Dari Fak-Fak untuk Nusantara: Pesan Moral dan Amanah Leluhur bagi Para Pemangku Adat

Budaya, Daerah309 views

[ Foto: Istimewa ]

 

FAK-FAK, KESBANG|| NEWS— Sebuah seruan moral dan spiritual yang sarat nilai adab, sejarah, serta amanat leluhur disampaikan oleh Ustadz Dano JS (Jouguru) dalam refleksi kebangsaan bertajuk “Seruan Menjaga Titah Langit dan Sabda Bumi.” Seruan tersebut ditujukan kepada para Sultan, Raja, Datu, Pangeran, dan seluruh pemangku adat sebagai pewaris matahari peradaban Nusantara.

Dalam pesannya, Ustadz Dano JS menegaskan bahwa kejayaan adat dan peradaban tidak dapat dipisahkan dari adab, laku, serta kesetiaan kepada titah leluhur dan sabda alam. Ia mengingatkan bahwa sebuah ikrar adat bukan sekadar pernyataan formal, melainkan sumpah suci yang lahir dari ketundukan batin dan tanggung jawab spiritual terhadap bangsa, alam, dan generasi mendatang.

Menurutnya, momentum bersejarah pada 16 Februari 2011 di Pelabuhan Ratu, saat berlangsungnya Upacara Agung Diraja Nusantara, menjadi tonggak penting dalam peneguhan nilai-nilai adat dan kebangsaan. Dalam peristiwa itu, Sri Paduka Maha Raja Kutai Mulawarman disebut telah menandatangani prasasti Trasty, Dinasty, Panca Prabu dan Saptanegara sebagai simbol ikrar kebangsaan dan amanah peradaban.

“Ikrar bukan lahir dari ego yang meledak, melainkan dari taqzim yang menunduk. Peradaban yang tidak dibangun di atas adab, akan diadili oleh sabda alamnya sendiri,” tulis Ustadz Dano JS dalam seruannya.

Ia juga menegaskan bahwa modernitas dan kecanggihan teknologi tidak dapat menggantikan kesakralan ritual, seremonial adat, dan nilai-nilai penghormatan kepada leluhur. Menurutnya, tahta dan mahkota hanya akan memiliki makna apabila dijalankan dengan laku, tanggung jawab, serta keteladanan moral.

Dalam narasi tersebut, Majelis Adat Indonesia (MAI) disebut bukan lahir dari kehendak pribadi ataupun kepentingan kelompok, melainkan sebagai amanah yang bersumber dari titah para Raja dan kedaulatan leluhur Nusantara.

Karena itu, seluruh unsur adat diingatkan agar menjaga MAI sebagai rumah kebudayaan yang berpijak pada kemuliaan adab, bukan sekadar simbol atau formalitas organisasi.

Seruan tersebut juga menyinggung tantangan zaman modern, mulai dari krisis moral, pemanasan global, hingga tercerabutnya generasi muda dari akar budaya. Para pemangku adat diminta tidak hanya menyandang gelar kebangsawanan, namun juga menjadi penjaga nilai, penjaga bumi, dan penjaga martabat peradaban.
“Adab adalah akar dari peradaban. Tanpa adab, budaya hanya akan tinggal tulisan tanpa cerita,” tegasnya.

Dalam kaitannya dengan sejarah dan kedaulatan adat di Tanah Papua, Ustadz Dano JS yang disebut sebagai generasi ke-11 dari Sri Sultan Saifudin Kaicil Golofino (Jou Kota) dari Kesultanan Tidore turut mengingatkan kembali jejak historis hubungan Kesultanan Tidore dengan Papua.
Ia menuturkan bahwa mahkota para Ondoafi di Papua bukan sekadar simbol adat, melainkan lambang kedaulatan dan warisan sejarah Kesultanan Tidore. Sebutan Ondoafi dan Ondofolo disebut berasal dari bahasa Tidore yang berarti “Tuan Tanah,” sementara istilah Maroke bermakna “Batas Wilayah.”

Dalam catatan sejarah tersebut, disebutkan bahwa Sri Sultan Saifudin Kaicil Golofino pada tahun 1667 pernah menancapkan patok batas antara Irian Barat dan Irian Timur dalam peristiwa yang dikenal sebagai “Garis Api.” Peristiwa itu turut disaksikan para Ondoafi besar dari Sentani dan Tobati, Jayapura, sebagai saksi adat dan saksi peradaban.

Narasi itu menegaskan bahwa sejarah, adat, dan kedaulatan Nusantara dibangun bukan hanya oleh kekuasaan politik, tetapi juga oleh amanah spiritual, penghormatan kepada alam, serta kesetiaan terhadap warisan leluhur.

Menutup seruannya, Ustadz Dano JS mengajak seluruh pemangku adat Nusantara untuk kembali meneguhkan laku dan adab dalam membangun peradaban bangsa.

“Peradaban yang tak diridhai langit, bumi, leluhur, dan Sang Khalik, hanya akan menjadi prasasti yang lapuk sebelum dibaca oleh zaman,” pungkasnya.
Kota Pala Fak-Fak, Papua Barat Sabtu, 09 Mei 2026.

Editor : Endi S

News Feed