Oesman Sapta Odang: Putra Sulit Air yang Berjuang dari Pelabuhan hingga Puncak Senayan.

Umum1 views

 

Nama Oesman Sapta Odang, atau yang akrab disapa OSO, dikenal sebagai sosok tangguh yang menempati posisi strategis di panggung politik dan bisnis nasional. Lahir pada 18 Agustus 1950, OSO mewarisi semangat perantau dan pejuang dari kedua orang tuanya; ayahnya berasal dari Palopo, Sulawesi Selatan, dan ibundanya, Asnah Hamid, berasal dari Sulit Air, Solok, Sumatera Barat. Kecintaannya pada tanah kelahiran sang ibu dibuktikannya dengan membangun rumah gadang megah sebagai objek wisata dan pusat informasi di Sulit Air, serta aktif memimpin organisasi Gebu Minang.

Namun, kejayaan yang diraihnya saat ini tidak datang begitu saja. Sejarah hidup OSO penuh dengan cucuran keringat. Setelah ayahnya wafat saat ia masih kecil, OSO harus membanting tulang membantu ibunya. Ia pernah berjualan rokok eceran di pelabuhan dan mengalami kejadian pahit saat ditampeleng oleh buruh ketika menagih bayaran. Tak menyerah, ia kemudian beralih menjadi buruh gendong di pelabuhan pada usia 15 tahun, memanggul beban berat seberat 30 kilogram demi mengumpulkan uang untuk membelikan kain bagi ibunya.

Ketekunan tersebut berbuah manis. OSO berhasil membangun konglomerasi OSO Group yang menjalar ke berbagai sektor mulai dari pertambangan, perhotelan, hingga keuangan. Di kancah politik, kariernya pun melesat tajam. Beliau pernah menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI, Ketua DPD RI, hingga menjadi Ketua Umum Partai Hanura. Meskipun memiliki kekayaan yang menempatkannya sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, OSO dikenal tetap bersahaja dan mengaku malu menggunakan mobil mewah miliknya di tengah masyarakat karena merasa tugasnya sebagai pelayan negara belum usai.

Kisah hidup Oesman Sapta Odang memberikan pelajaran berharga bagi kita semua, terutama bagi generasi muda Minangkabau di perantauan. Beliau membuktikan bahwa keterbatasan pendidikan formal dan himpitan ekonomi bukanlah penghalang untuk bermimpi besar. Dengan integritas dan semangat pantang menyerah, seorang buruh gendong pelabuhan pun bisa duduk di kursi pimpinan tertinggi negara.

Sumber: Liputan6 – “Kisah Oesman Sapta, Wakil Ketua MPR yang Pernah Ditempeleng Buruh” dan Wikipedia – “Oesman Sapta Odang”

News Feed