Mengenang Perjuangan Abdul Latief: Anak Pasa Gadang yang Sukses Bangun Pasaraya dan Jadi Menteri

Tokoh29 views

 

Dunia bisnis dan politik Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sosok Abdul Latief. Pria kelahiran Banda Aceh, 27 April 1940 ini adalah potret nyata ketangguhan perantau Minang. Namanya abadi sebagai pendiri Pasaraya, sebuah ikon pusat perbelanjaan yang mengangkat derajat produk lokal ke level internasional.

Akar Perantau dan Kemandirian Sejak Kecil
Darah niaga Abdul Latief mengalir dari orang tuanya, Mohammad Latief Marah Datuk dan Sitti Rahmah, yang merantau dari Pasa Gadang, Padang, ke Banda Aceh pada tahun 1920. Kehidupan keras menempa Latief sejak dini; ayahnya, yang juga aktif di Muhammadiyah, wafat saat ia baru berusia empat tahun.

Tumbuh dalam asuhan sang ibu, Latief sudah mulai berdagang telur dan bawang sejak usia 20 tahun. Sambil menimba ilmu di Akademi Pimpinan Perusahaan dan Universitas Krisnadwipayana, ia bekerja di Toserba Sarinah. Di sanalah bakat manajerialnya terasah hingga ia dikirim ke Jepang untuk mempelajari manajemen ritel modern di Seibu.

Membangun Empayar Bisnis: Lahirnya Pasaraya
Sekembalinya dari Tokyo, ide-ide segar Latief untuk memodernisasi Sarinah sempat ditolak oleh atasannya. Tak patah arang, ia memilih jalur mandiri. Dimulai dari sebuah toko kecil di Grogol, ia kemudian mendirikan PT Indonesia Product Centre Sarinah Jaya pada 1974.

Puncaknya terjadi pada tahun 1981, saat ia mendirikan Pasaraya Department Store. Latief berhasil membuktikan bahwa produk industri kecil Indonesia bisa tampil elegan di gedung megah. Bisnisnya terus menggurita di bawah bendera ALatief Corporation, merambah ke sektor hotel, asuransi, properti, hingga media massa dengan mendirikan stasiun televisi Lativi pada tahun 2001.

Bapak Pengusaha Muda dan Kiprah di Pemerintahan
Abdul Latief bukan hanya memikirkan bisnisnya sendiri. Ia adalah tokoh kunci di balik lahirnya HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) dan menjabat sebagai Ketua Umum pertamanya. Organisasi ini hingga kini menjadi kawah candradimuka bagi pengusaha-pengusaha besar di Indonesia.

Karier cemerlang di dunia usaha membawanya masuk ke lingkaran pemerintahan Presiden Soeharto. Ia dipercaya menjabat sebagai:

* Menteri Tenaga Kerja (1993–1998)
* Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya (1998)

Peran Kunci dalam Sejarah Reformasi
Nama Abdul Latief juga tercatat dalam tinta sejarah jatuhnya Orde Baru. Pada awal tahun 1998, ia secara mengejutkan mengundurkan diri dari Kabinet Pembangunan VII. Langkah berani ini kemudian diikuti oleh belasan menteri lainnya, yang menjadi salah satu pemicu utama goyahnya kekuasaan Soeharto hingga akhirnya lengser.

Kini, di masa pensiunnya, tongkat estafet bisnis ALatief Corporation telah diteruskan kepada anak-anaknya, Medina Latief Harjani dan Ahmad Dipo Ditiro. Namun, semangat “Anak Pasa Gadang” yang mengubah wajah ritel Indonesia ini tetap menjadi inspirasi bagi generasi muda.

Sumber: Diolah secara kreatif dari Wikipedia Bahasa Indonesia untuk memberikan perspektif yang lebih naratif dan inspiratif.

#MengenangAbdulLatief #TokohMinang #SaudagarMinang #Pasaraya #InspirasiRantau #PutraMinang #SejarahIndonesia

News Feed