Keraton Parupuh Aryo Menak Senoyo Madura Tegaskan Peran Pelestari Adat Nusantara pada Conference King Asia Africa di Bali

Teks Gambar: Tampak DYMM K.R. Miftahussurur Fatah, S.E., mewakili Keraton Parupuh Aryo Menak Senoyo Madura sebagai peserta undangan istimewa dalam Conference King Asia Africa di Prime Plaza Hotel Sanur, Denpasar, Bali. (dok.google/foto:istimewa)

Denpasar, KESBANG||NEWS – Keraton Parupuh Aryo Menak Senoyo Madura kembali menegaskan eksistensinya sebagai salah satu penjaga kesinambungan adat, nilai-nilai spiritual, serta kepemimpinan luhur Nusantara melalui keikutsertaannya sebagai peserta undangan istimewa dalam Conference King Asia Africa yang diselenggarakan di Prime Plaza Hotel Sanur, Denpasar, Bali, Minggu (29/6/2026).

Forum internasional tersebut mempertemukan para raja, sultan, pemimpin adat, tokoh masyarakat, akademisi, dan delegasi dari berbagai negara di kawasan Asia dan Afrika guna memperkuat diplomasi budaya, mempererat persaudaraan antarbangsa, serta membangun kolaborasi di berbagai bidang strategis.

Mewakili Keraton Parupuh Aryo Menak Senoyo Madura, DYMM K.R. Miftahussurur Fatah, S.E., yang juga menjabat sebagai Patih Kenegaraan & Antar Lembaga Nusantara Majelis Adat Indonesia (MAI), menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada penyelenggara atas terselenggaranya forum yang dinilai memiliki nilai historis dan strategis bagi masa depan hubungan antarkerajaan, lembaga adat, serta masyarakat internasional.

Menurutnya, di tengah derasnya arus globalisasi, keberadaan kerajaan, kesultanan, dan lembaga adat memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga jati diri bangsa sekaligus menjadi perekat persaudaraan lintas budaya.

“Conference King Asia Africa bukan sekadar pertemuan para pemimpin adat dan kerajaan, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali bahwa warisan budaya adalah fondasi peradaban yang harus dijaga bersama. Dari nilai-nilai luhur para leluhur, kita belajar membangun persatuan, menghormati keberagaman, dan menghadirkan perdamaian yang berkeadaban,” ujar DYMM K.R. Miftahussurur Fatah, S.E.

Ia menambahkan bahwa diplomasi budaya merupakan instrumen yang semakin penting dalam membangun hubungan harmonis antarbangsa karena mampu melampaui perbedaan bahasa, politik, maupun kepentingan ekonomi.

“Keraton, kerajaan, dan lembaga adat hendaknya tidak hanya menjadi penjaga sejarah, tetapi juga menjadi mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam membangun karakter bangsa, memperkuat ketahanan budaya, serta mendorong lahirnya kerja sama yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia berharap hasil Conference King Asia Africa tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan mampu melahirkan jejaring kolaborasi yang nyata di bidang kebudayaan, pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, pelestarian warisan budaya, hingga penguatan diplomasi kemanusiaan antarnegara di kawasan Asia dan Afrika.

“Semoga semangat persaudaraan yang terbangun dalam forum ini menjadi warisan bersama bagi generasi mendatang. Ketika budaya diposisikan sebagai jembatan persahabatan, maka perdamaian, kesejahteraan, dan kemajuan bersama akan lebih mudah diwujudkan,” pungkasnya.

Keikutsertaan Keraton Parupuh Aryo Menak Senoyo Madura dalam forum internasional tersebut sekaligus menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam menjaga marwah adat Nusantara, memperkuat persatuan bangsa, serta membangun jejaring kerja sama lintas kerajaan dan lembaga adat sebagai bagian dari kontribusi nyata terhadap peradaban dunia yang damai, bermartabat, dan saling menghormati.

Laporan : Bar.S//Editor :Endi.S

News Feed