kesbangnews.com – Pemerintah melalui Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Triwulan IV 2025 dan kinerja ekonomi sepanjang 2025. Salah satu sorotan utama adalah sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang menunjukkan pemulihan signifikan. Pada Q4 2025, subsektor ini tercatat tumbuh 4,37 persen secara tahunan (year-on-year), di tengah tekanan global dan perlambatan permintaan di sejumlah negara tujuan ekspor.
Pertumbuhan ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa fondasi industri tekstil nasional masih kokoh dan memiliki daya tahan tinggi. Sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai tepat sasaran turut menjadi penopang, mulai dari penguatan pengawasan impor, penataan perizinan, dukungan pembiayaan, hingga insentif fiskal bagi industri padat karya.
Iqbal dari Aliansi Masyarakat Tekstil Indonesia (AMKI) menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Keuangan yang dinilai konsisten berpihak pada keberlangsungan industri tekstil nasional. Menurutnya, kebijakan yang pro-industri telah membantu menjaga stabilitas produksi, mempertahankan tenaga kerja, dan meningkatkan utilisasi pabrik yang sempat tertekan pada periode sebelumnya.
Ia menekankan bahwa langkah-langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan pembangunan industri nasional yang menempatkan sektor padat karya sebagai prioritas. “Ini bukti nyata bahwa keberpihakan terhadap industri strategis benar-benar dijalankan, bukan sekadar wacana,” ujarnya.
Selain faktor kebijakan, pelaku industri juga mencatat adanya perbaikan pada sisi permintaan domestik, terutama menjelang akhir tahun yang biasanya didorong oleh musim belanja dan kebutuhan seragam, fashion, serta perlengkapan tekstil rumah tangga. Beberapa pabrikan bahkan mulai meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap untuk mengantisipasi potensi kenaikan permintaan pada semester pertama 2026.
Meski demikian, AMKI mengingatkan bahwa tantangan global belum sepenuhnya reda. Persaingan dengan produk impor berharga murah, fluktuasi nilai tukar, serta ketidakpastian ekonomi global masih menjadi faktor risiko yang perlu diantisipasi bersama. Oleh karena itu, kesinambungan kebijakan proteksi yang terukur dan berbasis data dinilai penting agar momentum pertumbuhan tidak terhenti.
Iqbal juga menyinggung adanya pihak-pihak tertentu yang dinilai kerap menyampaikan narasi negatif terhadap capaian industri tekstil nasional. Tanpa menyebut nama, ia menyatakan bahwa kritik yang tidak berbasis data justru dapat mengganggu persepsi pasar dan iklim investasi. “Kepentingan nasional harus diutamakan di atas kepentingan kelompok. Industri tekstil ini menyerap jutaan tenaga kerja dan sangat sensitif terhadap sentimen,” tegasnya.
Ke depan, pelaku industri berharap pemerintah terus memperkuat ekosistem hulu hingga hilir, termasuk pengembangan bahan baku dalam negeri, modernisasi mesin produksi, serta peningkatan daya saing melalui efisiensi energi dan digitalisasi manufaktur. Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah dan dunia usaha, tren positif pada Q4 2025 diharapkan menjadi pijakan kuat untuk pertumbuhan yang lebih berkelanjutan di tahun 2026.






