Jalan Spiritual Yang Seperti Olah Raga Pagi Yang Dilakukan Dengan Penuh Kegembiraan dan Keriangan*

Sosial85 views

Jacob Ereste :

Jalan spiritual sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dapat dilakukan dengan riang gembira, tanpa perlu ada ketegangan seperti melewati etape yang sulit. Karenannya, cukup dilakukan dengan cara yang santai dan enteng, tiada beban yang harus dirasa memberatkan.

Ibarat jalan pagi yang sehat keliling kampung atau di tempat olah raga yang lain, laku spiritual itu sesungguhnya adalah olah batin agar tetap kokoh dan tegar ketika harus menghadapi terpaan yang menggoda tergelincir dalam lembah kehinaan yang tidak terpuji dan dianggap cela bagi warga masyarakat umum yang dianggap tidak layak, tidak patut dan tercela karena memang tiada manfaat untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Jalan sehat spiritual itu adakah olah batin agar tetap segar dan sehat menimbang dan mencerna untuk kemudian menikmati hal-hal yang baik dengan menghindari hal-hal yang buruk, bukan hanya yang tidak bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain, tetapi juga untuk hal-hal yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.

Karena itu bagian yang tidak kalah penting untuk dilakukan dalam laku spiritual adalah mencegah perbuatan buruk — bukan hanya dari apa yang hendak dikakukan oleh diri sendiri, tetapi juga wajib mencegah perbuatan buruk yang hendak dikakukan oleh orang lain terhadap diri kita sendiri maupun terhadap diri orang lain.

Dalam konteks inilah konsepsi tentang amar ma’ruf nahi munkar itu sangat relevan dan dapat dipahami berlalu secara universal untuk manusia sebagai pengemban amanah — khalifatullah — wakil Tuhan di muka bumi. Dalam konteks ini pun, dapat juga dipahami bahwa jalan spiritual itu seperti apa yang diungkap oleh puisi Penyair Taufil Usmail seperti “Sajadah Panjang Yang Merentang Sepanjang Jalan Menuju Kuburan” yang dilantunkan okeh kelompok musik Bimbo.

Artinya yang bisa kita pahami secara awam, bahwa beribadah itu sesungguhnya harus dimaknai sejak langkah pertama dimulai hingga berakhir di liang kubur. Karena itu, dalam laku spiritual yang bijak dan bestari cukup dilakukan dengan cara yang paling sederhana, seperti kaum sufi yang tak silau menatap mentari dan tembakan pada saat purnama sekalipun.

Banten, 15 April 2026

News Feed