Menjaga Kesucian Adat dan Kepemimpinan: Keraton Parupuh Gelar Tadarus Al-Qur’an 40 Hari Pasca Ritual Sakral Nyello’ Aing

Budaya, Daerah13 views

Madura,KESBANG || NEWS — Keraton Parupuh Aryo Menak Senoyo Madura kembali menegaskan perannya sebagai penjaga kesinambungan adat, spiritualitas, dan kepemimpinan leluhur Nusantara melalui rangkaian Upacara Adat Song Osong yang dilaksanakan secara khidmat, sakral, dan sarat makna spiritual.

Tokoh adat Keraton Parupuh Aryo Menak Senoyo Madura, Kyai Raden Miftahussurur Fatah, SE, menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan adat dan spiritual Keraton Parupuh terus berlanjut setelah selesainya Ritual Sakral Nyello’ Aing 7 Sumur Keraton, sebuah prosesi adat penyucian yang menjadi fondasi spiritual sebelum memasuki tahapan-tahapan adat berikutnya.

Ritual Nyello’ Aing 7 Sumur Keraton merupakan prosesi adat sakral yang menggunakan tujuh sumur peninggalan Keraton Parupuh, yang memiliki nilai historis, spiritual, dan kultural tinggi sebagai warisan luhur leluhur Keraton. Ketujuh sumur tersebut bukanlah sumur biasa, melainkan simbol kesucian, penyelarasan lahir dan batin, serta kesinambungan nilai-nilai adat dan kepemimpinan Keraton Parupuh Aryo Menak Senoyo Madura.

Dalam prosesi sakral tersebut, air ritual Nyello’ Aing di tujuh sumur Keraton juga disempurnakan dengan air ritual sakral Nyello’ Aing yang bersumber dari Petirtaan Jolotundo, sebuah situs bersejarah peninggalan masa Kerajaan Medang (Mataram Kuno) yang erat kaitannya dengan Raja Airlangga. Secara historis, Petirtaan Jolotundo dikenal sebagai tempat pemandian suci dan laku semedi kerohanian para raja serta keluarga kerajaan, yang terletak di lereng barat Gunung Penanggungan, Jawa Timur. Penyempurnaan air ritual ini dimaknai sebagai penguatan laku spiritual, penyucian lahir dan batin, serta penghubung kebijaksanaan luhur para leluhur Nusantara dalam prosesi adat Keraton Parupuh.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Setelah Ritual Sakral Nyello’ Aing 7 Sumur Keraton selesai, kegiatan adat dan spiritual Keraton Parupuh dilanjutkan dengan Ritual Sakral Tadarus Al-Qur’an selama 40 hari, yang insyaallah akan bersambung dengan tadarus di bulan suci Ramadhan,” ujar Kyai Raden Miftahussurur Fatah.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Forum Komunikasi Majelis Adat Indonesia (MAI) yang dihadiri para Raja, Sultan, Datuk, Ratu, serta tokoh-tokoh pemangku adat dari berbagai wilayah Nusantara, pada Kamis (22/1/2026).

Lebih lanjut dijelaskan, Ritual Tadarus Al-Qur’anul Karim selama 40 hari dimulai sejak 20 Januari 2026 hingga 28 Februari 2026, dan akan bersambung dengan Tadarus Al-Qur’an sepanjang bulan suci Ramadhan. Rangkaian tadarus ini menjadi ikhtiar spiritual Keraton Parupuh dalam memohon keberkahan, keselamatan, dan tuntunan Ilahi bagi keberlangsungan adat, masyarakat, serta kepemimpinan Keraton.

Rangkaian tadarus akan diakhiri dengan selamatan ritual sakral dhudhus, yakni prosesi mandi suci bagi calon Raja Keraton Parupuh Aryo Menak Senoyo Madura, yang dilanjutkan dengan Khatmil Qur’an bersama sehari di penghujung bulan Ramadhan sebagai penutup seluruh rangkaian tadarus.

Selanjutnya, rangkaian Upacara Adat Song Osong Keraton Parupuh Aryo Menak Senoyo Madura akan dilanjutkan dengan:

1. Sidang Adat Badan Musyawarah Adat Keraton Parupuh Aryo Menak Senoyo Madura
2. Sidang Adat Majelis Adat Indonesia (MAI)
3. Ritual Sakral Penobatan Raja Keraton Parupuh Aryo Menak Senoyo Madura

Keseluruhan rangkaian ini menegaskan Keraton Parupuh Aryo Menak Senoyo Madura sebagai entitas adat yang menjaga keseimbangan antara warisan luhur leluhur, nilai-nilai spiritual Islam, dan tatanan adat Nusantara, sekaligus menjadi simbol kesinambungan budaya, spiritualitas, dan kepemimpinan adat yang bermartabat di tengah dinamika zaman.(Red)

News Feed