JAKARTA , 12 Januari 2026. Pos Indonesia secara resmi menyambut para pemimpin otoritas pos dari seluruh Asia Tenggara dalam pembukaan 31st ASEAN Post Business Meeting (APBM XXXI) yang digelar di Jakarta. Pertemuan strategis ini bertujuan untuk memperkuat sinergi logistik dan mempercepat pertumbuhan ekonomi digital di kawasan regional.
Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari kesuksesan APBM ke-30 yang sebelumnya digelar di Kamboja pada tahun 2024, sekaligus menandai babak baru transformasi digital pos di kawasan ASEAN.
Direktur Business Deveopment Pos Indonesia, Prasabri Pesti, yang membuka acara tersebut menekankan bahwa APBM ke-31 hadir di tengah tantangan industri yang semakin kompetitif. Menurutnya, penyedia layanan pos di ASEAN kini berhadapan dengan ekspektasi pelanggan yang kian tinggi serta persaingan e-commerce lintas batas yang menuntut kecepatan dan kecerdasan operasional.
”APBM adalah ruang bagi kita untuk menyelaraskan arah, berbagi praktik operasional terbaik, dan memperkuat ASEANPOST sebagai platform yang meningkatkan daya saing kita bersama,” ujar Prasabri dalam sambutannya.
Tiga Strategi Utama ASEANPOST
Dalam forum internasional tersebut, Pos Indonesia menyoroti tiga tema strategis yang akan menjadi fokus utama pengembangan jaringan pos di Asia Tenggara:
1. Dominasi Marketplace Lintas Batas (Cross-Border)
Prasabri menekankan bahwa belanja daring saat ini tidak lagi mengenal batas negara. Pengalaman pelanggan dalam hal kecepatan, transparansi pelacakan, dan kepastian pengiriman kini menjadi standar utama. Pos Indonesia mendorong ASEANPOST untuk menjadi mitra utama bagi UMKM agar dapat menembus pasar tetangga dengan biaya yang terjangkau.
2. Kepastian Pengiriman melalui DDU dan DDP
Untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan, sistem pengiriman Delivered Duty Unpaid (DDU) dan Delivered Duty Paid (DDP) menjadi kunci. Dengan sistem ini, biaya dan proses kepabeanan menjadi lebih transparan, sehingga tidak ada lagi “biaya kejutan” saat paket sampai di tangan penerima.
3. Inisiatif Single Tariff ASEAN
Salah satu terobosan yang paling dinanti adalah penerapan tarif tunggal (Single Tariff) untuk kawasan ASEAN. Ambisinya adalah menjadikan jaringan pos sebagai opsi pengiriman yang paling terjangkau dan sederhana bagi masyarakat di Asia Tenggara.
”Kami ingin saat orang berpikir tentang mengirim barang di ASEAN, pikiran pertama mereka adalah: Jaringan pos adalah pilihan yang paling terjangkau dan mudah,” tegas Prasabri.
Komitmen Kolaborasi Regional
Pos Indonesia sebagai tuan rumah ASEAN postal meeting berkomitmen menciptakan lingkungan kolaborasi yang konstruktif. Pertemuan ini diharapkan menghasilkan kesepakatan praktis yang bisa langsung diimplementasikan setelah para delegasi kembali ke negara masing-masing.
”ASEANPOST akan menjadi paling kuat ketika solidaritas regional dibarengi dengan kemajuan operasional yang nyata. APBM 31 adalah peluang kita untuk menjadikan pos sebagai platform regional yang unggul secara komersial,” tutup Prasabri.









