Menguak Jejak Pandawa di Tanah Dewata: Penelusuran tentang Legenda, Identitas, dan Ketahanan Budaya Bali

Budaya, Home, Sosial51 views

Bali, Kesbangnews.com – Langit senja di selatan Pulau Dewata perlahan berubah temaram ketika alunan gamelan mulai menggema. Di sebuah pelataran terbuka dengan latar arsitektur khas Bali, tokoh-tokoh pewayangan berdiri dalam balutan busana prada keemasan. Wajah merah menyala, mahkota menjulang, dan gerak tari yang terukur menghadirkan kembali kisah Pandawa—bukan sekadar sebagai tontonan, melainkan sebagai napas kebudayaan yang terus hidup.

Momen tersebut bertepatan dengan Kunjungan Kerja (Kunker) rekan mitra media Kesbangnews.com, Muhammad Fajar Maruli Silitonga, yang akrab disapa bang Rully Silitonga, ke Bali. Kunjungan ini tidak hanya bersifat silaturahmi dan observasi umum, tetapi juga menjadi bagian dari penelusuran jurnalistik mendalam mengenai eksistensi jejak Pandawa dalam struktur budaya, sejarah lokal, dan identitas masyarakat Bali.

Legenda Yang Tidak Pernah Usang
Dalam tradisi Bali, Mahabharata bukan sekadar epos India kuno yang diterjemahkan ke dalam bentuk sastra atau pertunjukan wayang. Ia telah menyatu dalam kesadaran kolektif masyarakat, dihidupkan kembali melalui tari, drama gong, seni pahat, hingga narasi lisan yang diwariskan lintas generasi.

Salah satu bagian yang paling kuat diadopsi dalam budaya Bali adalah kisah Wirata Parwa. Pada fase ini, Pandawa menjalani tahun ke-13 pengasingan dengan menyamar di Kerajaan Wirata agar tidak dikenali musuh.

Yudhisthira tampil sebagai penasihat hukum bernama Kang Ka. Bhima menyamar sebagai Balawa, seorang juru masak—yang dalam tradisi Bali diyakini menjadi akar istilah belawa, juru masak dalam upacara adat. Arjuna menjalani kutukan yang membuatnya berpenampilan seperti perempuan. Nakula dan Sahadewa mengurus ternak kerajaan. Sementara Draupadi menjadi pelayan ratu.

Kisah ini dalam tafsir lokal Bali bukan sekadar cerita penyamaran, melainkan simbol tentang strategi, kesabaran, dan kecerdikan menghadapi tekanan hidup. Nilai-nilai itu diterjemahkan dalam praktik sosial: tentang bagaimana menjaga kehormatan, mengendalikan ego, dan menunggu momentum yang tepat untuk bangkit.


Ketika Legenda Menjadi Identitas Wilayah
Penelusuran berlanjut ke wilayah selatan Bali, tepatnya di Desa Kutuh, lokasi berdirinya Pantai Pandawa. Dahulu, kawasan ini dikenal sebagai Pantai Melasti—tempat sakral pelaksanaan upacara adat yang tersembunyi di balik tebing kapur tinggi.

Berdasarkan keterangan masyarakat adat yang dihimpun tim, akses menuju pantai tersebut baru dibuka secara bertahap antara tahun 1999 hingga 2011. Prosesnya tidak sederhana. Tebing batu kapur harus dipahat, jalur harus dibentuk, dan perjuangan administratif pun dilalui.

Nama “Pantai Pandawa” dipilih sebagai refleksi perjuangan panjang masyarakat adat Desa Kutuh. Mereka memaknai kisah pengasingan dan perjuangan Pandawa sebagai simbol keteguhan dalam memperjuangkan hak dan masa depan wilayahnya.

Kini, di ceruk tebing kapur yang menjulang, terpahat patung lima bersaudara: Yudhisthira, Bhima, Arjuna, Nakula, dan Sahadewa. Patung-patung itu bukan sekadar ornamen wisata, tetapi pernyataan identitas—bahwa legenda telah menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat.


