Nama Letnan Kolonel (Purn) Dr. (HC) H. Masagus Nur Muhammad Hasjim Ning mungkin sudah tidak asing lagi dalam sejarah industri otomotif tanah air. Sosok yang dijuluki sebagai “Raja Mobil Indonesia” ini bukan sekadar pengusaha sukses, melainkan seorang pejuang yang ikut membangun fondasi ekonomi nasional pasca-kemerdekaan.
Dari Perantau hingga Menjadi Tentara
Lahir pada 22 Agustus 1916, Hasjim Ning merupakan putra Minangkabau yang memiliki semangat juang tinggi. Ia memulai petualangannya di Jakarta pada tahun 1937. Karier bisnisnya mulai terlihat saat ia ditunjuk menjadi perwakilan NV Velodrome Motorcars di Lampung pada 1939, hingga sempat menjadi pemborong tambang batu bara di Tanjung Enim pada 1941.
Meski memiliki bakat dagang yang kuat, Hasjim muda bercita-cita menjadi tentara—sebuah keinginan yang sempat terganjal restu orang tua. Namun, panggilan ibu pertiwi lebih kuat. Pada tahun 1945, ia ikut mengangkat senjata dalam pertempuran di Cianjur dan Bandung Selatan. Hasjim mengakhiri karier militernya pada tahun 1951 dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel.
Pionir Industri Otomobil Nasional
Pasca-pensiun dari militer, Hasjim Ning kembali ke dunia bisnis dengan mendirikan Djakarta Motor Company. Keberhasilannya tak lepas dari keterlibatannya dalam “Program Benteng” yang dicanangkan pemerintah Orde Lama untuk memperkuat pengusaha pribumi.
Hanya dalam waktu dua tahun, bisnisnya berkembang pesat hingga ia mendirikan Indonesian Service Station, perusahaan perakitan mobil pertama di Indonesia. Kesuksesannya merakit merek-merek Eropa dan Amerika membuatnya disegani. Tak hanya otomotif, gurita bisnis Hasjim merambah ke sektor perbankan, biro perjalanan (PACTO), kosmetik, hingga properti sebagai salah satu pendiri PT Pembangunan Jaya.
Menariknya, pada tahun 1981, Hasjim menjual 49% saham Bank Perniagaan Indonesia miliknya kepada Mochtar Riady. Kelak, bank inilah yang bertransformasi menjadi Lippo Bank.
Tantangan Global dan Kepemimpinan di Kadin
Dalam sebuah wawancara dengan majalah Prancis Paris Match tahun 1984, Hasjim sempat mengutarakan kegelisahannya mengenai persaingan ketat dengan brand Jepang. Baginya, birokrasi perusahaan Eropa dan Amerika yang kaku membuat mereka tertinggal dari strategi agresif otomotif Jepang di pasar lokal.
Dedikasinya di dunia usaha membawanya dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum Kadin (Kamar Dagang dan Industri) periode 1979-1982. Atas kontribusinya dalam ilmu manajemen, ia dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Islam Sumatera Utara.
Kiprah Politik: Dari IPKI ke Golkar
Hasjim Ning juga merupakan tokoh politik yang vokal. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum IPKI (Ikatan Pejuang/Penerus Kemerdekaan Indonesia) pada 1971. Ia menjadi salah satu bidan lahirnya Partai Demokrasi Indonesia (PDI) lewat fusi berbagai partai nasionalis dan Kristen. Namun, akibat konflik internal yang berkepanjangan di tubuh PDI, ia memilih mundur pada 1978 dan kemudian bergabung dengan Golkar menjelang Pemilu 1982.
Warisan dan Akhir Hayat
Hasjim dikenal sebagai sosok yang disiplin dalam mendidik keluarga, sebuah nilai yang ia warisi dari didikan keras orang tuanya. Ia selalu menekankan pentingnya pendidikan agama bagi anak-anaknya.
Sang “Raja Mobil” ini menghembuskan napas terakhirnya pada 26 Desember 1995 di RS Medistra, Jakarta, akibat komplikasi jantung dan ginjal di usia 79 tahun. Ia meninggalkan warisan berupa semangat kemandirian ekonomi yang hingga kini masih menjadi inspirasi bagi para pengusaha di Indonesia.
Sumber: Diolah dari Wikipedia Hasjim Ning dalam format artikel yang lebih mengalir, profesional, dan enak dibaca, tanpa menghilangkan fakta-fakta sejarah yang ada.
#HasjimNing #RajaMobilIndonesia #TokohMinang #SaudagarMinang #InspirasiRantau #SejarahIndonesia #PengusahaLegendaris










