Gugun Gumilar: IGIC Jadi Ruang Dialog Agama untuk Menjawab Tantangan Global

Kesbangnews.com – International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 menjadi ruang pertemuan para imam besar dan tokoh agama dari berbagai negara untuk bertukar pandangan mengenai tantangan kemanusiaan dan persoalan global

Staf Khusus Menteri Agama RI, Dr. H. Gugun Gumilar, menilai forum tersebut penting untuk mempertemukan perspektif keagamaan dalam merespons berbagai persoalan, mulai dari krisis lingkungan dan perubahan iklim, kemiskinan, kesenjangan sosial, hingga konflik yang berkaitan dengan perbedaan ras, suku dan identitas.

 

IGIC 2026 berlangsung di Jakarta pada 25–28 September 2026 dengan tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace”. Kementerian Agama mencatat puluhan delegasi internasional dari berbagai negara hadir dalam forum tersebut

 

Menurut Gugun, perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi ruang untuk membangun dialog, memperluas pemahaman dan menemukan titik temu bagi kemanusiaan.

 

“Persaudaraan berarti kemampuan melihat manusia lain sebagai sesama ciptaan Tuhan yang memiliki martabat dan hak untuk hidup dalam kedamaian,” demikian pesan yang disampaikan Gugun dalam konteks IGIC.

 

Gagasan tersebut juga dikaitkan dengan pesan Al-Qur’an dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 tentang keberagaman manusia dan pentingnya saling mengenal.

 

Bagi Gugun, forum seperti IGIC bukan sekadar pertemuan para pemimpin agama. Forum tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi agama dalam menghadapi tantangan zaman, meredam konflik, menjaga lingkungan, mengurangi kemiskinan serta mendorong terciptanya masyarakat dunia yang lebih damai dan berkeadilan.

 

Pandangan itu sejalan dengan agenda IGIC 2026 yang menempatkan peran imam, diplomasi keagamaan, harmoni dan perdamaian global sebagai pokok pembahasan. Menteri Agama Nasaruddin Umar juga menekankan peran imam sebagai duta perdamaian dan jembatan kemanusiaan

 

Indonesia, lanjut Gugun, akan terus membuka ruang bagi dialog lintas negara dan lintas tradisi keagamaan. Upaya tersebut dipandang sebagai bagian dari kontribusi Indonesia dalam membangun perdamaian dunia sekaligus memperkuat peran agama dalam menjawab persoalan kemanusiaan.

 

“Di tengah dunia yang semakin terhubung, perbedaan harus menjadi ruang untuk membangun dialog, memperluas pemahaman dan menemukan titik temu bagi kemanusiaan,” pesan Gugun.

News Feed