Jejak Langkah Kivlan Zen: Dari “Insiden Warung” di Batujajar hingga Jadi Negosiator Pembebas Sandera

Umum143 views

 

Nama Mayor Jenderal TNI (Purn.) Kivlan Zen, S.I.P., M.Si., bukanlah sosok asing di kancah militer dan politik Indonesia. Pria kelahiran Langsa, Aceh, 24 Desember 1946 ini dikenal sebagai jenderal yang kenyang dengan pengalaman komando tempur. Namun, di balik karier cemerlangnya sebagai mantan Kepala Staf Kostrad (Kas Kostrad), terselip kisah-kisah manusiawi dan perjuangan yang tak banyak diketahui publik.

Darah Minang-Punjab dan Masa Muda yang Aktif
Lahir dari pasangan Muhammad Zein dan Husna, Kivlan membawa perpaduan unik dalam darahnya: Punjab (Pakistan) dari sang ayah dan Minangkabau (Suku Guci) dari sang ibu. Tumbuh sebagai anak ketiga dari 12 bersaudara, jiwa kepemimpinan Kivlan sudah terasah sejak remaja melalui organisasi Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI).

Setamat SMA pada 1965, ia memilih jalan pengabdian militer dengan masuk ke Akademi Militer Nasional (AMN) dan berhasil lulus pada tahun 1971 sebagai bagian dari korps Infanteri, satu angkatan dengan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn.) Endriartono Sutarto.

Drama di Batujajar: Gagal Brevet Gara-Gara Warung
Salah satu fragmen paling menarik dalam perjalanan karier Kivlan adalah saat ia menempuh pendidikan di Kopassandha (kini Kopassus). Bersama nama-nama besar seperti Subagyo HS dan Muchdi PR, Kivlan menjalani latihan komando yang amat berat di Batujajar.

Nahas, sebuah insiden saat latihan survival di Cikole mengubah garis nasibnya. Kivlan dan rekannya, Hadi Utomo, tertangkap basah menyembunyikan makanan. Puncaknya terjadi saat Long March menuju Cilacap; meski tidak ikut berbelanja, Kivlan terkena imbas akibat rekannya tertangkap di warung. Akibatnya, ia dinyatakan tidak lulus pendidikan Komando.

Tanpa brevet di dada, Kivlan kembali ke Cijantung dengan kepala tegak namun hati yang berat. Atas saran seniornya, ia justru memilih jalur “keras” dengan meminta pindah ke daerah operasi militer di Papua (Yonif 753/Arga Vira Tama) demi membuktikan kualitasnya sebagai prajurit.

Karier yang “Meledak” di Akhir Orde Baru
Karier militer Kivlan ibarat mesin yang panas di akhir. Ia sempat tertahan lama di pangkat Mayor (6 tahun) dan Letnan Kolonel (7 tahun). Namun, begitu memasuki pangkat Kolonel pada 1994, “bintang”-nya melesat bak meteor.

Hanya butuh waktu 18 bulan baginya untuk naik dari posisi Kolonel menjadi Brigadir Jenderal. Puncaknya, ia menjabat sebagai Kepala Staf Kostrad dengan pangkat Mayor Jenderal di masa transisi krusial dari Orde Baru ke Reformasi.

Sang Negosiator: Menaklukkan Abu Sayyaf
Meski pensiun dari militer, taji Kivlan tak lantas tumpul. Pada tahun 2016, dunia internasional menaruh perhatian padanya. Berbekal jaringan dan pengalaman militernya, Kivlan menjadi tokoh kunci di balik layar yang berhasil menegosiasikan pembebasan 18 Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera oleh kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina.

Aksi heroik ini membuktikan bahwa meski “angin politik” sempat meredupkan kariernya di masa awal reformasi, kemampuan diplomasi dan naluri tempur sang jenderal bergelar Datuak Tanameh ini tetap menjadi aset penting bagi bangsa.

Sumber: Wikipedia

#KivlanZen #ProfilTokoh #JenderalTNI #TokohMiliter #Purnawirawan #BiografiTokoh #DatuakTanameh #InspirasiTokoh #TokohIndonesia

News Feed