Maling Teriak Maling” di Panggung Kekuasaan

Umum31 views

Ironi negeri ini bukan sekadar korupsi, tapi sandiwara moral yang dimainkan di atas panggung kekuasaan. Mereka yang duduk di lingkar elit, bersuara lantang soal bersih-bersih, justru gemar menunjuk jari sambil menyembunyikan tangan yang kotor. Inilah lakon lama: maling teriak maling.
Ketika seorang pejabat atau mantan pejabat memilih menyindir lembaga antikorupsi dengan lagu, ia sedang menukar tanggung jawab dengan hiburan murahan. Kritik sah, tentu. Tapi kritik yang lahir dari kepentingan, dendam politik, atau keinginan mencuci muka sendiri hanyalah kebisingan. Ia tidak membangun akuntabilitas; ia merusak kepercayaan publik.
Di era pemerintahan baru, publik berharap ketegasan moral, bukan keberanian berisik. Rakyat menunggu teladan, bukan ejekan. Yang dibutuhkan negeri ini bukan panggung sindiran, tapi keberanian membuka data, menyebut nama, dan siap diperiksa. Bukan memukul ke bawah sambil menghindar dari sorotan ke atas.
Korupsi kelas teri dan kelas kakap bukan soal siapa yang lebih lucu diejek, tapi siapa yang berani diseret ke pengadilan. Jika benar ada partai dan ormas terlibat pusaran korupsi, maka teriaklah dengan bukti, bukan dengan bait lagu. Jika tidak, diamlah dan bercermin.
Sebab di hadapan rakyat yang lelah, retorika tanpa integritas hanyalah tawa palsu di tengah uang haram. Dan sejarah selalu mencatat: mereka yang paling keras berteriak “maling”, seringkali sedang menutup pintu agar dirinya tak diperiksa.

News Feed