*Hadiri PERIKHSA Bamsoet Cigar Gathery di Yogyakarta, Bamsoet Optimistis Cerutu Indonesia Jadi Komoditas Premium Kelas Dunia*

Nasional57 views

 

*YOGYAKARTA* – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan cerutu sebagai salah satu komoditas premium berorientasi ekspor yang mampu menghasilkan devisa tinggi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani tembakau. Selama ini Indonesia dikenal sebagai salah satu penghasil tembakau berkualitas dunia, terutama dari Jember, Besuki, Deli, Lombok, Temanggung, hingga Vorstenlanden di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Daun pembungkus (wrapper) asal Besuki bahkan telah lama menjadi pilihan berbagai produsen cerutu premium dunia karena karakteristiknya yang tipis, elastis, halus, dan memiliki cita rasa khas.

Indonesia juga sudah dikenal sebagai salah satu eksportir cerutu dunia dengan pasar utama Jerman, Jepang, Belgia, Amerika Serikat, dan Belanda. Nilai ekspor cerutu Indonesia pada 2024 mencapai sekitar US$ 62,6 juta, sementara secara nasional ekspor nonmigas Indonesia sepanjang 2025 tumbuh menjadi US$ 269,84 miliar. Kondisi ini menunjukkan peluang yang sangat besar untuk meningkatkan kontribusi industri cerutu terhadap devisa nasional.

“Banyak orang mengenal Indonesia sebagai penghasil tembakau berkualitas, tetapi belum banyak yang menyadari bahwa kita memiliki potensi menjadi salah satu pemain utama industri cerutu premium dunia. Yang perlu dibangun sekarang adalah keberanian memperkuat merek nasional, meningkatkan kualitas secara konsisten, serta mengubah orientasi dari penjual bahan baku menjadi produsen produk premium bernilai tambah tinggi,” ujar Bamsoet dalam acara PERIKHSA Bamsoet Cigar Gathering bekerjasama dengan BIN Cigar Jember di Yogyakarta, Sabtu (18/7/26).

PERIKHSA adalah Perkumpulan Pemilik Izin Khusus Senjata Api Beladiri Indonesia dan BIN Cigar adalah salah satu produsen cerutu terbesar di Indonesia yang berlokasi di Jember, Jawa Timur. Berdiri sejak 2013.

Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan, pengembangan industri cerutu akan memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional. Mulai dari peningkatan pendapatan petani, tumbuhnya industri pengolahan, berkembangnya UMKM pendukung, peningkatan devisa ekspor, hingga lahirnya wisata berbasis perkebunan tembakau dan industri cerutu. Banyak negara berhasil mengembangkan cigar tourism yang memadukan kunjungan ke perkebunan, pabrik cerutu, museum, serta pengalaman menikmati produk premium sebagai bagian dari ekonomi kreatif. Konsep serupa sangat memungkinkan diterapkan di berbagai sentra tembakau Indonesia.

“Kita harus melihat cerutu sebagai bagian dari ekonomi kreatif berbasis pertanian, industri, budaya, dan pariwisata. Ketika seluruh mata rantai ini terhubung, manfaat ekonominya akan dirasakan petani, pelaku UMKM, eksportir, daerah, hingga negara. Inilah yang perlu dibangun melalui kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas,” jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua Dewan Pembina PERIKHSA Cigar ini menambahkan, pemerintah juga perlu memperkuat dukungan melalui penyederhanaan prosedur ekspor, promosi dagang yang lebih agresif, fasilitasi sertifikasi internasional serta penguatan riset varietas tembakau unggul. Langkah tersebut akan meningkatkan daya saing produk Indonesia di tengah persaingan dunia yang semakin ketat. Pada saat yang sama, kualitas produksi harus terus dijaga agar mampu memenuhi standar pasar premium internasional yang sangat mengutamakan konsistensi mutu.

“Kalau kita mampu menjaga kualitas, membangun merek yang kuat, memperluas jaringan pemasaran, serta memanfaatkan setiap peluang perdagangan internasional, saya optimistis cerutu Indonesia akan menjadi salah satu ikon ekspor nasional. Tembakau Nusantara memiliki kualitas kelas dunia, tinggal bagaimana kita mengelolanya menjadi produk premium yang membawa nama Indonesia semakin dihormati di pasar global,” pungkas Bamsoet. (*)

News Feed