Tangan yang membuat sambal.

 

Tangan ibu.

 

Tangan nenek.

 

Tangan rakyat.

 

Tangan-tangan yang tidak pernah masuk buku sejarah, tetapi memberi makan sejarah itu sendiri.

 

 

JANGAN SAMPAI KITA MERDEKA DI BENDERA, TETAPI TERJAJAH DI SELERA

 

Inilah kalimat yang menurut saya perlu kita renungkan.

 

Jangan sampai kita merdeka di bendera, tetapi terjajah di selera.

 

Jangan sampai kita berdaulat di peta, tetapi kehilangan kendali atas meja makan.

 

Jangan sampai tanah kita menghasilkan rempah, tetapi nilai tambahnya pergi ke tempat lain.

 

Jangan sampai resep leluhur kita hanya menjadi dekorasi menu, sementara produk dengan identitas asing mendapatkan panggung utama.

 

Jangan sampai anak Indonesia lebih mengenal makanan global daripada makanan dari kampung halaman orang tuanya sendiri.

 

Dan jangan sampai kita menyebut semuanya sebagai “kemajuan” ketika sesungguhnya kita sedang melupakan siapa diri kita.

 

 

SAYA TIDAK INGIN MEMERANGI DUNIA

 

Saya ingin kita berdiri sejajar dengan dunia.

 

Pelajari Prancis.

 

Pelajari Jepang.

 

Pelajari China.

 

Pelajari Korea.

 

Pelajari Amerika.

 

Pelajari teknik, teknologi, manajemen, branding dan sistem mereka.

 

Kemudian:

 

pulanglah ke dapur Indonesia.

 

Gunakan ilmu itu untuk mengangkat rendang.

 

Untuk mengembangkan sambal.

 

Untuk membawa pempek.

 

Untuk memodernisasi rawon.

 

Untuk mengemas papeda.

 

Untuk mengembangkan pangan Maluku.

 

Untuk mengangkat makanan Papua.

 

Untuk membawa kekayaan Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara dan seluruh kepulauan Indonesia ke meja dunia.

 

Jangan menjadi tiruan terbaik dari bangsa lain.

 

Jadilah versi terbaik dari Indonesia.

 

 

MARI KITA ANGKAT SENJATA

 

Saya, Jawel Husin — The Singing Chef, mengajak kita mengangkat senjata.

 

Bukan senjata untuk membunuh.

 

Tetapi senjata untuk menghidupkan kembali ingatan.

 

Pisau chef.

 

Wajan.

 

Tungku.

 

Sendok.

 

Buku.

 

Kamera.

 

Kurikulum.

 

Riset.

 

Teknologi.

 

Modal.

 

Merek.

 

Dan keberanian.

 

Mari kita dokumentasikan resep yang hampir hilang.

 

Mari kita cari para penjaga tradisi sebelum mereka pergi tanpa meninggalkan catatan.

 

Mari kita ajarkan sejarah makanan kepada anak-anak.

 

Mari kita bangun sekolah kuliner yang tidak malu menjadi Indonesia.

 

Mari kita jadikan hotel sebagai etalase Nusantara.

 

Mari kita jadikan bandara sebagai pintu masuk rasa Indonesia.

 

Mari kita jadikan restoran sebagai pusat diplomasi budaya.

 

Mari kita jadikan pangan lokal sebagai kekuatan ekonomi.

 

Dan mari kita bangun merek kuliner Indonesia yang tidak meminta dunia mengasihaninya, tetapi membuat dunia mencarinya.

 

 

KARENA KEMERDEKAAN SEBENARNYA JUGA ADA DI ATAS PIRING

 

81 tahun setelah Proklamasi, mungkin perjuangan kita tidak lagi tentang mengusir tentara asing.

 

Perjuangan kita adalah memastikan bahwa identitas Indonesia tidak perlahan-lahan terkikis oleh ketidakpedulian kita sendiri.

 

Kemerdekaan bukan berarti menolak dunia.

 

Kemerdekaan berarti tidak kehilangan diri ketika berhadapan dengan dunia.

 

Dan kuliner adalah salah satu wajah paling nyata dari diri itu.

 

Sebab ketika kita kehilangan makanan, kita bukan hanya kehilangan rasa.

 

Kita kehilangan bahasa.

 

Kita kehilangan pengetahuan.

 

Kita kehilangan sejarah.

 

Kita kehilangan ekonomi.

 

Dan pada akhirnya:

 

kita kehilangan sebagian dari diri kita sendiri.

 

 

AKU MEMASAK UNTUK INDONESIA

 

Karena itu saya memilih kalimat yang sederhana:

 

AKU MEMASAK UNTUK INDONESIA.

 

Bagi saya, itu bukan sekadar judul lagu.

 

Itu adalah sikap.

 

Sebuah pernyataan bahwa dapur dapat menjadi medan perjuangan.

 

Bahwa chef dapat menjadi penjaga warisan.

 

Bahwa resep dapat menjadi dokumen sejarah.

 

Bahwa makanan dapat menjadi diplomasi.

 

Dan bahwa satu piring dapat membawa nama sebuah bangsa jauh melampaui batas negaranya.

Saya tidak ingin Indonesia hanya dikenal karena memiliki ribuan makanan.

 

Saya ingin dunia mengenal Indonesia karena Indonesia mampu membuat ribuan makanan itu bernilai, bermartabat dan berdaya saing.

17 AGUSTUS 2026

Pada ulang tahun ke-81 Republik Indonesia, mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya:

 

“Apa yang dunia pikirkan tentang makanan Indonesia?”

 

Dan mulai bertanya:

 

“Apa yang kita pikirkan tentang makanan kita sendiri?”

 

Jika jawabannya masih minder, perjuangan kita belum selesai.

 

Jika jawabannya masih menganggap lokal sebagai kelas dua, perjuangan kita belum selesai.

Jika kita masih merasa sesuatu menjadi berharga setelah orang asing mengatakannya berharga, perjuangan kita belum selesai.

Tetapi jika kita mulai percaya—

Jika chef mulai bangga.

Jika sekolah mulai serius.

Jika hotel mulai membuka ruang.

Jika industri mulai berinvestasi.

Jika pemerintah mulai melihat pangan sebagai strategi kebudayaan dan ekonomi.

Jika orang tua mulai mewariskan resep.

Jika anak-anak mulai mengenal rasa daerahnya.

Jika pengusaha berani membawa makanan Nusantara ke dunia

maka mungkin saat itu kita benar-benar sedang merdeka.

Bukan karena kita menyingkirkan makanan dunia.

Tetapi karena kita akhirnya mampu berkata dengan kepala tegak:

“Silakan dunia datang ke Indonesia. Tetapi ketika kalian duduk di meja kami, kami punya cerita sendiri untuk disajikan.”

 

MERDEKA BANGSANYA.

MERDEKA BUDAYANYA.

MERDEKA DAPURNYA.

MERDEKA KULINERNYA.

Dan perjuangan itu dimulai dari tempat paling sederhana:

 

DAPUR.

 

Jawel Husin

The Singing Chef

News Feed