Gagal di Kopassus Tapi Jadi Bintang di Medan Tempur, Kisah Perjalanan Hidup Kivlan Zen ‘Datuak Tanameh’ yang Luar Biasa

Tokoh65 views

 

Gagal di Kopassus Tapi Jadi Bintang di Medan Tempur, Kisah Perjalanan Hidup Kivlan Zen ‘Datuak Tanameh’ yang Luar Biasa

Di panggung militer Tanah Air, nama Mayor Jenderal TNI (Purn.) Kivlan Zen sering kali memantik diskusi hangat. Namun, di balik segala kontroversinya, sejarah mencatat ia sebagai prajurit lapangan sejati dengan “garis tangan” tempur yang luar biasa. Sang Jenderal bergelar Datuak Tanameh ini adalah bukti nyata ketangguhan perantau Minang di medan laga.

Salah satu tinta emas yang sulit dihapus adalah aksinya pada tahun 2016. Tanpa tebusan sepeser pun, Kivlan menjadi otak di balik diplomasi maut yang berhasil membebaskan 18 WNI dari cengkeraman kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina.

Darah Guci dan Semangat Juang Maninjau
Meski lahir di Langsa, Aceh, pada 24 Desember 1946, jati diri Kivlan berakar kuat di Tanah Minang. Ibunya berasal dari Suku Guci di Maninjau, Agam, sementara ayahnya memiliki darah Pakistan-Minang. Perpaduan karakter ini melahirkan sosok yang gigih dan berani berargumen sejak muda.

Jiwa aktivisnya sudah teruji di KAPPI sebelum ia memutuskan mengabdi pada negara melalui Akademi Militer, dan resmi lulus pada tahun 1971.

“Gagal” di Kopassus, Tajam di Papua
Karier Kivlan tidak selalu mulus. Ada kisah menarik saat ia menempuh pendidikan di Kopassandha (Kopassus). Bersama deretan tokoh seperti Subagyo HS dan Muchdi PR, Kivlan nyaris menjadi prajurit baret merah.

Namun, ia dinyatakan tidak lulus pendidikan komando akibat insiden “survival” di Batujajar. Ia tertangkap tangan menyembunyikan makanan—sebuah pelanggaran disiplin berat dalam latihan tersebut. Alih-alih patah semangat, kegagalan itu membawanya ke belantara Papua bersama Yonif 753/Arga Vira Tama. Di sana, mental tempurnya justru terasah lebih tajam dibanding rekan-rekan seangkatannya.

Melesat di Masa Transisi
Kivlan sempat menghabiskan waktu 13 tahun di pangkat Mayor dan Letnan Kolonel karena penugasan panjang di palagan Timor Timur. Namun, bak pegas yang ditekan, kariernya melesat bak meteor setelah mencapai pangkat Kolonel. Hanya dalam waktu 18 bulan, ia sudah menyandang bintang di bahu.

Puncak pengabdiannya tercatat saat menjabat sebagai Kepala Staf Kostrad (Kas Kostrad) di tengah gejolak reformasi 1998. Ia berada di pusat pusaran sejarah saat transisi kekuasaan besar-besaran terjadi di Indonesia.

Diplomasi Tanpa Senjata
Kivlan Zen membuktikan bahwa perang tidak selamanya dimenangkan dengan peluru. Kedekatannya dengan tokoh-tokoh kunci di Filipina Selatan, seperti pimpinan MNLF Nur Misuari, menjadi aset negara yang tak ternilai.

Keberaniannya masuk ke wilayah konflik tanpa pengawalan ketat demi berdialog dengan kelompok bersenjata adalah aksi “diplomasi nyawa” yang jarang dimiliki jenderal lain. Baginya, menyelamatkan nyawa anak bangsa adalah tugas tertinggi, apa pun risikonya.

“Ia adalah kombinasi antara otak ahli strategi dan nyali prajurit komando yang tak pernah padam.” (Wikipedia)

#KivlanZen #JenderalMinang #TNIAD #PahlawanBangsa #TokohMinang #InfoSumbar #SejarahMiliter

News Feed