Gagal mewujudkan cita-cita masa muda menjadi dosen, insinyur ITB ini justru beralih haluan hingga jadi tokoh kunci di panggung politik nasional.

Umum44 views

Gagal mewujudkan cita-cita masa muda menjadi dosen, insinyur ITB ini justru beralih haluan hingga jadi tokoh kunci di panggung politik nasional.

Menakhodai berbagai pos kementerian penting di bawah kepemimpinan presiden yang berbeda membutuhkan kecakapan komunikasi yang luar biasa dan pemahaman makro yang matang.

Di panggung politik modern Indonesia, salah satu tokoh yang dikenal sangat piawai dalam menjembatani berbagai kepentingan politik sekaligus mengelola kebijakan strategis negara adalah Ir. Muhammad Hatta Rajasa. Rekam jejaknya terentang panjang, mulai dari industri perminyakan, parlemen, hingga menduduki kursi menteri koordinator.

Hatta Rajasa lahir di Palembang, Sumatra Selatan, pada 18 Desember 1953. Tumbuh sebagai anak kedua dari 13 bersaudara di tengah keluarga sederhana, beliau dibentuk oleh kedisiplinan yang ketat dari ayahnya yang seorang tentara dan kemudian beralih menjadi PNS.

Kemandiriannya sudah teruji sejak belia. Demi menuntut ilmu, Hatta harus rela berpisah dari orang tuanya sejak menduduki bangku SMP dan SMA untuk tinggal sendiri di Palembang, sementara orang tuanya berada di Ogan Komering Ilir.

Pola hidup mandiri ini berlanjut ketika beliau berhasil menembus salah satu kampus paling prestisius di tanah air, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB), dan mengambil jurusan Teknik Perminyakan pada tahun 1973. Selama menjadi mahasiswa, naluri kepemimpinannya terasah aktif sebagai wakil ketua himpunan jurusan, senator mahasiswa, hingga menjadi aktivis di Masjid Salman Bandung.

Titik awal atau awal karier profesional Hatta sebenarnya jauh dari hiruk-pikuk dunia politik. Selepas meraih gelar insinyur, beliau sempat berniat untuk mengabdi sebagai dosen, namun impian itu terpaksa diurungkan demi membantu perekonomian orang tua dan belasan saudaranya.

Beliau akhirnya terjun ke lapangan sebagai seorang teknisi junior di PT Bina Patra Jaya pada periode 1977-1978. Memulai segalanya dari level bawah di lapangan berlumpur, ketekunan dan latar belakang keilmuannya membuat karier Hatta menanjak cepat. Pada tahun 1980, beliau sudah dipercaya menjadi wakil manajer teknis di perusahaan pengeboran minyak PT Meta Epsi.

Kematangan performa di industri energi membawa Hatta pada sebuah titik balik karier yang sangat gemilang di usia muda. Baru menginjak umur 29 tahun pada tahun 1982, beliau sudah melesat menduduki posisi puncak sebagai Presiden Direktur PT Arthindo.

Beliau sukses menakhodai perusahaan pengeboran minyak swasta tersebut selama hampir dua dekade hingga tahun 2000. Keberhasilan finansial dan manajerial di dunia bisnis inilah yang menjadi fondasi kuat ketika ketertarikan masa mudanya pada dunia pergerakan kembali memanggilnya untuk terjun ke panggung politik praktis seiring lahirnya era reformasi.

Beliau bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN) yang baru berdiri dan langsung dipercaya mengurus Departemen Sumber Daya Alam dan Energi. Pada Pemilu 1999, Hatta sukses terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Bandung dan langsung didaulat menjadi Ketua Fraksi Reformasi.

Kemampuan komunikasinya yang luwes dan kepiawaiannya dalam membangun kesepakatan membuat karier politiknya meroket tajam, baik di internal partai dengan menjadi Sekretaris Jenderal hingga Ketua Umum DPP PAN (2010-2015), maupun di ranah eksekutif pemerintahan nasional.

Kelihaian lobi dan kompetensinya membuat Hatta Rajasa menjadi langganan menteri di berbagai era kepresidenan. Beliau pertama kali masuk kabinet sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) ke-8 di era Presiden Megawati Soekarnoputri (2001-2004).

Memasuki era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, posisinya terus bergeser ke sektor-sektor yang semakin vital: mulai dari Menteri Perhubungan (2004-2007), Menteri Sekretaris Negara (2007-2009), hingga puncaknya sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (2009-2014).

Di akhir masa pengabdiannya di kabinet, beliau sempat maju sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2014 berpasangan dengan Prabowo Subianto. Meski belum berhasil memenangi kontestasi tersebut, peran kebangsaan Hatta tidak meredup, di mana beliau tetap menjadi tokoh penengah yang dihormati untuk mencairkan ketegangan politik antar-koalisi pasca-pemilu.

Perjalanan hidup Hatta Rajasa memberikan sebuah pelajaran berharga: bahwa kedisiplinan dan kemandirian yang dipupuk sejak masa kecil, dikombinasikan dengan keahlian manajerial serta komunikasi yang baik, mampu mengubah seorang teknisi lapangan biasa menjadi salah satu arsitek kebijakan ekonomi dan politik yang sangat diperhitungkan di tanah air.

Sumber: Diolah dari Wikipedia
#HattaRajasa #MenkoPerekonomian #Menristek

News Feed