Muatan Balik Tol Laut Masih Minim, Marin Nusantara Beri Rekomendasi

Ekonomi31 views

Jakarta – Sepuluh tahun lalu, tepatnya pada 4 November 2015, bunyi stom kapal menandai keberangkatan perdana program Tol Laut. Sepuluh tahun berjalan sejak peluncurannya, hasil kajian menunjukkan bahwa program ini masih belum sepenuhnya berhasil memaksimalkan muatan balik kapal.

Direktur Maritim Research Institute (Marin Nusantara), Makbul Ramadhani, menyampaikan hal ini melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis, 22 Januari.

‘Program Tol Laut hadir untuk menjawab disparitas harga dan memperkuat distribusi logistik di daerah tertinggal, terpencil, dan terdepan (3T). Namun, sejumlah tantangan masih menghambat pemanfaatan program ini secara maksimal,’ kata Makbul sapaan akrabnya.

Selama program berjalan, Marin Nusantara secara konsisten memberikan perhatian melalui ide dan gagasan, riset dan rekomendasi kebijakan kepada Kementerian Perhubungan, khususnya Direktorat Perhubungan Laut yang menjadi leading sektor program Tol Laut, sebut Makbul. Ia merupakan alumni Sarjana Teknik Perkapalan Universitas Hasanuddin.

“Pada tahun 2025 Program Tol Laut menjalankan 39 trayek, dengan data realisasi muatan balik kapal tol laut sampai dengan 30 November 2025 masih belum optimal,” tandas Makbul.

Dirinya mencontohkan, terdapat beberapa trayek yang muatan baliknya masih sangat rendah, misalnya:

• Trayek H-4: Realisasi muatan berangkat 446 TEUS, muatan balik 9 TEUs. Dengan rute Tanjung Priok – Teluk Bayur – Tanjung Priok.

• Trayek S-2A: Realisasi muatan berangkat 563 TEUs, muatan balik 0 TEUs. Dengan rute Makassar- Ereke – Raha – Sikeli – Makassar.

• Trayek S 2B: Realisasi muatan berangkat 592 TEUs, muatan balik 0 TEUs. Dengan rute Makassar – Bungku – Kolonedale – Makassar.

• Trayek S-5B: Realisasi muatan berangkat 782 TEUs, muatan balik 237 TEUs.

• Trayek T-1: Realisasi muatan berangkat 472 TEUs, muatan balik 0 TEUs. Dengan rute Tanjung Priok – Lhokseumawe – Tanjung Prok.

• Trayek T-2: Realisasi muatan berangkat 773 TEUs, muatan balik 106 TEUs. Dengan rute Tanjung Priok – Kota Segara – Selat Lampa – Subi – Serasan – Midai – Kota Segara – Tanjung Priok.

• Trayek T-5: Realisasi muatan berangkat 638 TEUs, muatan balik 9 TEUs. Dengan rute Tanjung Perak  – Nabire – Serui – Biak – Wasior – Tanjung Perak.

• Trayek T-7: Realisasi muatan berangkat 1288 TEUs, muatan balik 38 TEUs. Dengan rute Tanjung Perak  – Merauke – Agats – Pamoko – Tanjung Perak.

• Trayek T-8: Realisasi muatan berangkat 394 TEUs, muatan balik 82 TEUs. Dengan rute Tanjung Perak  – Kisar – Letti – Moa – Damer – Tanjung Perak.

• Trayek 10: Realisasi muatan berangkat 415 TEUs, muatan balik 104 TEUs. Dengan rute Tanjung Perak – Wanci – Namrole – Tanjung Perak.

• Trayek T-13: Realisasi muatan berangkat 630 TEUs, muatan balik 133 TEUs. Dengan rute Tanjung Perak – Tarakan – Tanjung Perak.

• Trayek T-14: Realisasi muatan berangkat 1059 TEUs, muatan balik 46 TEUs. Dengan rute Tanjung Perak – Namlea – Tanjung Perak.

• Trayek T-21: Realisasi muatan berangkat 379 TEUs, muatan balik 57 TEUs. Dengan rute Tanjung Perak – Pulau Obi – Saketa – Tapeleo – Piru – Tanjung Perak.

• Trayek T-23: Realisasi muatan berangkat 355 TEUs, muatan balik 0 TEUs. Dengan rute Tanjung Perak  – Reo – Tanjung Perak.

• Trayek T-24: Realisasi muatan berangkat 1477 TEUs, muatan balik 234 TEUs. Dengan rute Tanjung Perak  – Fakfak – Kaimana – Dobo – Tanjung Perak.

