Di usia senj4nyA yang ke-60 tahun, Abah Mamad menjal4ni hidvp dalam suny1… ben4r2 sendiri, tanpa satu pun keluarga di sisinya.

Umum112 views

l

Ia hanya bertedvh di sebuah gubvk sederhana yang bahkan bukan miliknya—sekadar menump4ng di lahan tetangga, berl1ndvn9 dari pan-as yang membak4r dan hujan yang mengguyvr tanpa ampun. Tempat itu jauh dari kata lay4k… tapi itulah satu-satunya “rumah” yang ia punya saat ini.

Padahal, Abah bukan tanpa keluarga. Ia memiliki seorang an4k.
Namun selama lebih dari 20 tahun… tak pernah sekalipun sang an4k datang menjenguk, atau sekadar memberi kabar.
Sejak saat itu, Abah belajar menel4n sepi… menjalani hari-hari panjang seorang diri, tanpa tempat bersand4r di ker4snya kehidup4n.

Untuk bertah4n hidvp, Abah berkeliling menjajakan es nongnong.
Bukan miliknya sendiri… hanya titipan orang lain.
Keuntungan yang ia dapatkan sangatlah kecil, bahkan sering kali tak cukup untuk sekadar mengisi Peru’t.
Pernah… selama tiga hari berturut-turut, Abah tidak makan sama sekali, karena tak memiliki uan9 sedikit pun.

Tubvhnya semakin lem4h, langkahnya semakin Ber4t…
Namun Abah tetap mem4ksa diri untuk berjalan, menyusvri kampung demi kampung.
Ia tahu, jika ia berhenti… maka harapan hidup itu pun ikut berhenti.

Di balik senyumnya yang tipis, Abah menahan sakit yang tak kunjung diobati.
Ada benj0l4n di leh3rnya, dan peny4kit serius di bagian atas matanya yang diduga k4nk3r.
Namun hingga hari ini, ia belum pernah merasakan peng0b4t4n … karena keterbat4san bi4ya yang begitu menghimpit.

Hari demi hari, Abah Mamad terus berjalan pelan…
Menjual es sambil menahan lapar, menahan sak1t, dan menah4n sepi yang tak berujung.

Sendiri…
Dengan satu harapan sederhana yang mungkin tak pernah ia ucapkan keras-keras—
agar esok hari… ia masih bisa bertah4n hidvp.

News Feed