Dikenal Sebagai Komandan Kopassus yang Amat Sederhana dan Religius, Tokoh Visioner Ini Sukses Meniti Karier hingga Dipercaya Menjadi Menteri Dalam Negeri.

Nasional, Umum610 views

 

Menorehkan pengabdian yang berdampak panjang bagi pembangunan bangsa membutuhkan perpaduan antara disiplin militer yang kokoh, kepekaan sosial seorang birokrat, serta keteladanan moral yang luhur. Ketika seorang perwira tinggi pasukan elite pelindung negara mampu memimpin daerah administrasi terbesar di Indonesia dengan bersih, namanya tidak hanya dihormati di atas kertas, tetapi juga melekat erat dalam memori kolektif masyarakat melalui karya-karya nyata yang melintasi zaman. Profil pemimpin yang bersahaja, visioner, dan berwibawa inilah yang melekat kuat pada diri Letnan Jenderal TNI (Purn.) Raden Mohammad Yogie Suardi Memet, mantan Komandan Jenderal Kopassus dan Menteri Dalam Negeri ke-20 Republik Indonesia.

Lahir di Cirebon, Jawa Barat pada 16 Mei 1929, Yogie merupakan anak keempat dari 11 bersaudara dari pasangan Raden Memet Bratasoeganda dan Alniyah. Sejak usia belia, jiwa patriotisme beliau telah bergejolak hebat. Di tengah kobaran api Revolusi Kemerdekaan tahun 1945, beliau mengambil langkah berani untuk terjun langsung membela kedaulatan Ibu Pertiwi dengan bergabung sebagai anggota Tentara Pelajar (TP) Batalyon 400 di Cirebon. Pilihan hidup di masa remaja yang penuh dengan risiko dan keterbatasan ini menjadi kawah candradimuka pertama yang menempa mentalitas kepemimpinan dan kedisiplinan bajanya.

Selepas masa perang kemerdekaan fisik, beliau memantapkan kariernya di lingkungan TNI Angkatan Darat dengan menempuh berbagai pendidikan militer elite, mulai dari Sesarcabif, Dik PARA, Sekolah Komando, SSKAD, hingga Sesko ABRI. Keahlian taktis dan ketangguhan lapangannya membawa beliau masuk ke dalam korps elite baret merah, Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha/kini Kopassus). Karier militernya melesat secara organik melalui berbagai posisi strategis, di antaranya sebagai Komandan Batalyon 330/Kujang Kodam VI/Siliwangi (1964–1965), Komandan Brigade Infanteri 15/Tirtayasa (1970–1973), Wakil Komandan Kopassandha (1973–1975), hingga puncaknya dipercaya menjabat sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassandha periode 1975–1978. Selama memimpin pasukan elite ini, beliau tidak hanya dikenal karena ketegasannya dalam operasi tempur seperti Operasi Seroja, tetapi juga sangat disegani oleh jajaran prajurit karena gaya hidupnya yang sangat sederhana dan religius.

Setelah menuntaskan pengabdian militernya sebagai Panglima Kodam VI/Siliwangi (1978–1983) dan Panglima Komando Wilayah Pertahanan (Pangkowilhan) II (1983–1985), titik balik besar dalam karier sipilnya dimulai ketika beliau memasuki masa pensiun dengan pangkat Letnan Jenderal TNI. Beliau turun gelanggang mengikuti kontestasi Pilkada dan sukses terpilih menjadi Gubernur Jawa Barat ke-10 pada tahun 1985. Kepemimpinannya yang bersih dan mengayomi membuat masyarakat Jawa Barat mempercayainya untuk memimpin selama dua periode berturut-turut hingga tahun 1993.

Salah satu peninggalan legendaris beliau yang masih dirasakan manfaatnya oleh jutaan masyarakat hingga hari ini adalah penggagasan pembangunan jalur logistik dan transportasi strategis yang dinamakan Jalan Transyogi. Jalur utama ini dibangun untuk menghubungkan Kota Administratif Jakarta Timur dengan Kabupaten Bogor, yang pada awalnya dirancang guna mendukung rencana pemindahan ibu kota negara ke kawasan Jonggol.

Keberhasilan besar Yogie dalam memimpin dan menstabilkan dinamika di Jawa Barat membuat Presiden Soeharto mempercayainya masuk ke dalam jajaran kabinet eksekutif pusat. Pada 17 Maret 1993, beliau resmi dilantik menjadi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) pada Kabinet Pembangunan VI. Posisi krusial ini diembannya dengan penuh tanggung jawab dalam mengawal sistem politik dalam negeri serta pembinaan aparatur daerah di seluruh Nusantara hingga menjelang masa transisi reformasi pada Maret 1998. Pengabdian sipilnya kemudian digenapi dengan menjabat sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dari tahun 1998 hingga lembaga tersebut dibubarkan pada Juli 2003.

Suami dari Emmy Sariamah serta ayah dari dua anak ini wafat pada Kamis, 7 Juni 2007 di Rumah Sakit Advent Bandung dalam usia 78 tahun akibat penyakit gagal ginjal kronis. Hingga akhir hayatnya, beliau tetap teguh mempertahankan prinsip kesederhanaannya, bahkan sempat menolak tawaran dari pemerintah untuk berobat ke luar negeri di Belanda. Beliau dilepas dengan penghormatan kenegaraan penuh oleh pihak keluarga dan para kolega, termasuk mantan Gubernur Jawa Barat Nana Nuriana yang setia mendampingi di saat-saat terakhirnya. Perjalanan hidup Letjen Yogie Suardi Memet memberikan keteladanan yang mendalam, bahwa pangkat tinggi dan jabatan kekuasaan yang besar bukanlah alasan untuk hidup bermewah-mewah, melainkan sebuah amanah suci untuk mengalirkan kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Sumber: Diolah dari Wikipedia
#YogieSuardiMemet #TNI #TNIAD #Kopassus #GubernurJabar #MenteriDalamNegeri #Transyogi #InspirasiTokoh #Bandung

News Feed