• Trayek T-25: Realisasi muatan berangkat 823 TEUs, muatan balik 0 TEUs. Dengan rute Tanjung Perak  – Nunukan – Tanjung Perak.

• Trayek T-27: Realisasi muatan berangkat 606 TEUs, muatan balik 103 TEUs. Dengan rute Tanjung Perak  – Babang – Tanjung Perak.

Bahkan, dari 12 trayek di pelabuhan pengumpul, terdapat delapan trayek dengan total muatan balik 0 TEUs.

“Meski sebagian trayek muatan balik masih rendah, terdapat pula beberapa trayek yang menunjukkan hasil lebih baik,’ ujarnya.

Makbul menambahkan, Trayek T-3 dengan realisasi muatan berangkat 642 TEUs dan muatan balik 937 TEUs dengan rute Makassar – Nunukan – Tarakan – Makassar. Selanjutnya Trayek T-9 realisasi muatan berangkat 1539 TEUs dan muatan balik 1078 TEUs dengan rute Tanjung Perak – Makassar – Morotai – Galela – Maba – Weda – Tanjung Perak.

Daftar Inventaris Masalah

Berdasarkan penyerapan informasi di lapangan dan kajian analisis, Marin Nusantara menyoroti sejumlah faktor yang menjadi hambatan utama bagi optimalisasi muatan balik kapal Tol Laut, antara lain:

• Paradigma Tol Laut masih diposisikan sebagai program transportasi, belum sebagai instrumen penggerak sistem logistik dan ekonomi wilayah.

• Tidak adanya institusi yang secara eksplisit dan berbasis regulasi bertanggung jawab penuh sebagai agregator dan penjamin muatan balik kapal Tol Laut.

• Integrasi sistem logistik nasional dan konektivitas hinterland–pelabuhan belum optimal, termasuk keterbatasan gudang konsolidasi dan cold storage.

• Perencanaan dan evaluasi trayek Tol Laut saat ini kurang transparan dan partisipatif, sehingga aspirasi publik sering tidak diperhitungkan, yang berdampak pada trayek dan muatan balik yang belum optimal.

• Keterbatasan informasi dan akses bagi pelaku usaha lokal, akibatnya, partisipasi mereka rendah, sehingga potensi muatan balik belum dimanfaatkan secara optimal.

• Koordinasi dan sinergi Kementerian Perhubungan sebagai leading sector dengan kementerian/lembaga terkait serta pemerintah daerah masih lemah.

• Pemerintah daerah belum aktif berpartisipasi dalam program Tol Laut.

Rekomendasi Kebijakan

Atas kondisi tersebut, Marin Nusantara menekankan rekomendasi berupa beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan pemerintah, antara lain:

• Kementerian Perhubungan perlu memajukan paradigma Tol Laut dari sekadar trayek antar pulau menjadi penggerak logistik nasional yang menghubungkan komoditas unggulan daerah ke pasar nasional dan ekspor.

• Pemerintah perlu menetapkan dan mengatur institusi penanggung jawab muatan balik Tol Laut berbasis regulasi, dengan mandat sebagai agregator muatan, dan penghubung antara produsen daerah dan pasar tujuan.

• Kementerian Perhubungan perlu mengintegrasikan moda transportasi dan konektivitas hinterland, termasuk pengembangan angkutan darat, gudang konsolidasi, dan cold storage, guna memperlancar dan mengefisienkan rantai pasok muatan balik.

• Kementerian Perhubungan perlu memastikan evaluasi trayek Tol Laut dilakukan secara transparan dan partisipatif, sehingga aspirasi publik, pelaku usaha, dan pemerintah daerah dapat diperhitungkan dalam perencanaan trayek dan muatan balik.

• Mendorong Kementerian Perhubungan agar operator Tol Laut mensosialisasikan kemudahan akses kepada pengusaha lokal, koperasi, dan UMKM untuk meningkatkan muatan balik.

• Mendorong Kementerian Perhubungan memaksimalkan sinergi dengan kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah untuk meningkatkan muatan balik Tol Laut.

• Mendorong pemerintah daerah memetakan, mengonsolidasikan, dan mempromosikan komoditas unggulan agar selaras dengan trayek balik kapal Tol Laut untuk menggerakkan ekonomi daerah.

“Kami mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan dapat menindaklanjuti rekomendasi ini agar muatan balik Tol Laut bisa lebih optimal, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkas Makbul Ramadhani, yang merupakan alumni Magister Keamanan Maritim Universitas Pertahanan Indonesia. (red)

News Feed