INDONESIA PASCA KEJATUHAN PRESIDEN PRABOWO.

Opini95 views

 

Oleh: Saiful Huda Ems.

Dahulu Pak Soeharto sebelum jatuh juga sudah kami ingatkan berkali-kali untuk mengundurkan diri sebagai presiden saja, karena rakyat sudah tidak mempercayainya. Tetapi setelah Pemilu 1997, Pak Soeharto malah mau dipilih kembali oleh MPR di Tahun 1998 sebagai presiden lagi, hanya karena percaya rakyat masih menghendakinya.

Maka saat itulah saya semakin yakin bahwa kekuasaan Soeharto akan semakin cepat membusuk, lalu akan terjatuh atau dijatuhkan. Ternyata prediksi saya dkk. benar-benar terjadi, Presiden Soeharto benar-benar jatuh di periode ke tujuh kepemimpinan nasionalnya, dengan didahului oleh kerusuhan demi kerusuhan mulai dari Jakarta hingga di daerah-daerah. Nyaris mirip dengan kejadian kerusuhan nasional, pada 25 sampai 31 Agustus 2025 yang lalu.

Ketua MPR yang sebelumnya selalu menjadi Menteri Penerangan dan sangat setia pada Presiden Soeharto, yakni Pak Harmoko, malah kemudian menjadi pejabat yang terdepan meminta Presiden Soeharto mundur, dan diikuti pula oleh menteri-menteri lainnya yang mengundurkan diri, sebelum Presiden Soeharto terpaksa benar-benar mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.

Ini pelajaran penting, bahwa dalam waktu singkat perubahan politik itu bisa saja terjadi, tidak menunggu waktu yang terlalu lama, setelah kesadaran revolusioner rakyat terbangkitkan, perubahan peta politik bisa terjadi dalam sekejap. Orang-orang yang semula menjadi loyalis-loyalis militan, bisa tiba-tiba berbalik menjadi musuh-musuh politiknya sendiri, yang bersikap antipati tanpa diduga-duga.

Jujur saya katakan, untuk persoalan kekuasaan Pak Presiden Prabowo Subianto ini, saya sama sekali tidak menginginkan kejatuhannya, mengingat saya juga tidak ingin Wapres Gibran Rakabuming Raka, yang tidak memiliki kecakapan memimpin itu tiba-tiba menggantikannya setelah kejatuhan Presiden Prabowo Subianto.

Namun yang namanya revolusi sosial itu datangnya suka tiba-tiba (unpredictable), sangat mengejutkan, maka jika itu terjadi dan Presiden Prabowo Subianto jatuh, mau apalagi yang bisa saya katakan? Ya terpaksa, Pemerintahan Gibran Rakabuming Raka memasuki masa transisi, paling lama 6 bulan, untuk mempersiapkan diadakannya Pilpres ulang.

Dan agar Pilpres ulang berjalan adil, maka perlu dibentuk KPU Baru, yang anggotanya terdiri dari orang-orang revolusioner dari kalangan akademisi, aktivis, politisi dan agamawan yang memiliki track record perlawanan yang baik dan militan, serta tidak pernah terlibat korupsi atau tindak pidana yang diberi ancaman hukuman lebih dari 5 tahun.

Jika melihat tanda-tanda yang selama ini terjadi, yang banyak sekali akademisi atau kaum intelektual protes, bahkan terlihat banyak yang mulai putus asa dengan berbagai kebijakan dan sikap politik Presiden Prabowo Subianto, yang begitu lengket bak prangko dengan Jokowi, saya pikir nampaknya kita sudah sangat dekat dengan situasi ’98, menjelang detik-detik Presiden Soeharto terguling atau digulingkan.

Semoga hal ini menjadi perhatian penuh bagi Presiden Prabowo Subianto untuk semakin mawas diri, mulai peka pada suara rakyat sejati yang nampaknya tidak pernah disampaikan oleh orang-orang terdekatnya sendiri. Apalagi oleh Qodari, yang selalu hanya ingin menikmati manisnya kekuasaan, dan menyampaikan informasi bagaimana Bapak Senang…(SHE).

13 Februari 2026.

Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Analis Politik, Aktivis Indonesia (1991-sekarang).

News Feed