Jakarta berterima kasih kepada Kiai Lutfi Hakim, Mujadid Ke-Betawian

Nasional53 views

Menjelang usia Jakarta yang bakal genap lima abad, orang Jakarta khususnya masyarakat betawi perlu berterima kasih kepada Kiai Lutfi Hakim, MA, Imam Besar Forum Betawi Rempug sekaligus Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta.

Ini sih menurut saya, terserah kalau yang lain punya pandangan yang berbeda. Sebab, di usia Jakarta yang sudah tidak muda lagi, angka 5 menunjukkan arti bahwa Jakarta sudah melewati fase 100 tahun dikali 5, sampai hari ini.

Tentang Mujadid, saya dan anda boleh saja mengkonfirmasi ini dan kemudian menyandingkan dengan apa yang terjadi dalam sejarah Islam. Tentu, dalam fase kurun waktu setiap 100 tahun akan lahir sang pembaharu, ini mengacu pada Hadits Shohih Hadroturrosul Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Abu Daud, sejarah kemudian mencatat mulai dari Khalifah Umar Bin Abdul Azis Imamuna Syafi’i, Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari, Al-Ghozali hingga Ar-Rozi, Ibnu Taimiyah bahkan sampai As-Shuyuti.

Di luar konteks ke-Islaman seperti yang kita pahami, konsepsi kebetawian bermuara pada hal yang disebut oleh Ibnu Rusyd sebagai _Ta’ashub_(fanastisme kesukuan) atau _ashobiyah_ (kesukuan), Kiai Lutfi sebagai tokoh budaya setuju dengan hal itu, justeru konsepsi yang ia bangun (sepengetahuan saya) adalah (setidaknya) anti tesis dari apa yang disampaikan Ibn Rusyd, terutama tentang kejumudan, berfikir dangkal, berfikir indifidualistik atau istilah orang sekarangnya “main gagah-gagah’an” aneh kan? Disini ketertarikan saya dimulai.

Sebagai junior, teman diskusi, mungkin tanpa Kiai Lutfi sadari, saya menyerap banyak energi positif yang ia keluarkan. Konstruksi fikirannya tertata rapi, ia egaliter, jauh dari kesan sombong (bahkan kesan yang terlanjur disematkan banyak orang kepada FBR), dan dalam satu hal bertemu dengan prinsip yang saya perjuangkan di dalam keluarga besar NU, nilai kemaslahatan.

Bagi Kiai Lutfi, kemaslahatan adalah prinsip hidup, perjuangan terus menerus tanpa kenal lelah dan tak terhenti hingga ajal menjemput nanti. Bagi saya, ini hal yang paling mahal sekaligus mulia yang sedikit saya temukan saat ini pada diri aktifis Betawi di Jakarta dan sekitarnya, bahkan mungkin tidak saya temukan dalam diri saya sendiri sebagai aktifis NU dan juga sebagai orang Betawi.

Titik kulminasi yang kebetulan saya temui saat ini adalah konsepsi tentang Lembaga Adat Masyarakat (LAM) Betawi. Saya mendampingi Kiai Lutfi dalam berbagai diskusi terkait ini. Bagi saya, ini konsepsi paling _genuine_ dari Kiai Lutfi. Di samping tentang konsepsi, saya lihat betul sikap dan langkah yang ia bawa, habis-habisan dalam memperjuangkan kemaslahatan masyarakat Betawi lewat LAM Betawi yang semestinya, jika tidak ada maksud-maksud lain dari para pihak, sudah dirilis oleh Gubernur Jakarta, Abang Haji Pramono Anung.

LAM Betawi sejatinya adalah buah dari sedikit implementasi dari UU No 2 Tahun 2024, ia harus masak di dalam pohon, sebelum bisa dinikmati banyak orang, terkhusus masyarakat Betawi. LAM Betawi ketika dimanifestasikan lewat Peraturan Gubernur, maka akan ada payung hukum terkait persoalan pelestarian, pengembangan bahkan perlindungan terhadap identitas budaya Betawi. Ini yang kemudian saya simpulkan sebagai kemaslahatan tak berkesudahan.

Tantangan Jakarta sebagai Kota Global, arus modernisasi, digitalisasi informasi, AI, hingga bonus demografi adalah hal yang mesti disikapi secara rasional oleh masyarakat Betawi. Diantaranya, penguatan dan pemahaman terhadap akar budaya Kota Jakarta, Betawi. Ini tidak mudah, harus ada kerjasama yang serius dari para stakeholder di Jakarta. Bahkan bukan hanya itu, para tokoh khususnya para aktifis Betawi baik yang senior maupun junior di Jakarta harus berani melepaskan kepentingan pribadi demi kemanfaatan yang disembahkan kepada khalayak. Harus serius memperjuangkan Ide dan Gagasan bukan perjuangan untuk pribadi atau golongan saja.

Siapapun dan apapun label yang kita kenakan saat ini, jika berkaitan dengan kemaslahatan masyarakat Jakarta, khususnya masyarakat Betawi, maka tidak ada pilihan lain kecuali ucapan terimakasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Sang Pembaharu Budaya, Mujadid Ke-Betawian, Kiai Lutfi Hakim.

Salam,

*Husny Mubarok Amir*
Aktifis NU, Orang Betawi.

News Feed