Negara modern tidak cukup berdiri di atas aturan dan birokrasi. Ia membutuhkan kemampuan merasakan ruang, membaca ancaman, dan menyesuaikan diri terhadap dinamika yang bergerak dengan kecepatan industri global. Dalam pandangan Ir. R. Haidar Alwi, MT, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, negara adalah organisme hidup. Ia memiliki sistem syaraf, memori ruang, dan naluri untuk melindungi dirinya. Ketika satu simpul kehilangan sensitivitas, seluruh tubuh negara terdampak. Dan dari Morowali, pesan itu muncul dengan sangat jelas.
Kawasan industri Morowali bergerak cepat dalam skala global: ratusan ribu pekerja, arus logistik multinasional, dan infrastruktur industri yang terus berkembang. Namun dinamika secepat itu membutuhkan kehadiran negara yang sama cepatnya. Ketika sebuah bandara di kawasan strategis ini sempat beroperasi sebelum seluruh perangkat pengawasan negara hadir lengkap, Morowali memberi sinyal penting tentang perlunya pembaruan mekanisme negara. Bukan karena ada yang salah dari Morowali, dan bukan karena pemerintahan hari ini lalai, tetapi karena model koordinasi lama memang tidak dirancang untuk menghadapi ritme industri secepat zaman ini.
Haidar Alwi memandang bahwa negara sedang memasuki fase transisi: dari pola administratif lawas menuju arsitektur negara yang adaptif dan terhubung. Dan momentum ini datang bersamaan dengan hadirnya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, yang gaya dan nalurinya selaras dengan kebutuhan negara untuk mempercepat kehadirannya dalam ruang-ruang strategis.
*Ruang Industri Cepat, Negara Membutuhkan Kesadaran Baru.*
Ruang strategis seperti Morowali bukan lagi sekadar wilayah ekonomi. Ia adalah simpul geopolitik, simpul keamanan, dan simpul arus tenaga kerja asing. Dalam standar negara maju, ruang seperti ini harus dijaga oleh pengawasan penuh: pemetaan geospasial akurat, Bea Cukai, Imigrasi, pengamanan terpadu, dan integrasi data antarinstansi.
Fakta bahwa sistem lama negara belum mampu bergerak dalam kecepatan yang sama adalah alarm yang harus dibaca, bukan dengan kemarahan, tetapi kebijaksanaan.
Bagi Haidar Alwi, ini bukan persoalan kesalahan masa lalu. Ini adalah kebutuhan zaman yang menuntut cara baru bagi negara untuk hadir.
Dan Prabowo Subianto hadir pada momentum yang tepat: saat negara membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara visi, tetapi gesit dalam eksekusi.
*Pola Lama yang Terfragmentasi: Saatnya Negara Tidak Bekerja Sendiri-sendiri.*
Selama ini, lembaga-lembaga negara bekerja dengan struktur sektoral:
– Bea Cukai dengan kewenangan kepabeanan,
– Imigrasi mengawasi mobilitas manusia,
– Kemenhub mengatur transportasi,
– Pemda mengelola kawasan,
– TNI–Polri menjaga stabilitas,
– BIG memegang data ruang nasional,
– dan kementerian teknis mengawasi perizinan.
Tidak ada yang salah dari masing-masing lembaga. Masalah muncul ketika semua bekerja baik, tetapi tidak bersama. Industri bergerak dengan satu kecepatan; negara bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda.
Di ruang seperti Morowali, ketidaksamaan kecepatan ini menciptakan celah yang harus diperkuat.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memahami hal ini. Dalam banyak kesempatan, beliau menegaskan perlunya integrasi dan percepatan negara di bidang keamanan, kedaulatan ruang, dan pengawasan logistik strategis.
*Haidar Alwi melihat* bahwa gaya kepemimpinan Prabowo, yang cepat, tegas, dan tidak bertele-tele, adalah karakter ideal untuk menyatukan kembali sistem pengawasan negara.