Legenda Goa dan Narasi Lokal 
Selain kisah Wirata Parwa, berkembang pula legenda lokal yang menyebut Pandawa pernah bersembunyi di goa sekitar kawasan pantai untuk menghindari kejaran musuh. Dalam versi lain, disebutkan bahwa mereka pernah terkurung di Goa Gala-Gala sebelum akhirnya membangun kembali kekuatan dan mendirikan kerajaan Amerta.

Secara historis, narasi ini berada dalam wilayah mitologi dan tradisi lisan. Namun secara kultural, cerita tersebut memiliki daya hidup yang nyata. Ia menjadi fondasi simbolik yang memperkuat keterikatan masyarakat terhadap wilayahnya.

Dalam perspektif antropologis, fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat Bali mengadaptasi epos besar menjadi cerita lokal yang relevan dengan pengalaman kolektif mereka.


Media dan Tanggung Jawab Menggali Makna
Dalam kesempatan kunjungan mitra media Kesbangnews.com tersebut, Pemred Radar007.com, Bang Rully Silitonga, menyampaikan bahwa penelusuran budaya tidak boleh berhenti pada permukaan visual semata.

“Apa yang kita saksikan di Bali bukan hanya pertunjukan seni. Ini adalah peradaban yang terus dirawat. Kisah Pandawa di sini tidak membeku sebagai dongeng, melainkan menjadi nilai hidup yang membentuk karakter masyarakatnya,” ujar Rully Silitonga.

Ia menegaskan bahwa media memiliki peran strategis dalam merawat narasi kebudayaan nasional. “Tugas pers bukan hanya memberitakan peristiwa, tetapi juga mengangkat makna. Ketika legenda seperti Pandawa dihidupkan kembali dalam ruang sosial, itu adalah kekuatan bangsa. Kita wajib mendokumentasikan dan mengkajinya secara serius,” tambahnya dengan nada tegas namun elegan.

Ketahanan Budaya di Tengah Modernitas
Dari hasil pengamatan lapangan, mencatat bahwa kisah Pandawa di Bali telah bertransformasi menjadi ekosistem budaya yang utuh. Ia hadir dalam seni pertunjukan, dalam pahatan tebing, dalam upacara adat, dan dalam narasi pendidikan karakter bagi generasi muda.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan pariwisata massal, Bali menunjukkan bahwa tradisi dapat beradaptasi tanpa kehilangan akar filosofisnya. Legenda tidak ditinggalkan, melainkan ditafsir ulang agar tetap relevan.

Anak-anak menyaksikan pertunjukan dengan rasa ingin tahu. Wisatawan mengabadikan momen dengan kamera. Sementara masyarakat adat tetap menjaga batas antara sakralitas dan komersialisasi.

Warisan yang Terus Mengalir
Jejak Pandawa di Tanah Dewata bukanlah jejak fisik semata. Ia adalah jejak nilai tentang kesetiaan, keberanian, kehormatan, dan perjuangan mempertahankan hak.

Dari Wirata Parwa hingga Pantai Pandawa, dari goa legenda hingga panggung seni, kisah itu terus mengalir seperti ombak Samudra Hindia yang tak pernah berhenti menyentuh pesisir Bali.

Sehingga penelusuran menyimpulkan bahwa kekuatan budaya Indonesia terletak pada kemampuannya menjadikan mitologi sebagai identitas, dan identitas sebagai energi peradaban.

Di Tanah Dewata, legenda Pandawa tidak pernah benar-benar usai. Ia hidup dalam doa, dalam tari, dalam batu karang yang dipahat, dan dalam kesadaran kolektif masyarakat yang bangga akan warisan leluhurnya.

 

Sumber: Tim Ivestigasi Bidaya Radar007.com

News Feed