KUDETA ATAUKAH REVOLUSI SOSIAL? 

Nasional51 views

 

 

Oleh: Saiful Huda Ems.

 

Kalau saya perhatikan rupanya masih banyak sekali para Termul yang tidak bisa membedakan antara Kudeta dengan Revolusi Sosial. Karenanya, para Termul seringkali menyebut para kritikus pemerintah yang menggelorakan Revolusi Sosial, sebagai seseorang yang mau melakukan Makar. Padahal menggelorakan Revolusi Sosial itu sesungguhnya sangat berbeda dengan seseorang yang menyerukan Kudeta, hingga lebih pantas untuk disebut ingin melakukan Makar.

 

Para Termul harusnya mengerti, bahwa antara Kudeta dan Revolusi Sosial itu terdapat perbedaan yang sangat signifikan dan di antaranya terletak pada skala, pelaku, dan tujuan perubahan yang terjadi. Kudeta (coup d’état) adalah perebutan kekuasaan secara cepat dan biasanya dilakukan oleh kelompok kecil, sering kali dari dalam struktur negara seperti militer atau elite politik.

 

Misalnya, andaikata, seumpanya saja, Wapres Gibran ingin mengambil alih kekuasaan dari Presiden Prabowo, melalui kerjasama dengan salah seorang petinggi militer, itu namanya Kudeta, bukan Revolusi Sosial. Sebab fokus dari Kudeta adalah mengganti pemimpin atau pemerintahan tanpa mengubah sistem sosial secara mendalam. Lagian mana mungkin Gibran dapat mengubah sistem sosial, memangnya Gibran suka baca?

 

Oleh karenanya Kudeta yang seperti itu sangat berbeda jauh dengan Revolusi Sosial. Yang disebut dengan Revolusi Sosial adalah perubahan besar dan mendasar dalam sistem sosial, ekonomi, dan politik suatu negara. Revolusi Sosial biasanya melibatkan partisipasi luas dari rakyat dan berlangsung lebih lama.

 

Tujuan dari Revolusi Sosial bukan sekadar mengganti pemimpin, tetapi juga mengubah tatanan masyarakat. Contoh klasik adalah Revolusi Prancis, yang mengubah sistem Monarki menjadi Republik serta merombak struktur kelas sosial. Kemudian Revolusi Nasional di Indonesia, yang merubah sistem dari negara jajahan Belanda dan Jepang, menjadi negara merdeka.

 

Para Termul jika saja mau mengerti dan menghayati manfaatnya Revolusi Sosial, mereka akan 7 hari 7 malam melakukan tasyakuran, dengan berendam di air yang ditaburi 7 macam kembang dan menyembelih 7 ekor Ayam atau Bebek, untuk dibagi-bagikan ke sesama Termul. Sebab jika nanti sampai terjadi Revolusi Sosial dan rakyat yang menghendaki perubahan menang, maka para Termul tidak akan lagi sering merintih di Tembok Ratapan Solo, demi untuk bersalaman dengan Sarkowi dan mendapatkan Sembako (Sembilan Kebutuhan Pokok).

 

Saya menulis seperti ini bukan berarti saya membenci Termul, malah sebaliknya saya itu sangat sayang dan ingin mengingatkan para Termul agar segera menyadari kesalahan beratnya. Apakah para Termul itu tahu perbedaan dirinya (Termul) dengan Cebong, Kampret dan Kadrun? Kalau Cebong, Kampret dan Kadrun dahulu itu ciri khasnya orang-orangnya kalau komen di medsos keras-keras, tetapi berbeda jauh dengan Termul. Termul itu kalau komen di medsos selain keras-keras, mereka juga kasar, jorok dan tidak kreatif.

 

Para Termul itu kalau tidak komen keras, kasar dan jorok, bisanya juga hanya mengatakan atau bertanya:” Sakit hati ya?, Anak Abah ya? Anak Banteng ya? Gak dapat jabatan ya? Rakyat yang mana? Belum bisa move on ya?”. Pokoknya hanya bisa komen seperti itu-itu saja, tidak kreatif. Mungkin karena itulah UNIENCEP memasukkan Termul sebagai spesies paling terbelakang dan tertinggal di dunia dan akhirat. Apa kalian tidak sadar? Makanya segera bertaubat 7 turunan. Sapere aude !…(SHE).

 

3 Mei 2026.

 

Saiful Huda Ems (SHE).

News Feed