*Ketika Negara Belajar dari Sistem Syaraf Manusia.*
Haidar Alwi memperkenalkan gagasan negara neuro-adaptif, yaitu negara yang bekerja seperti sistem syaraf manusia. Dalam tubuh, syaraf tidak menunggu rapat atau komando yang panjang. Begitu ada rangsangan, respons diberikan segera. Negara pun harus seperti itu: terintegrasi, adaptif, dan responsif terhadap perubahan ruang.
*Negara neuro-adaptif memiliki empat ciri:*
1. Kesadaran ruang real-time melalui data geospasial terpadu.
2. Pengawasan kawasan industri strategis dalam satu komando terpadu.
3. Mobilitas keputusan cepat untuk mencegah risiko sebelum muncul.
4. Integrasi total TNI–Polri–BIG–Pemda–Kemenhub tanpa sekat sektoral.
Dan inilah keunggulan besar era Prabowo: beliau adalah pemimpin dengan latar belakang pertahanan yang mengerti bahwa ancaman tidak menunggu negara bersiap. Negara-lah yang harus hadir sebelum ancaman muncul.
Karena itu, gagasan neuro-adaptif bukan hanya konsep ilmiah. Ia adalah kebutuhan negara yang selaras dengan gaya memimpin Presiden Prabowo Subianto.
*Geospasial: Memori Ruang Negara yang Wajib Disatukan.*
Dalam desain negara neuro-adaptif, data geospasial menjadi pusat kesadaran negara. Peta adalah memori. Memori menentukan keputusan. Jika memori ruang tidak terintegrasi, negara bekerja seperti tubuh tanpa koordinasi. Morowali menunjukkan bahwa integrasi data ruang harus segera diperkuat: *arus logistik, mobilitas pekerja, pemetaan objek vital, dan perubahan ruang harus berada dalam satu sistem kesadaran.*
Pemerintahan Prabowo Subianto memiliki peluang besar untuk mewujudkannya.
Dalam visi beliau, penguatan big data nasional dan modernisasi pertahanan ruang adalah prioritas yang selaras dengan kebutuhan ini.
*Rakyat Morowali dan Prinsip Keadilan Nilai.*
Rakyat Morowali tidak boleh hanya menjadi penonton pembangunan. Haidar Alwi menekankan bahwa pembangunan strategis harus menciptakan aliran nilai yang adil: pekerjaan, pelatihan, peningkatan kualitas hidup, dan kepastian masa depan.
Di era Prabowo, prinsip keadilan nilai ini mendapat ruang lebih kuat. Beliau menekankan bahwa kawasan industri tidak boleh berdiri tanpa memastikan rakyat lokal menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri. Prabowo memahami bahwa industri besar harus mengangkat rakyat di sekitarnya, bukan melampaui mereka.
*Morowali: Titik Nol Kesadaran Negara di Era Prabowo.*
Morowali bukan kegagalan.
Morowali adalah titik nol. Ia memperlihatkan apa yang harus diperbaiki, dan memperlihatkan pula siapa pemimpin yang tepat untuk mewujudkannya.
Di era Prabowo Subianto, negara memasuki fase baru:
fase ketika negara belajar kembali merasakan ruangnya,
membaca ancaman sebelum muncul, dan mengalirkan manfaat pembangunan kepada rakyat dengan lebih merata.
Saat negara memperbarui kepekaan ruangnya dan menyatukan seluruh sistem pengawasannya, maka bentuk baru negara mulai terlihat—negara yang memadukan ketegasan kepemimpinan dengan kecanggihan sistem.
Dan pada titik inilah Haidar Alwi menyampaikan kalimat yang merangkum harapan baru bangsa:
*“Negara yang kuat bukan hanya yang menjaga ruangnya, tetapi yang mampu merasakannya. Dan di era Prabowo Subianto, rasa itu kembali menyala,”* pungkas Haidar Alwi.









