NASOTARDAGO: SYEKH IBRAHIM SITOMPUL, Ulama Besar, Penyebar Agama Islam dan Pejuang Kemerdekaan RI dari Tapanuli Utara.

Umum48 views

 

Kisah Tuan Guru kita ini sangat menarik, karena beliau lahir dan mengabdi di daerah mayoritas Non Muslim. Riwayat Tuan Syekh Haji Ibrahim Sitompul gelar Patuan Longgom, merupakan ulama karismatik. Beliau adalah tokoh penting penyebaran Islam di Tapanuli Utara. Saya pernah ziarah ke makam beliau bersaman Bapak Jenderal Albiner–saya berkenalan dengan Bapak Albiner diawali ketika bedah buku Pak Albiner dengan topik Sejarah Syekh Ibrahim Sitompul di UIN Syahada Padangsidimpuan, waktu itu saya dijadikan sebagai penanggap, pada urutan yang terakhir. Sebelum acara dimulai saya sudah membaca buku Pak Albiner berulang-ulang, dan menggunakan referensi lain sebagai pembanding. Lalu saya berikan catatan perbaikan sebanyak 4 halaman dalam bentuk tabel, lengkap dengan kesalahan dan koreksiannya. Karena masukan saya sangat banyak, sehingga saya diminta Bapak Albiner untuk mengedit bukunya, sekaligus sebagai editor pada penerbitan dan cetakan pertama.
Karena itu saya memiliki kesempatan dan memiliki akses untuk berziarah ke Makam Syekh Ibrahim Sitompul, sambil melakukan riset di tempat kelahiran Sang Syekh. Saya menemukan dan beberapa peninggalannya berupa serban, pedang, periuk, rumah, dan foto dan jubahnya masih ada. Serban peninggalan beliau pernah saya pakaikan di kepala saat melakukan riset di kampung halaman Tuan Guru kita ini. Saya tidur di rumah peninggalannya 1 malam. Rumah peninggalan beliau itu sampai sekarang masih bagus terjaga baik oleh cicitnya.
Syekh Ibrahim Sitomul, lahir tahun 1862, beliau putra asli Desa Janji Angkola, Kecamatan Purbatua, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Janji Angkola adalah Nagori yang dibentuk dari perjanjian 8 Raja Huta, ayah beliau sendiri Raja Oppu Eret Sitompul dari Lobu Handis adalah salah satunya.
Awalnya agamanya seperti kebanyakan masyarakat Batak Toba/Angkola saat itu, keluarga beliau awalnya penganut kepercayaan leluhur Batak (Parmalim / Pelebegu). Dalam buku Sang Pendamai karya cucunya Albiner Sitompul, diceritakan bagaimana perjalanan beliau dari agama leluhur masuk Islam hingga menjadi ulama Batak.
Syekh Ibrahim adalah murid yang mengembara mencari ilmu: 1) Belajar agama di beberapa surau di Tapanuli: Pasir, Cangking, Padang Buras, 2) Berguru kepada mamaknya sendiri, Syekh Muhammad Said di Padang Buras, 3) Tahun 1893 berangkat Haji ke Makkah dan bermukim cukup lama untuk mendalami ilmu tasawuf. Di Makkah beliau berguru kepada Syekh Abdullah Affandi dan mendapat ijazah sebagai mursyid Tarekat Naqsyabandiyah.
Pulang ke Tapanuli tahun 1903, beliau menjadi mursyid pertama yang membuka dan menyebarkan Tarekat Naqsyabandiyah di Tapanuli.
Sekembalinya, beliau memadukan ajaran tasawuf Naqsyabandiyah dengan falsafah adat Batak Dalihan Na Tolu untuk membangun persatuan masyarakat yang sedang dipecah-belah Belanda. Beliau bukan hanya ulama, tapi pejuang politik:
Ayahnya, Aman Jahara Sitompul, sudah menjadi Kepala Kampung Janji Angkola selama 23 tahun. Setelah masuk Islam berkat dakwah anaknya (Syekh Ibrahim) pada tahun 1903, ayahnya langsung diberhentikan oleh Belanda berdasarkan Beslit Rahasia Gubernur Jenderal No.1 tahun 1889 yang melarang pengangkatan kepala desa muslim di daerah yang mayoritas belum Islam. Syekh Ibrahim melawan dengan aksi politik, mengadukan hal ini kepada Dr. Hazeu, Penasehat Urusan Pribumi.
Pada Maret 1919 diadakan pemilihan kepala kampung baru di Janji Angkola. Padahal penduduk Kristen 400 orang dan Muslim hanya 60 orang, Syekh Ibrahim tetap menang. Pemerintah kolonial melalui Kontrolir Silindung J.W.Th. Heringa menganulir kemenangan itu dan ingin melantik pesaingnya, Aristarchus Sitompul, seorang pendeta Batak.
Pemilihan diulang, hasilnya Syekh Ibrahim tetap menang telak 218 suara vs 204. Akhirnya Residen Tapanuli F.C. Vorstman tidak bisa berbuat apa-apa dan beliau tetap dilantik sebagai Kepala Nagori Janji Angkola. Aksi ini didukung oleh Hatopan Kristen Batak yang solid membela hasil pemilihan.
Karena perlawanan itu, beliau pernah difitnah dan dipenjarakan oleh Belanda. Beliau juga tercatat sebagai tokoh Sarekat Islam di Tapanuli, organisasi pergerakan nasional awal.
Syekh Ibrahim Sitomul dikenal sebagai Sang Pendamai karena mampu mendamaikan dan mempersatukan masyarakat Batak Muslim dan Kristen dalam melawan penjajah. Kisah perjuangannya dibukukan oleh cucunya, Albiner Sitompul (mantan Karo Pers Setpres RI) dalam buku “Sang Pendamai: Tuan Syekh Ibrahim Sitompul Pejuang Thariqat Naqsyabandiyah dan Nasionalis dari Tapanuli” yang di-launching di rumah peninggalannya di Janji Angkola pada 10 Agustus 2022. Sebagai editor buku tersebut adalah Dr. Zainal Efendi Hasibuan, Dosen UIN Syahada Padangsidimpuan.
Beliau adalah bukti bahwa Islam di Tanah Batak bukan agama pendatang baru yang dipisahkan Belanda, tapi disebarkan oleh putra Batak sendiri yang juga sangat memegang adat Dalihan Na Tolu.
Beliau wafat 8 Oktober 1956. Makamnya di Janji Angkola, Purba Tua, Tapanuli Utara. Semoga ruh Syekh Ibrahim dirahmati Allah, dan ditempatkan fi maqomam mahmudah bersama para Syuhada
dan Auliya-Nya. Aamiin ya Robbal. ‘Aalamiin.

NB: Harap masukan dari pembaca, ahli waris, untuk perbaikan tulisan ini

News Feed