Ekoteologi Upaya Menjaga dan Membersihkan Lingkungan Dari Dalam Diri Sendiri*

Umum123 views

Jacob Ereste :

 

Ekoteologi sebagai bagian dari teologi yang menaruh perhatian pada lingkungan hidup dengan berbasis pada nilai-nilai keagamaan hendak mendorong sikap yang sadar, peduli dan keinginan untuk bertindak melalukan pelestarian dan hasrat untuk menjaga alam. Meski dalam tradisi dan budaya suku bangsa Indonesi — seperti duku bangsa Badui dan kepercayaan suku bangsa Sunda seperti dalam sistem kepercayaan Sunda Wiwitan, alam dan manusia tidak dapat dipisahkan dari Sang Maha Pencipta jagat raya ini.

Ekoteologi muncul sebagai respons terhadap krisis lingkungan — seperti kerusakan akibat penebangan hutan, pengerukan isi perut bumi secara brutal serta perang seperti yang yang tengah berkecamuk di Timur Tengah akibat dari keserakahan dan ketamakan Amerika Serikat yang memprovokasi Israel yang ingin berkuasa dan merebut wilayah persengketaan tersebut. Pemikiran tentang ekoteologi muncul pada paruh kedua abad ke-20 akibat keteledoran manusia yang serakah dan rakus, hingga kehilangan kesadaran spiritual dan kontrol moral untuk menjaga lingkungan mulai dari lingkungan rumah tangga, kampung, kota dan negara masing-masing agar dapat lebih baik dan tertib.

Ekoteogi pun erat kaitannya dengan etika seperti yang selalu ditekankan oleh semua agama agar manusia bersikap disiplin, bersih dan menjaga kesehatan. Tetapi realitasnya — meski setiap sholat sudah melakukan pembersihan diri dari berbagai kotoran — tapi dalam kehidupan sehari-hari semua itu menjadi semacam pencitraan belaka. Sebagai contoh, dari tata kelola pemerintahan daerah misalnya, masih cukup banyak sampah yang berserakan di berbagai tempat, bahkan upaya pengangkutan sampah yang hendak dibuang itu pun dilakukan pada siang hari saat jam kerja sedang berada pada puncak kesibukan warga masyarakat melakukan kegiatan rutinnya. Demikian juga dengan fasilitas umum yang tidak terawat. Mulai dari taman kota hingga lampu penerang jalan yang tidak cuma meredup, karena tidak sedikit di tempat-tempat yang rawan tindak kejahatan maupun kecelakaan justru tidak dipenuhi oleh pemerintah daerah terutama di kota-kota sekitar Jakarta, seperti Tangerang, Bekasi hingga Karawang.

Semua itu jelas menjadi semacam cermin diri dari pejabat pemerintah yang cuma asyik dengan kepentingan dirinya sendiri, tiada perduli dengan tugas dan kewajibannya untuk memberikan pelayanan yang maksimal untuk warga masyarakat pada daerahnya masing-masing.

Syahdan, untuk Indonesia, ekoteologi telah diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan agama dengan harapan untuk membangun dan meningkatkan kesadaran ekologis dan pemahaman spiritual warga masyarakat. Lalu peran agama sendiri — yang diboncengi oleh ekoteologi itu perlu dicermati juga, apakah cuma sekedar untuk mempergemuk diri — semacam upaya dari pembengkakan dari anggaran proyek — agar dana yang bisa dikeluarkan menjadi sah dan dapat dianggap halal ?

Padahal jauh sebelumnya — ketika masalah lingkungan belum menimbulkan banyak persoalan — semua agama sudah menitahkan bahwa manusia adalah khalifatullah — wakil.Tuhan di muka bumi. sedangkan amanah yang bersifat ilahiyah pun seperti makna dari rahmatan lil alamin itu sangat luas serta bersifat menyeluruh bagi manusia untuk memiliki kesadaran selama hidup di dunia ini. Karena itu, laku spiritual yang mensyaratkan untuk bersih hati, bersih pikiran — meliputi seluruh aspek sesungguhnya merupakan ekspresi dari sikap dan sifat yang meliputi lahir dan batin. Atas dasar itulah, gerakan percepatan kebangkitan dan kesadaran spiritual bagi bangsa Indonesia untuk memposisikan diri sebagai motor pergerakan sekaligus menjadi pusat kajian, pengembangan dari spiritual untuk bangsa-bangsa yang ada di dunia, patut dan wajib untuk lebih siap memposisikan diri sebagai arsitek dari pembangunan peradaban dunia yang baru. Harmoni, guyub, rukun dan damai seperti upaya bersama mencegah birahi dalam perang, hanya untuk menggagahi pihak yang lain.

Egosentrisitas yang lebih bersifat individualistik ini, harus direndam bersama seperti upaya kita untuk menjinakkan ideologi kapitalisme dengan memulainya dari diri sendiri. Jadi dalam perspektif spiritual, ekoteologi itu semacam upaya menjaga dan membersihkan lingkungan dari dalam jiwa dan batin kita sendiri, tanpa perlu untuk mempersalahkan pihak manapun.

 

Banten, 3 April 2026

News Feed