Feby Oktafianto, Walinagari Airhaji Barat Modal Rp6 juta Terpilih Jadi Wali

Umum47 views

Feby Oktafianto, Walinagari Airhaji Barat
Modal Rp6 juta Terpilih Jadi Wali

Talenta muda kita ini bernama Feby Oktafianto lahir dan tumbuh di Labuhan Tanjak, Air Haji. Ia dibesarkan oleh seorang ibu tunggal yang menjadi penopang utama hidup keluarga. Dalam keterbatasan ekonomi, satu hal yang tak pernah kurang adalah doa. Doa seorang ibu yang diam-diam menembus langit.

Selepas tamat MAN pada 2008, Feby menyimpan mimpi sederhana: kuliah. Namun keadaan berkata lain. Ibunya tidak mengizinkan, bukan karena tak sayang, melainkan karena tak sanggup. Sebagai anak, ia memilih patuh. Keputusan itu ia telan dalam-dalam, meski keinginan belajar tak pernah padam.

Ia lalu menempuh pendidikan nonformal di Padang, di sebuah lembaga keterampilan. Hidup berjalan. Ia berdagang, menjadi perangkat nagari, aktif di Bamus, menjadi Ketua Komite Sekolah, hingga akhirnya pada 2021 dipercaya masyarakat sebagai Wali Nagari Air Haji Barat.

Feby yang dulu tak bisa kuliah, justru menjadi orang yang meyakinkan sebuah perguruan tinggi untuk mendirikan kampus permanen di kampungnya sendiri. Tahun 2023, STKIP Pesisir Selatan resmi berpindah dan membangun di Nagari Air Haji Barat—hasil dari koordinasi panjang, dialog dengan masyarakat, dan keyakinan bahwa pendidikan tak boleh jauh dari rakyat kecil.

“Barangkali Allah memang tidak mengizinkan saya kuliah dulu,” ujarnya suatu ketika. “Karena Allah tahu, suatu hari saya akan berjuang agar adik-adik di nagari tidak risau lagi soal kuliah.”

Kini, ratusan anak Pesisir Selatan dapat menempuh pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan kampung, tanpa membebani orang tua secara berlebihan. Kampus itu bukan sekadar bangunan—ia adalah jawaban dari doa yang tertunda.

Dalam politik nagari, Feby memilih jalan yang sunyi. Biaya pencalonannya sebagai wali nagari tak sampai Rp6 juta. Stiker kampanye dicetak sendiri bersama istri, menggunakan printer mertua. Bahkan sebulan sebelum pemilihan, ia diuji lebih berat: anak pertamanya dirawat di RSUP M Djamil selama 23 hari.

“Jabatan itu amanah masyarakat,” katanya, “tapi anak adalah amanah Allah.”

Kalah dalam pemilihan, baginya hanya sedih seminggu. Kehilangan anak, penyesalan seumur hidup.

Terpilih sebagai wali nagari, Feby membawa satu prinsip utama: nagari bukan milik pejabat, tapi milik seluruh warganya. Ia membuka anggaran, menempelkan APB Nagari di ruang publik, mempublikasikan setiap rupiah dana nagari melalui website dan media sosial. Transparansi bukan slogan, melainkan kebiasaan.

Hasilnya nyata. Nagari Air Haji Barat berulang kali meraih penghargaan keterbukaan informasi publik—dari tingkat kabupaten hingga provinsi Sumatera Barat, termasuk dua kali Juara I Tingkat Provinsi.

Kini, di sela kesibukannya sebagai wali nagari, Feby kembali duduk sebagai mahasiswa melalui Program RPL Universitas Terbuka. Ia melanjutkan mimpi lama—setelah restu ibu dan istri.

Bagi Feby Oktafianto, pendidikan adalah kewajiban, bukan kemewahan. Dan kepemimpinan bukan tentang kuasa, melainkan tentang memastikan tak ada lagi anak nagari yang harus mengubur mimpi hanya karena alasan ekonomi.

Di kampung kecil di pesisir selatan Sumatera Barat, doa seorang ibu telah menjelma menjadi cahaya—menerangi jalan banyak anak, jauh melampaui hidup anaknya sendiri.

Saat Feby Oktafianto dilantik sebagai Wali Nagari Air Haji Barat, usianya baru 31 tahun. Di sebagian mata, ia terlalu muda. “Masih anak-anak,” begitu bisik yang kerap terdengar. Jabatan wali nagari, bagi banyak orang, identik dengan usia senja, rambut memutih, dan pengalaman panjang.

Feby memahami keraguan itu. Ia tidak membantah, tidak pula melawan dengan kata-kata keras. Ia memilih menjawab dengan kerja.

Justru karena itulah ia maju. Bukan semata ingin menjadi wali nagari, tetapi ingin mengubah cara pandang. Bahwa politik, bahkan di level nagari, bukan ruang eksklusif orang tua. Bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh umur, melainkan oleh integritas, keberanian, dan kejernihan berpikir.

Ia ingin pemuda tidak lagi merasa gengsi, apalagi takut, untuk terlibat dalam urusan publik. “Kalau nagari terus diserahkan pada pola lama,” katanya, “maka perubahan akan selalu tertinggal.”

Bagi Feby, nagari adalah ruang belajar demokrasi paling nyata. Di situlah pemuda seharusnya hadir, menguji gagasan, mengasah kepemimpinan, dan ikut menentukan arah pembangunan. Ia percaya, masa depan Pesisir Selatan tidak akan lahir dari sikap menunggu, tetapi dari keberanian generasi muda untuk mengambil peran.

Kini, dari Air Haji Barat, Feby mendorong lahirnya wali-wali nagari muda di Pesisir Selatan—pemuda yang aktif, berpikiran tajam, dan peka terhadap kebutuhan masyarakat. Pemuda yang tidak alergi pada transparansi, tidak takut pada kritik, dan tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan akhir.

Waktu pelan-pelan membuktikan: usia boleh muda, tetapi arah kepemimpinan bisa matang. Keraguan yang dulu ada, kini perlahan berubah menjadi pengakuan.

Di nagari itu, seorang pemuda membuktikan bahwa kepemimpinan bukan soal tua atau muda, melainkan tentang keberanian memikul amanah dan kesungguhan melayani.

News Feed