Dalam sejarah kepemimpinan di Indonesia, jarang ditemukan sosok birokrat yang begitu “matang” selain Hasan Basri Durin. Pria kelahiran Nagari Jaho, 15 Januari 1935 ini, bukan sekadar politisi yang muncul secara instan. Ia adalah pejuang birokrasi yang merangkak dari titik terbawah hingga akhirnya dipercaya menjadi menteri di masa transisi krusial negeri ini.
Dari Jaho Menaklukkan Yogyakarta
Lahir di sebuah desa kecil dekat Padang Panjang, Hasan kecil tumbuh dalam kesederhanaan. Ayahnya, Mahmud Durin, adalah seorang guru madrasah. Siapa sangka, pemuda yang sempat gagal tes kesehatan masuk sekolah guru dan ditolak di perguruan tinggi lokal ini, justru berhasil menembus Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur beasiswa ikatan dinas Departemen Dalam Negeri.
Yogyakarta menjadi saksi bisu transformasinya dari seorang anak nagari menjadi intelektual muda yang haus akan ilmu pemerintahan. Di sana pula ia bertemu dengan Zuraida Manan, gadis sekampungnya yang kelak menjadi pendamping setia sepanjang hayat.
Wali Kota di Dua Provinsi Berbeda
Rekam jejak Hasan Basri Durin terbilang langka. Ia pernah dipercaya memimpin dua kota besar di dua provinsi berbeda. Di usia yang sangat muda, 31 tahun, ia menjabat sebagai Penjabat Wali Kota Jambi (1966–1968).
Namun, namanya benar-benar harum saat memimpin Kota Padang selama dua periode (1973–1983). Di bawah kendalinya, Padang mulai bersolek menjadi kota modern di pesisir barat Sumatera. Keberhasilannya di Padang menjadi batu loncatan menuju kursi nomor satu di ranah Minang.
Sepuluh Tahun Memimpin Ranah Minang
Sebagai Gubernur Sumatera Barat (1987–1997), Hasan Basri Durin dikenal sebagai sosok yang tenang namun tegas. Menggantikan tokoh besar Azwar Anas, Hasan berhasil menjaga stabilitas dan martabat Sumatera Barat. Sepuluh tahun kepemimpinannya ditandai dengan kedekatan birokrasi dengan adat, sesuai gelar yang disandangnya: Datuak Rangkayo Mulia Nan Kuniang.
Puncak kariernya terjadi saat badai Reformasi mulai berembus. Presiden B.J. Habibie memanggilnya ke Jakarta untuk menjabat sebagai Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional dalam Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999). Meski situasi politik nasional saat itu sedang oleng, Hasan tetap berdiri tegak menjalankan mandatnya hingga kementerian tersebut dihapus di era Presiden Gus Dur.
Warisan yang Terus Hidup
Hasan Basri Durin wafat pada 9 Juli 2016, namun jejaknya tak pernah benar-benar hilang. Salah satu warisan terbesarnya adalah Universitas Bung Hatta, kampus yang ia rintis untuk menghormati sang proklamator.
Semangat pengabdiannya kini mengalir dalam keluarga. Putranya, Weno Aulia, dikenal sebagai pengusaha sukses dan tokoh politik yang aktif membangun daerah. Menantunya, Prof. Dr. Diana Kartika, merupakan Guru Besar yang pernah menjabat sebagai Wakil Rektor di universitas yang didirikan oleh Hasan sendiri.
Hasan Basri Durin telah menunjukkan bahwa pengabdian selama 43 tahun di birokrasi bukan soal mengejar kekuasaan, melainkan soal menjaga amanah rakyat dari nagari hingga ke kursi menteri. (Wikipedia)
#HasanBasriDurin #GubernurSumbar #TokohMinang #SejarahSumateraBarat #LegendaBirokrasi #Padang #TanahDatar #MenteriAgraria










