Lawan Oligarki dengan Gerakan Ekonomi Rakyat

Nasional580 views

 

Jakarta – Tidak ada cara lain yang tepat dan layak dilakukan oleh rakyat Indonesia, kecuali seruan agar rakyat Indonesia bersatu dan bersama-sama bangkit untuk melawan oligarki melalui Gerakan Ekonomi Rakyat.

Hal itu diungkapkan Dr. Marwah Daud Ibrahim, Mantan Asisten Peneliti Unesco dan World Bank, saat menjadi pembicara pada Seminar Kebangsaan bertema “Mengokohkan Pilar Kebangsaan dan Perdamaian Dunia dalam Menghadapi Dinamika Konflik Geopolitik” yang diselenggarakan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Rayom Universitas Nasional, Jakarta di Aula Sakinah, Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, Senin (1/6/2026).

Seminar itu digelar serangkai dengan perhelatan Musyawarah KAHMI Universitas Nasional, Jakarta yang menghadirkan pembicara, Prof. Dr. TB Massa Djafar, Dr. MS Kaban, Dr. Marwah Daud Ibrahim dan Lynda K. Wardhani, Ph.D serta dipandu moderator Drs Budi Santoso.

Menurut Marwah Daud Ibrahim, warga masyarakat Indonesia tidak boleh lengah dan membiarkan belenggu oligarki dalam kehidupan masyarakat.

“Kita jangan hanyut dengan narasi-narasi melawan tanpa kerja kongkrit. Kritis boleh, tapi langkah nyata untuk lepas dari belenggu oligarki itu yang terpenting. Saatnya rontokkan oligarki dengan kerja kongkrit,” kata Marwah Daud yang juga mantan aktivis KOHATI (Korps Alumni HMI-Wati) ini.

Karena itu, Marwah menawarkan program yang telah dijalaninya yakni Gerakan Wakaf Tanah atau alat-alat produksi, untuk menghidupkan pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pupuk dan pakan.

“Melalui program ini, Insya Allah, rakyat Indonesia khususnya di level bawah dan menengah bisa melakukan perlawanan kongkrit kepada oligarki. Melalui pertanian, perkebunan dan peternakan, maka kita bisa menjawab kebutuhan bangsa dan bukan sekadar memenuhi kebutuhan tapi lebih dari itu bisa menjadi lumbung kemakmuran Rakyat,” kata Marwah.

Dalam kesempatan itu, Marwah kemudian mengajak rakyat untuk meninggalkan rasa pesimis atau putus asa.

“Jangan terlalu banyak buang energi melawan oligarki hanya melalui narasi. Tapi harus lakukan tindakan nyata, riel. Rakyat harus bahu-membahu membangun ekonomi kerakyatan. Melindungi hak-hak atas tanah, baik pribadi maupun tanah adat sebagai aset ekonomi. Jangan menjual kepada oligarki. Tanah adalah modal untuk membangun perekonomian. Jadi produsen, penjual sekaligus pembeli, jadi konsumen produk sendiri. Selalu yakin semua ikhtiar atau usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan sampai pada titik sukses,” kata Marwah.

Merespons hal itu, TB. Massa Djafar menilai program yang ditawarkan Marwah Daud sangat logis dan kontekstual, karena itu perlu dukungan serius.

TB Massa mengatakan, Gerakan Perekenomian yang dimaksud Marwah Daud tampaknya terinspirasi dari Gerakan Syarikat Dagang Islam, 1905 yang dipelopori Haji Samanhudi.

Menurut TB Massa, sepertinya Gerakan Ekonomi Rakyat melawan oligarki ini terinspirasi dari Gerakan Syarikat Dagang Islam yang dipelopori Haji Samanhudi.

“Saat itu di tahun 1905, gerakannya jadi spirit ekonomi kerakyatan melawan struktur ekonomi kolonial. Memperkuat basis ekonomi rakyat menengah bawah, semangat ini sangat kontekstual ditengah dominasi ekonomi politik oligarki saat ini,” tandas TB Massa.

News Feed