Dunia mengenalnya sebagai “The Grand Old Man”.

Tokoh24 views

Diplomat jenius yang menguasai
9 bahasa asing.
Pria yang disegani lawan debatnya
di Liga Bangsa-Bangsa (PBB).
Dialah H. Agus Salim.
Tapi di balik jas mentereng dan rokok kreteknya, tersimpan kehidupan asli yang jauh dari kata mewah.
Bahkan bisa dibilang…
sangat melarat untuk ukuran seorang pejabat negara.

Di balik keteguhan Agus Salim,ada wanita luar biasa bernama Zainatun Nahar.
Ia bukan istri pejabat yang sibuk arisan atau pamer perhiasan.
Zainatun adalah wanita yang rela hidup “nomaden”.
Selama mendampingi suaminya, mereka tidak pernah punya rumah pribadi.
Mereka berpindah-pindah dari satu kontrakan sempit ke kontrakan lain
di gang-gang becek Jakarta
(Tanah Abang, Jatinegara, Karet)

Gaji Agus Salim sebagai pejabat seringkali habis untuk perjuangan dan sedekah.
Saking sulitnya ekonomi mereka, Zainatun sering harus memutar otak agar anak-anaknya bisa makan.
Pernah suatu hari, tidak ada uang belanja.
Zainatun tidak mengeluh, Ia mengolah apa yang ada.
Ia tetap tersenyum menyambut suaminya pulang, meski di meja makan hanya ada nasi dan kecap.

Kisah paling legendaris terjadi saat mereka tinggal di kontrakan gang sempit di Tanah Abang.
Saat itu hujan deras, Atap rumah mereka bocor parah, Air masuk ke ruang tamu.
Kebetulan, ada tamu penting
(tokoh pergerakan) yang datang berkunjung.
Apakah Agus Salim malu? Tidak.
Ia justru mengajak istrinya bernyanyi sambil menaruh ember-ember di bawah bocoran air.
Dengan jenaka, Agus Salim berkata pada tamunya:
“Maaf, Nyonya (Zainatun) sedang sibuk mengatur ‘bendungan’, Sebentar lagi kita akan punya kolam renang di dalam rumah.”
Mereka tertawa bersama, Zainatun tidak merasa hina.
Ia justru bangga. Bahwa kemiskinan harta tidak bisa merampas kebahagiaan dan harga diri keluarga mereka.

Sebenarnya mudah saja bagi Agus Salim menerima “hadiah” rumah atau uang dari kawan-kawannya.
Tapi ia dan Zainatun sepakat menolaknya.
Mereka memegang prinsip “Leiden is Lijden”: Memimpin itu Menderita.
Mereka tak mau hidup enak dari fasilitas negara, sementara rakyatnya masih sengsara.

Hingga Agus Salim wafat pada 4 November 1954, ia tetap tak punya rumah sendiri.
Ia mewariskan nama besar, tapi tidak mewariskan harta benda.
Zainatun melepas kepergian suaminya dengan tegar.
Ia tahu, suaminya adalah “Mutiara” yang tak perlu dibungkus kotak emas untuk tetap bersinar.

Kisah mereka adalah tamparan bagi kita hari ini.
Di saat banyak orang mengukur kebahagiaan pernikahan dari kemewahan rumah dan mobil.
Agus Salim dan Zainatun mengajarkan bahwa:
Cinta sejati itu adalah keberanian untuk hidup susah bersama, tanpa kehilangan rasa hormat satu sama lain.
Terima kasih..
Pak Salim & Ibu Zainatun.

https://chat.whatsapp.com/FlVLWwcUPtW0IEPV5WSl19

Sumber: Arsip peristiwa
#HjAgussalim
#Pahlawan
#Indonesia
#OrangMinang
#catatanSejarah

News Feed