GPM Siap Kolaborasi dengan GSNI Membumikan Marhaenisme di Kalangan Pelajar

Daerah258 views

 

Yogyakarta, 15 Agustus 2026

Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) dalam membumikan dan menyebarluaskan ideologi Marhaenisme Bung Karno di kalangan pelajar.
Hal tersebut disampaikan Antonius Fokki Ardiyanto, S.IP., Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga DPP Gerakan Pemuda Marhaenis, dalam agenda Pengukuhan DPP GSNI dan Sarasehan Kebangsaan yang dilaksanakan di Wisma KAGAMA UGM Yogyakarta, Sabtu (15/8/202 706).

Dalam sambutannya mewakili DPP GPM, Fokki menyampaikan salam dari Ketua Umum DPP GPM Arya Wedakarna dan Sekretaris Jenderal DPP GPM Putra Naibaho yang berhalangan hadir karena sedang menjalankan tugas lainnya.
“DPP GPM menyampaikan salam dan penghormatan kepada seluruh keluarga besar GSNI. Kami juga menyampaikan selamat atas terpilihnya Bung Fadil sebagai Ketua Umum dan Sarinah Anggun sebagai Sekretaris Jenderal GSNI dalam Kongres GSNI di Surabaya,” ujar Fokki.

Menurut Fokki, GPM memandang GSNI memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran kebangsaan generasi muda karena basis perjuangannya berada di lingkungan sekolah.
“GPM siap berkolaborasi dengan GSNI untuk membumikan dan menyebarkan Marhaenisme Bung Karno sebagai ideologi yang lahir dari rahim sejarah dan realitas kehidupan rakyat Indonesia.

Marhaenisme harus dipahami bukan sekadar sebagai teori, tetapi sebagai cara pandang untuk membaca dan menjawab persoalan konkret rakyat, termasuk persoalan pelajar,” tegasnya.

Dalam kesempatan sebagai narasumber Sarasehan Kebangsaan, Fokki menyampaikan setidaknya ada tiga hal penting yang harus menjadi perhatian GSNI dalam membangun kembali gerakan pelajar.

Pertama, GSNI harus memahami jati dirinya sebagai gerakan politik kesiswaan.
Menurut Fokki, GSNI tidak boleh berhenti sebagai organisasi yang hanya berbicara mengenai aktivitas siswa di sekolah.
“GSNI lahir sebagai sebuah gerakan politik kesiswaan. Artinya, GSNI bukan hanya berbicara tentang siswa sebagai individu, tetapi harus menempatkan siswa sebagai bagian dari gerakan rakyat. Pelajar harus memiliki kesadaran bahwa dirinya merupakan bagian dari realitas sosial dan mempunyai tanggung jawab terhadap persoalan bangsanya,” katanya.

Kedua, Marhaenisme Bung Karno harus menjadi ideologi sekaligus pisau analisis GSNI.
Fokki menegaskan bahwa Marhaenisme tidak boleh hanya menjadi simbol organisasi.
“Kalau ideologi GSNI adalah Marhaenisme Bung Karno, maka Marhaenisme harus menjadi pisau analisis dalam membaca seluruh persoalan kesiswaan. Ketika ada persoalan pendidikan, ketimpangan akses, tekanan sosial, komersialisasi pendidikan, hingga persoalan kesejahteraan dan masa depan pelajar, semuanya harus dibaca dengan perspektif Marhaenisme,” jelasnya.

Ketiga, basis gerakan GSNI berada di sekolah sehingga GSNI harus mampu ‘ajur-ajer’ dengan siswa.
Fokki menekankan pentingnya GSNI membangun kedekatan nyata dengan kehidupan siswa dan melakukan penetrasi gerakan ke lingkungan sekolah.
“Basis gerakan GSNI adalah sekolah. Karena itu GSNI harus ajur-ajer dengan siswa, masuk dan memahami kehidupan mereka, bukan datang sebagai organisasi yang merasa paling tahu. GSNI harus mengetahui apa yang menjadi kegelisahan dan kebutuhan siswa hari ini,” ujarnya.

Salah satu persoalan yang menurut Fokki perlu menjadi perhatian serius adalah kesehatan jiwa pelajar. Tekanan akademik, persoalan keluarga, pergaulan, perkembangan teknologi digital, hingga tuntutan masa depan membuat siswa menghadapi persoalan yang semakin kompleks.
“Misalnya, bagaimana GSNI bisa mendorong agar di setiap sekolah tersedia psikolog yang dapat menjadi teman curhat bagi siswa. Ini bukan persoalan kecil. Anak-anak kita hari ini menghadapi tekanan yang luar biasa dan membutuhkan ruang aman untuk berbicara serta mendapatkan pendampingan,” katanya.

Fokki menambahkan, gerakan pelajar harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi generasi muda. Dengan demikian, GSNI tidak sekadar menjadi organisasi formal di sekolah, tetapi benar-benar hadir sebagai bagian dari perjuangan rakyat.

Sementara itu, dalam agenda yang sama, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo turut menyampaikan sambutan. Hasto menggambarkan generasi muda saat ini sebagai generasi sandwich, yakni generasi yang berada dalam posisi harus menanggung kebutuhan orang tua sekaligus memiliki tanggung jawab terhadap anak dan keluarga.

Menurut Hasto, kondisi tersebut membuat generasi muda menghadapi beban kehidupan yang semakin berat sehingga diperlukan kerja keras, ketangguhan, dan sikap pantang menyerah.

Fokki menilai pesan tersebut relevan dengan perjuangan GSNI.
“Kalau generasi muda menghadapi beban yang semakin berat, maka tugas organisasi seperti GSNI adalah membangun keberanian, solidaritas, daya juang dan kesadaran kolektif. Di situlah Marhaenisme menjadi relevan, karena Bung Karno mengajarkan kita untuk melihat manusia bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari perjuangan sosial untuk membebaskan rakyat dari berbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan,” pungkasnya.

DPP GPM berharap pengukuhan kepengurusan baru GSNI menjadi momentum konsolidasi gerakan pelajar secara nasional dan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara GPM dan GSNI dalam membangun generasi muda yang berkarakter kebangsaan, memiliki kepedulian sosial, serta memahami Marhaenisme Bung Karno sebagai ideologi perjuangan.

Antonius Fokki Ardiyanto, S.IP.
Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga DPP Gerakan Pemuda Marhaenis

News Feed