Ketegangan Geopolitik Dunia Meningkat, Bamsoet Tegaskan KADIN Indonesia Dukung

Nasional533 views

 

 

*JAKARTA* – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo, menegaskan dunia usaha yang tergabung di dalam KADIN Indonesia, mendukung penuh berbagai kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo yang terus berusaha mengatasi berbagai persoalan bangsa, baik dari dalam ataupun luar negeri. Di tatanan global, dunia sedang memasuki fase paling rawan sejak berakhirnya Perang Dingin, ditandai dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan strategis secara bersamaan. Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina yang menyeret keterlibatan NATO, serta manuver ekspansi China di Indo-Pasifik menjadi indikasi kuat bahwa tatanan global sedang mengalami pergeseran besar yang terstruktur.

 

Indonesia berada di posisi yang sangat strategis sekaligus rentan karena menjadi titik temu kepentingan kekuatan-kekuatan besar dunia. Posisi geografis Indonesia yang berada di jalur utama perdagangan dunia, seperti Selat Malaka dan kawasan Laut Natuna, menjadikan Indonesia sebagai salah satu titik penting dalam tatanan geopolitik dunia.

 

“KADIN all out bersama Presiden, mengingat yang kita hadapi sekarang adalah perubahan struktur kekuatan dunia secara mendasar. Konflik yang terlihat di permukaan hanyalah gejala. Di balik itu ada perebutan pengaruh, sumber daya, dan jalur strategis yang akan menentukan siapa mengendalikan ekonomi dunia ke depan,” ujar Bamsoet.

 

Pernyataan tersebut disampaikan usai Tim Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia mengikuti KADIN Indonesia Strategic Response Meeting yang dipimpin langsung Ketum KADIN Indonesia Anindya Bakrie di Menara KADIN Indinesia di Jakarta, Kamis (23/4/26).

 

Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menuturkan, ancaman yang paling nyata adalah ketahanan ekonomi nasional, terutama terkait energi dan pangan. Saat ini harga minyak dunia berada di kisaran 60–70 dolar AS per barel. Namun situasi ini sangat rentan berubah drastis jika terjadi gangguan di Selat Hormuz, harga minyak dunia bisa melonjak drastis dalam waktu singkat.

 

Selain energi, ketergantungan pada impor pangan seperti gandum, kedelai, dan gula juga menjadi titik lemah. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia masih mengimpor jutaan ton gandum setiap tahun, sebagian besar dari negara-negara yang terdampak konflik geopolitik. Gangguan rantai pasok dunia dapat langsung berdampak pada harga pangan dalam negeri dan memicu inflasi.

 

“Kita harus kompak sebagai bangsa dalam menghadapi berbagai potensi kerawanan sosial di dalam negeri yang dipicu tekanan ekonomi global. Terutama terhadap isu-isu yang sengaja dilemparkan oleh para provokator yang mencoba mengail di air keruh,” kata Bamsoet.

 

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menjelaskan, sebagai langkah strategis, KADIN Indonesia mendorong pembentukan Dewan Ketahanan Ekonomi Nasional yang bekerja layaknya war room lintas kementerian. Lembaga ini diharapkan mampu merespons dinamika global dengan cepat dan terukur, terutama dalam menjaga stabilitas harga energi dan pangan. Selain itu, penting dilakukan reformasi sistem SDM di sektor intelijen dan kepolisian agar lebih adaptif terhadap dinamika ancaman modern.

 

“Di tingkat internasional, Indonesia harus memperkuat posisi sebagai negara non-blok yang aktif. Prinsip bebas aktif dijadikan langkah konkret untuk membangun kerja sama strategis dengan negara-negara berkembang yang memiliki kepentingan serupa dalam menjaga stabilitas dan kedaulatan,” pungkas Bamsoet. (*)

News Feed