Kesbangnews.com – Forum organisasi pemuda Islam bersama Prof. Sudarnoto, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, serta Yunus Emre Institute sebagai pusat kebudayaan Turki di Indonesia, dapat menjadi ruang strategis untuk mendorong penguatan hubungan diplomasi multilateral Indonesia–Turki, khususnya di bidang kebudayaan, pendidikan, dan kerja sama antarmasyarakat.
Gagasan ini menempatkan pemuda Islam bukan hanya sebagai penerus kepemimpinan bangsa, tetapi juga sebagai aktor diplomasi masyarakat (people-to-people diplomacy) yang mampu membangun jembatan persahabatan, memperluas dialog antarbangsa, serta memperkuat pemahaman terhadap identitas dan nilai-nilai kebudayaan kedua negara.
Kebudayaan memiliki peran penting dalam hubungan internasional karena diplomasi tidak hanya berlangsung melalui pertemuan antarpemerintah, tetapi juga melalui pertukaran pengetahuan, bahasa, seni, sejarah, pendidikan, dan interaksi masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, hubungan Indonesia–Turki dapat dikembangkan menjadi kemitraan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Yunus Emre Institute dapat menjadi salah satu mitra penting dalam pengembangan agenda tersebut, terutama melalui pembelajaran bahasa Turki, pertukaran budaya, program pendidikan, serta forum dialog yang mempertemukan pemuda, akademisi, tokoh agama, dan komunitas masyarakat dari kedua negara.
Pengalaman kerja sama Yunus Emre Institute dengan sejumlah lembaga pendidikan dan organisasi di Indonesia menunjukkan adanya ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Kerja sama dengan Universitas Islam Internasional Indonesia, misalnya, mencakup pembelajaran bahasa Turki dan penguatan pertukaran kebudayaan.
Dalam konteks tersebut, forum organisasi pemuda Islam dapat mendorong terbentuknya agenda diplomasi yang tidak berhenti pada diskusi, tetapi dilanjutkan melalui program diplomacy. Di antaranya ialah forum pemuda Indonesia–Turki, pertukaran pelajar dan pemimpin muda, dialog lintas agama dan kebudayaan, festival seni dan tradisi, kolaborasi riset, serta penguatan jejaring organisasi masyarakat sipil.
Lebih jauh, kerja sama kebudayaan juga dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas kolaborasi multilateral dalam isu-isu kemanusiaan, perdamaian dunia, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan. Indonesia dan Turki memiliki ruang untuk memperkuat koordinasi di berbagai forum internasional, termasuk dalam mendorong penyelesaian konflik secara damai dan memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang.
Arah tersebut sejalan dengan asta cita indonesia politik bebas aktif menguatkan hubungan multilateral dan dengan dokumen Rencana Strategis KBRI Ankara 2025–2029 yang memuat upaya memperkuat kerja sama Indonesia–Turki di tingkat multilateral, mendukung perdamaian dunia, serta memperluas kemitraan akademisi dan lembaga pemikir kedua negara.
Karena itu, sinergi antara organisasi pemuda Islam, MUI, dan Yunus Emre Institute dapat diarahkan untuk membangun diplomasi kebudayaan yang inklusif, produktif, dan berorientasi jangka panjang. Pemuda menjadi penggerak jejaring masyarakat, tokoh agama memperkuat landasan moral dan dialog kemanusiaan, sementara lembaga kebudayaan membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarbangsa.
Diplomasi Indonesia–Turki perlu dibangun tidak hanya melalui hubungan resmi antarpemerintah, tetapi juga melalui kedekatan antarmasyarakat.
Dengan kebudayaan sebagai jembatan, pemuda Islam dapat mengambil peran dalam memperkuat persahabatan kedua negara sekaligus memperluas kontribusi Indonesia bagi perdamaian dan kerja sama global.














