Negeri ini pernah punya pemuda seperti ini. Dan sejarah lahir dari ruang kuliah.

Nasional24 views

 

Namanya Lafran Pane.
Mahasiswa.
Bukan jenderal.
Bukan menteri.

Tapi pikirannya ikut menentukan arah bangsa.

Tanggal 5 Februari 1947.
Indonesia belum tenang.
Belanda belum benar-benar pergi.
Peluru masih bicara.

Di tengah genting itu,
Lafran Pane bersama 14 rekan mahasiswa lainnya, mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Bukan untuk seragam.
Bukan untuk jabatan.
Tapi untuk satu tujuan besar:

Menjaga Republik yang baru lahir
dan membangun manusia Indonesia yang utuh.

Ia melihat ancaman ganda:
kemerdekaan yang rapuh,
dan generasi muda yang kehilangan arah.

Maka ia menyatukan dua kekuatan:
Islam dan intelektualitas.
Iman dan pemikiran.
Masjid dan kampus.

HMI lahir bukan sebagai penonton sejarah.
Ia hadir untuk terlibat.
Mengisi.
Mengawal.

Bagi Lafran Pane,
mahasiswa bukan hanya pencari ijazah.
Tapi penjaga nilai.
Penopang negara.
Penentu masa depan.

Ia berjuang tanpa senjata.
Tanpa pangkat.
Tanpa sorotan.

Tapi dari ruang diskusi,
dari kaderisasi,
dari perdebatan gagasan,

lahir ribuan pemimpin bangsa.

Menteri.
Akademisi.
Diplomat.
Aktivis.

Semua berakar dari satu keyakinan:
bangsa besar lahir dari manusia yang sadar dan beriman.

Lafran Pane tidak mengejar kekuasaan.
Ia menanam manusia.

Dan sampai hari ini,
HMI masih berdiri.
Bukan karena gedung.
Tapi karena nilai.

Lafran Pane mengajarkan kita satu hal penting:
Kemerdekaan tidak cukup dipertahankan dengan senjata.
Ia harus dijaga dengan akal, iman, dan karakter.

#HMI #lafranpane #pahlawannasional #pemudaindonesia #jangkauansemuaorang

News Feed