DOA DI UJUNG SENJA*

Budaya100 views

 

Penulis: TEUKU HUSAINI

Rina duduk di tepi jendela, menatap senja yang perlahan meredup di ufuk barat. Warna merah keemasan yang membungkus langit seakan mencoba menenangkan hatinya, tapi hati itu tetap kosong. Lima tahun sudah ia dan Arif menikah, lima tahun pula mereka menunggu kehadiran seorang anak, namun doa mereka seolah terhenti di udara.
Setiap bulan Rina menunggu dengan harapan, setiap bulan pula kecewa menyelimuti hatinya. Dokter selalu mengatakan sabar, tapi kata itu terasa begitu berat ketika ia melihat teman-temannya bergantian membawa pulang bayi, tersenyum bahagia bersama keluarga kecil mereka. Sementara Rina, hanya bisa tersenyum dan menahan air mata yang tak pernah habis.
Arif, suaminya, selalu berusaha kuat di hadapannya. Senyum yang ia tunjukkan kepada Rina seringkali menutupi rasa bersalah yang mendalam. Ia ingin melindungi Rina dari kesedihan, tapi di dalam dirinya sendiri, ia juga merasakan kehilangan yang sama.
“Mungkin memang belum waktunya, Rin,” kata Arif suatu malam, suara lembutnya bergetar ketika ia menggenggam tangan Rina. Air mata Rina jatuh menetes di telapak tangan itu, dan Arif hanya bisa memeluknya erat. Dalam pelukan itu, mereka menangis bersama—menangis atas harapan yang tertunda, atas rindu yang tak kunjung terpenuhi, dan atas cinta yang tak pernah surut meski diuji begitu lama.
Hari-hari berlalu dengan lambat. Malam-malam panjang terasa semakin sunyi. Rina sering berbaring sendiri di kamar, memeluk bantal sambil membayangkan anak mereka yang tak kunjung lahir. Setiap kali ia menutup mata, ia membayangkan suara tawa kecil, tangan mungil yang menggenggam jarinya, dan pelukan hangat yang hanya bisa diberikan seorang anak. Tapi semua itu masih sebatas mimpi, yang seringkali membuat hatinya hancur.
Arif selalu ada di sisinya. Ia mengajak Rina berbicara, mengalihkan pikirannya dari kesedihan, tapi tak ada yang mampu menghapus rasa hampa itu sepenuhnya. Kadang, mereka duduk bersama di teras rumah, menatap senja yang sama, saling menggenggam tangan tanpa berkata apa-apa. Hanya doa yang terus mengalir di antara mereka.
Suatu pagi, Rina merasakan sesuatu yang berbeda. Hatinya berdebar cepat, campur aduk antara takut dan harap. Ia segera pergi ke dokter, jantungnya seperti ingin meloncat dari dada. Hasil tes menunjukkan… ia hamil. Rina tak bisa menahan air mata. Tapi kali ini, air mata itu bukan air mata kesedihan. Kali ini adalah air mata kebahagiaan, lega, dan rasa syukur yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Arif datang berlari begitu mendengar kabar itu. Mereka berdua menangis dalam pelukan, merasakan keajaiban yang telah lama mereka nantikan. “Akhirnya… doamu terkabul, Rin,” bisik Arif, suaranya serak menahan haru. Rina hanya bisa tersenyum sambil meneteskan air mata, merasakan hangatnya cinta dan harapan yang kembali hadir dalam hidup mereka.
Kehamilan Rina penuh dengan ketakutan. Setiap gerakan kecil di perutnya membuat hatinya berdebar. Arif selalu menenangkan, selalu ada untuknya, menjaga setiap malamnya agar rasa cemas tak menguasai. Hari demi hari berlalu, dan mereka tetap berharap, tetap berdoa, tanpa pernah menyerah.
Akhirnya, hari yang mereka nantikan pun tiba. Rina dibawa ke rumah sakit dengan hati yang campur aduk antara takut dan bahagia. Arif memegang tangannya erat, menatap mata istrinya yang basah oleh air mata. “Kita akan melewati ini bersama,” katanya lembut. Rina mengangguk, berusaha tersenyum meski rasa sakit mulai menyelimuti tubuhnya.
Tangisan pertama terdengar, menandai lahirnya seorang bayi laki-laki. Rina menatapnya dengan mata berkaca-kaca, merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan. Belum sempat lega sepenuhnya, terdengar lagi tangisan kedua—seorang bayi perempuan lahir ke dunia. Rina dan Arif menatap sepasang anak mereka, hati mereka seakan meledak dengan kebahagiaan.
Arif memeluk Rina, tak bisa berkata-kata. Ia meneteskan air mata, merasakan semua penderitaan, semua doa yang tak henti-hentinya, kini menjadi nyata dalam wujud kedua bayi yang sehat. “Namakan mereka… seperti harapan kita,” kata Rina sambil tersenyum, suara lembutnya menggetarkan hati Arif. Mereka pun memilih nama yang indah, penuh makna dan doa, sebagai simbol cinta dan perjuangan yang telah mereka lalui.
Hari-hari berikutnya dipenuhi tawa, tangisan, dan kebahagiaan yang menggantikan sunyi rumah mereka. Rina dan Arif belajar kembali arti kesabaran, arti cinta yang tak tergantikan, dan arti syukur yang tak ternilai harganya. Mereka merasakan kebahagiaan sederhana yang selama ini hanya mereka impikan—dua anak yang kini melengkapi hidup mereka.
Ketika senja datang lagi, Rina duduk di teras rumah, menatap langit yang sama seperti dahulu. Tapi kali ini hatinya berbeda. Hatinya penuh damai, penuh cinta, dan penuh syukur. Doa di ujung senja mereka akhirnya terkabul. Tidak hanya satu, tapi dua berkah kecil yang menjadi simbol keteguhan cinta, kesabaran, dan harapan yang tak pernah padam.
Rina memandang Arif, tersenyum lembut. Arif membalas dengan tatapan penuh cinta. Di antara tawa bayi mereka yang bergema di rumah kecil itu, keduanya tahu satu hal: perjuangan mereka tidak sia-sia. Semua air mata, semua doa, semua kesedihan yang mereka lalui kini berubah menjadi kebahagiaan yang tak tergantikan.
Dan di ujung senja itu, di rumah yang dipenuhi suara tawa, doa mereka menjadi nyata. Sepasang anak yang mereka tunggu selama bertahun-tahun kini ada di pelukan mereka. Hidup mereka, yang dulu hampa dan penuh kesedihan, kini lengkap dan penuh cinta.(Sinyalgonenes.com)
Tamat

News Feed