NILAI A+ DARI BPOM UNTUK SPPG POLRI: BUKTI NEGARA TIDAK MAIN-MAIN SOAL STANDAR KEAMANAN MBG*

Nasional47 views

 

Pengakuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang memberikan nilai A+ kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri bukan sekadar catatan prestasi administratif.

Lebih dari itu, penilaian tersebut mencerminkan sebuah pesan penting bagi publik. Bahwa negara mampu menghadirkan pangan yang aman, profesional, dan dapat dipercaya, bahkan dalam skala besar dan berkelanjutan.

Dalam konteks meningkatnya perhatian masyarakat terhadap keamanan pangan terutama menyusul berbagai kasus keracunan makanan massal di sejumlah daerah, keberhasilan SPPG Polri memenuhi standar tinggi BPOM menjadi penanda bahwa tata kelola pangan yang disiplin dan berbasis standar ilmiah bukanlah hal yang mustahil.

Justru sebaliknya, praktik tersebut dapat dijalankan secara konsisten ketika ada komitmen kelembagaan, pengawasan ketat, dan budaya kerja yang profesional.

Penilaian BPOM mencakup seluruh rantai proses, mulai dari pengadaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi makanan. Fakta bahwa SPPG Polri memiliki sistem pemisahan bahan basah dan kering, pengaturan suhu yang presisi, serta laboratorium uji internal sebelum makanan disalurkan menunjukkan bahwa keamanan pangan ditempatkan sebagai prioritas utama, bukan pelengkap program.

Pendekatan ini menegaskan bahwa pemenuhan gizi tidak cukup hanya berbicara soal jumlah porsi, tetapi juga tentang mutu dan keselamatan.

Prestasi ini menjadi penting karena SPPG Polri berperan dalam mendukung program strategis nasional yang menyasar kelompok rentan dan generasi muda. Makanan yang aman dan bergizi adalah fondasi dasar bagi tumbuh kembang anak, kesehatan ibu, serta ketahanan fisik masyarakat secara keseluruhan. Tanpa standar keamanan pangan yang kuat, program sebesar apa pun berisiko kehilangan legitimasi publik.

Di sinilah makna strategis dari nilai A+ BPOM tersebut. Keberhasilan SPPG Polri tidak hanya menjadi kebanggaan institusi, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat bahwa negara hadir secara serius dalam melindungi kesehatan warganya. Kepercayaan publik adalah modal sosial yang tidak bisa dibangun melalui slogan, melainkan melalui praktik nyata yang konsisten dan terukur.

Lebih jauh, capaian ini menempatkan SPPG Polri sebagai rujukan penting bagi penyelenggara layanan pangan lainnya, baik di tingkat pusat maupun daerah. Standar yang diterapkan menunjukkan bahwa keamanan pangan dapat dan harus menjadi tolok ukur utama dalam setiap program pemenuhan gizi. Ketika SPPG Polri mampu membuktikannya, maka tidak ada alasan untuk tidak bisa bagi SPPG non-Polri.

Pada akhirnya, pengakuan BPOM terhadap SPPG Polri menegaskan satu hal mendasar: kualitas bangsa dimulai dari kualitas pangan. Masyarakat yang sehat, cerdas, dan kuat hanya dapat diwujudkan jika negara memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi warganya aman, bergizi, dan diproduksi dengan standar terbaik.

Dalam konteks itu, prestasi SPPG Polri bukan sekadar capaian institusional, melainkan bagian penting dari upaya membangun masa depan Indonesia yang lebih sehat dan berdaya saing.

*Jakarta, 21 Januari 2026*
*R. HAIDAR ALWI*
*Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB*

News Feed