Oleh: Rizal Tanjung
Di dalam lorong-lorong sejarah yang berdebu, kita sering menemukan nama-nama yang diukir dengan tinta emas—namun sayangnya, tidak semua tinta itu jujur. Ada yang ditulis dengan cahaya kekuasaan, ada yang dipahat oleh kepentingan, dan ada pula yang dibiarkan memudar seperti senja yang tak sempat dikenang.
Tulisan Jacob Ereste hadir seperti angin yang membuka jendela lama—mengibaskan tirai-tirai yang selama ini menutupi wajah sejarah perempuan di negeri ini. Ia tidak sekadar menulis; ia seperti menyalakan pelita di ruang gelap yang selama ini kita anggap terang.
Namun, barangkali kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar menyebut satu nama yang terus-menerus dielu-elukan dalam narasi besar bangsa: Raden Ajeng Kartini.
Kartini, ya—ia adalah cahaya. Tetapi sejarah bukanlah langit dengan satu bintang.
—
Di tanah yang sama, jauh sebelum dan sesudah Kartini menulis surat-suratnya yang menggetarkan nurani, berdirilah perempuan-perempuan lain yang tak kalah nyala. Mereka tidak selalu menulis dengan pena—sebagian menulis dengan darah, dengan keberanian, dengan kehilangan.
Siapakah yang mengingat Martha Christina Tiahahu, gadis belia dari Maluku yang melawan penjajah dengan dada terbuka, seolah maut hanyalah bayang-bayang yang tak berarti?
Atau Cut Nyak Dien, yang menjadikan hutan sebagai istana perjuangan, dan air mata sebagai sumpah setia terhadap kemerdekaan?
Dan Cut Nyak Meutia, yang menggenggam senjata dengan tangan yang sama yang pernah mengusap dahi anak-anaknya?
Mereka adalah puisi yang tidak ditulis—tetapi hidup dalam denyut nadi bangsa ini.
—
Sejarah, sayangnya, sering kali seperti cermin retak: ia memantulkan wajah, tetapi tidak utuh. Ada bagian yang diperbesar, ada pula yang disembunyikan. Dan dalam retakan itulah, perempuan-perempuan pejuang sering terjatuh ke dalam sunyi yang panjang.
Mengapa hanya satu nama yang diagungkan, sementara yang lain seperti dikubur dalam tanah ingatan?
Apakah karena mereka tidak menulis dalam bahasa yang dimengerti penjajah?
Ataukah karena mereka tidak lahir dari ruang sosial yang dianggap “layak” untuk dikenang?
Di sinilah kita harus jujur: sejarah tidak pernah sepenuhnya netral. Ia adalah medan tafsir, tempat kekuasaan dan identitas sering bermain petak umpet.
—
Perempuan Indonesia bukan hanya simbol emansipasi dalam ruang domestik atau pendidikan. Mereka adalah tiang-tiang tak terlihat dari republik ini. Mereka adalah rahim yang melahirkan pejuang, tangan yang merawat luka, dan jiwa yang tak pernah tunduk meski dunia mencoba merendahkan mereka.
Di dapur, mereka meramu kekuatan.
Di medan perang, mereka menjelma badai.
Di balik layar, mereka adalah arsitek diam dari kemerdekaan.
Namun, sejarah sering hanya mencatat yang tampak di permukaan—seperti laut yang indah, tetapi lupa pada arus dalam yang menentukan arah.
—
Tulisan Jacob Ereste seperti sebuah pengingat: bahwa kita perlu menulis ulang sejarah dengan hati yang jernih dan keberanian yang jujur. Bukan untuk menyingkirkan Kartini dari singgasananya, tetapi untuk membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan lain untuk berdiri sejajar dalam ingatan kolektif bangsa.
Sebab keadilan dalam sejarah bukanlah soal siapa yang paling terang, tetapi siapa yang selama ini dipadamkan.
—
Hari ini, kita hidup di republik yang dibangun bukan oleh satu suara, melainkan oleh paduan suara yang kompleks—dan perempuan adalah bagian tak terpisahkan dari harmoni itu.
Jika kita terus menyederhanakan sejarah hanya pada satu figur, maka kita sedang mengkhianati kenyataan. Kita sedang mengerdilkan perjuangan yang seharusnya megah.
Sejarah harus ditulis ulang—bukan dengan niat membongkar, tetapi dengan keberanian untuk melengkapi.
—
Akhirnya, biarlah artikel ini menjadi semacam doa yang panjang:
Agar kita tidak lagi memuja sejarah seperti mitos yang beku,
tetapi merayakannya sebagai kebenaran yang hidup.
Agar perempuan-perempuan yang terlupakan tidak lagi menjadi bayang-bayang,
melainkan cahaya yang kembali menemukan namanya.
Dan agar republik ini belajar satu hal yang paling sederhana namun paling sulit:
bahwa keadilan bukan hanya untuk masa kini, tetapi juga untuk masa lalu.
—-
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.









