Hercules: Dari Medan Tempur Timor hingga Menjadi “Lord” Politik di Tanah Betawi

Umum8 views

 

Di belantika dunia bawah tanah Jakarta, nama Rosario de Marshall atau yang lebih dikenal sebagai Hercules adalah sebuah supremasi. Sosoknya bukan sekadar mantan penguasa lahan hitam; ia adalah jembatan hidup antara sejarah militer Indonesia di Timor Timur dengan dinamika politik akar rumput di ibu kota.

Jejak Luka di Medan Timor: Mengapa Ia Dipanggil “Hercules”?
Kisah Hercules dimulai di tengah bara konflik Timor Timur tahun 1970-an. Kehilangan orang tua dalam pemboman di kota Ainaro pada 1978 menjadikannya yatim piatu di usia muda. Takdir kemudian membawanya bertemu dengan tentara Indonesia, di mana ia bergabung sebagai Tenaga Bantuan Operasi (TBO) bagi pasukan khusus Kopassus.

Nama “Hercules” bukanlah pemberian sembarang. Itu adalah kode radio yang disematkan oleh unit komunikasi Kopassus karena ketangguhannya. Namun, ketangguhan itu dibayar mahal. Dalam sebuah insiden jatuhnya helikopter saat pertempuran melawan Falintil, ia kehilangan mata kanan dan tangan kanannya. Di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, ia menjalani operasi yang menyelamatkan nyawanya—sebuah momen yang melahirkan kesetiaan “harga mati” kepada Prabowo Subianto, yang saat itu menjabat Panglima Satuan Komando Nanggala.

Kekuasaan di Tanah Abang: Era Premanisme Legendaris
Tahun 1990-an adalah era keemasan Hercules di Jakarta. Bermula dari kuli angkut dan teknisi listrik, ia bertransformasi menjadi pemimpin geng migran Timor yang menguasai jantung ekonomi Jakarta: Tanah Abang.

Di bawah kepemimpinannya, wilayah itu menjadi saksi bisu kerajaan bisnis penagihan utang, pengamanan, hingga perlindungan politik. Namun, kekuasaan itu runtuh di penghujung tahun 90-an. Pasca kehilangan perlindungan militer dan kalah dalam pertarungan brutal melawan aliansi tokoh lokal seperti Bang Ucu dan Haji Lulung, Hercules harus “turun takhta” dari Tanah Abang.

Transformasi: Broker Politik dan GRIB Jaya
Hercules tidak benar-benar tamat. Ia berevolusi dari sekadar pemimpin geng menjadi tokoh organisasi massa yang berpengaruh. Pada 2011, ia mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB). Wadah ini bukan hanya organisasi sosial, melainkan mesin penggerak massa di tingkat akar rumput, terutama untuk mendukung langkah politik Prabowo Subianto.

Kini, Hercules tampil dengan citra yang lebih rapi: seorang pengusaha lahan, pertanian, hingga perikanan. Di kalangan perantau Indonesia Timur, ia dianggap sebagai sosok “Mamak” atau pelindung yang menyediakan lapangan kerja dan jaringan.

2025: Kembali Bergesekan dengan Kekuasaan
Meski telah lama meninggalkan dunia jalanan yang brutal, watak keras Hercules belum memudar. Pada April 2025, ia kembali memicu kegaduhan nasional melalui dua kontroversi besar:

Ancam Gedung Sate: Hercules secara terbuka mengancam akan mengerahkan 50.000 anggota GRIB Jaya ke Bandung sebagai protes atas rencana Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang ingin membentuk Satgas Antipremanisme.

Konfrontasi dengan Purnawirawan: Ia memicu kemarahan publik setelah mengeluarkan pernyataan yang dianggap menghina mantan Gubernur Jakarta, Sutiyoso, dengan sebutan “bau tanah”. Pernyataan ini menuai kecaman keras dari tokoh militer seperti mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Kesimpulan
Hercules adalah anomali dalam sejarah Indonesia modern. Ia adalah perpaduan antara loyalitas prajurit, kerasnya dunia premanisme, dan pengaruh broker politik. Baginya, hidup adalah pertempuran yang tidak pernah benar-benar usai, meski medan tempurnya kini telah berpindah dari hutan Timor ke hiruk-pikuk panggung politik nasional. (Wikipedia)

#Hercules #GRIBJaya #RosarioDeMarshall #TokohFenomenal #PrabowoSubianto #DuniaPremanisme #PolitikIndonesia

News Feed