Oleh: Saiful Huda Ems.
Pada mulanya nampak sekali rakyat di negeri ini sangat mengidam-idamkan figur presiden yang cerdas, kuat, tangguh, strong, tidak klemar-klemer dan gemar pencitraan seperti Jokowi. Maka mayoritas rakyat kemudian memilih figur dari kalangan militer, yakni Prabowo Subianto, mantan Danjen Kopasus yang awalnya dicitrakan sebagai sosok tangguh dan pemberani, Macan Asia.
Bagi sebagian besar aktivis pergerakan, meyakini Prabowo sebagai figur yang cerdas, kuat, tangguh, pemberani dll., merupakan hal yang keliru, berlebih-lebihan. Sebab belajar dari sejarah Reformasi ’98, Prabowo diketahui malah kabur ke Yordania setelah Prabowo terbukti telah melakukan penculikan, sebagian lainnya lagi bahkan meyakini, Prabowo juga melakukan pembunuhan terhadap para aktivis yang kritis terhadap Pemerintahan Orde Baru Soeharto di tahun 1996-1998.
Alhasil, Pilpres 2024 telah selesai, Prabowo-Gibran terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden untuk periode 2024-2029. Apa yang terjadi kemudian? Presiden Prabowo yang awalnya gembar-gembor mau melakukan efisiensi, eee…ternyata beliau tidak merampingkan kabinet, namun malah menggemukkan kabinet. Tidak menghemat anggaran, malah memboroskan bahkan terkesan menghambur-hamburkan anggaran.
Maling, Bandit, Garong (MBG) yang semula dikira akan habis disikat Prabowo karena beliau dianggap sebagai mantan jenderal, ternyata malah semakin marak terjadi di negeri ini. Hampir setiap hari kita mendengar adanya penjambretan, pembegalan, pembunuhan dll. dimana-mana. Celakanya lagi ketika korban hendak membela diri, malah banyak yang berbalik statusnya menjadi tersangka.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikatakan untuk memperbaiki gizi anak-anak bangsa, pada prakteknya malah berubah menjadi proyek untuk memperkaya para pengusaha, elite-elite politisi dll. Bahkan institusi yang berfungsi untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (POLRI), serta institusi yang berfungsi untuk menjaga pertahanan negara (TNI), malah dilibatkan untuk mengelola MBG ini.
Demikian pula dengan diplomasi politik luar negeri RI, yang harusnya menjadi negara Non Blok malah menjadi negara Go Blok. Israel yang harusnya dilawan malah dimintanya untuk dihargai, dihormati dan dilindungi. Arogansi Amerika yang selalu tampil menjadi Polisi Dunia, yang harusnya terus dikritisi malah dijadikan teman satu komplotan, untuk menginjak-injak hukum internasional –yang selama ini dijaga oleh PBB–, dengan keikut sertaan Indonesia dalam Board of Peace (BOP).
Dana yang dikeluarkan untuk menjadi member dari BOP itu juga tidak kecil, 17 triliun rupiah. Padahal organisasi tersebut bentukan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, bukan bentukan negara-negara yang menginginkan perdamaian di Gaza. Keberadaan BOP dan prilaku bar-bar Donald Trump serta Netanyahu selama ini, juga seperti telah menginjak-injak ketentuan hukum internasional yang selama ini ditentukan dan dijaga oleh PBB, hingga mengakibatkan hukum internasional tidak lagi dihormati oleh banyak negara.
Presiden Prabowo Subianto sangat liar memainkan agenda politiknya sendiri, dengan sidikitpun tidak mau memperhatikan suara-suara kritis dari rakyatnya sendiri. Akibatnya Indonesia semakin kacau dan rakyatnya terjebak menjadi elit (ekonomi sulit). Hutang Indonesia tembus Rp. 9.600 triliun, di sisi lain indek persepsi korupsi Indonesia kian memburuk, dari 99 ke 109.
Figur yang dulunya dicitrakan sebagai Macan Asia itu ternyata sangat lemah dan mudah dibohongi oleh anak buahnya sendiri. Kepala MBG misalnya, memberikan laporan langsung ke Presiden Prabowo, bahwa setiap hari 19000 ekor sapi telah dipotong untuk menu MBG. Jika dihitung sehari saja 19000 ekor sapi lantas dalam setahun berapa juta sapi yang akan dipotong? Terus memangnya jumlah sapi di negeri ini ada berapa juta? Mikir !.
Pendidikan di negeri ini juga semakin kacau dan biayanya semakin mahal. Kemendiknas menyatakan, untuk menggratiskan pendidikan diperlukan dana Rp.183,4 Triliun, namun MBG malah menyedot dana anggaran pendidikan Rp. 223 Triliun. Apa yang kemudian terjadi? Gedung-gedung sekolah keadaannya semakin memburuk. Gaji guru honorernya sangat rendah.
Peringkat IQ Indonesia berada di urutan 129 dunia (IQ 78,49), kalah jauh dari Malaysia yang ada di posisi 73 (IQ 87,58). Rata-rata gaji guru di Malaysia Rp. 8-13 juta, sementara di Indonesia hanya Rp. 2,8-5,5 juta. Maka segera stop MBG ! Tingkatkan mutu pendidikan ! aktifkan kembali BPJS ! Naikkan gaji guru honorer ! Turunkan pajak ! Turunkan harga kebutuhan pokok ! Kembalikan POLRI dan TNI pada fungsinya yang tepat !
Segera keluar dari BOP dan kembalikan Indonesia sebagai negara Non Blok bukan negara Go Blok ! Tangkap dan penjarakan para koruptor dan jangan hanya asyik berpidato yang memuji-muji diri sendiri ! Ini sudah bukan lagi musim kampanye Pak ! Jika Pak Presiden Prabowo Subianto tidak melakukan ini semua, berarti anda tak lebih hanya seperti Jenderal Gembos yang tak memiliki kekuatan dan wibawa apa-apa lagi, di mata rakyat Indonesia apalagi di mata warga dunia !…(SHE).
24 Februari 2026.
Saiful Huda Ems (SHE).










