PSI TAK MUNGKIN JADI PARTAI BESAR

Nasional39 views

 

Oleh: Saiful Huda Ems.

Untuk membangun dan membesarkan partai politik itu tidak mudah, diperlukan waktu puluhan tahun, kecuali yang bersangkutan masih menjadi presiden atau bahkan menjadi lawan tangguh presiden.

Contoh Bu Megawati Soekarnoputri, beliau sebelumnya memimpin PDI (1993-1996) namun karena kehendak sejarah, beliau berani berhadap-hadapan dengan otoriterianisme rezim ORBA Soeharto, hingga rezim Soeharto terjungkal di Tahun 1998.

PDI ikut lagi Pemilu 1999 dengan nama baru PDIP dan Ketumnya masih sama Bu Megawati Soekarnoputri, yang kemudian menjadi pemenang dengan perolehan suara yang sangat spektakuler, mencengangkan banyak orang.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menjadi presiden 2004, beliau ikut jadi kader Partai Demokrat sejak 2003 (bukan pendiri partai sejak 2001 seperti yang beliau klaim) dan di Pemilu 2009 Partai Demokrat jadi besar. Sayangnya di Pemilu berikutnya, Partai Demokrat selalu jatuh dan jatuh lagi hingga hampir terpuruk.

Lalu Prabowo Subianto, mendirikan Partai Gerindra di tahun 2008, Gerindra tidak langsung besar dan baru menjadi partai besar di 16 tahun kemudian, yakni di Pemilu 2024. Itupun masih kalah dengan suara PDIP yang juara 3x berturut-turut, mulai di Pemilu 2014, 2019 dan 2024.

Jadi kebesaran dan kejayaan partai-partai seperti PDIP dan Gerindra, kemudian ada yang jatuh seperti Partai Demokrat itu jangan sekali-kali samakan dengan PSI. PSI itu dari awal sudah partai gurem dan baik Ketua Umum maupun semua jajaran pengurusnya itu masih politisi pemula semuanya, ia akan sangat susah sekali untuk menjadi partai besar, meskipun menggunakan jasa 1000 dukun ampuh bersekala internasional.

PSI praktis hanya mengandalkan figur Jokowi, yang mantan presiden. Tapi mereka itu lupa kalau; pertama, Jokowi itu aslinya bukan politisi, Jokowi itu Tukang Kusen yang dahulunya diangkat oleh Bu Megawati bersama PDIP nya untuk menjadi politisi, dengan dicalonkannya Jokowi sebagai Calon Walikota, Gubernur sampai Presiden oleh PDIP.

Kedua, Jokowi dan anak-anaknya sama sekali tidak memiliki pengalaman mengelola Partai Politik. Kaesang sendiri baru dua hari jadi kader PSI langsung diangkat jadi Ketum PSI. Jadi bagaimana mungkin orang yang sama sekali tidak memiliki pengalaman memimpin dan mengelola partai politik, akan diandalkan untuk membesarkan PSI?.

Ketiga, jangan lupa hari ini Jokowi itu sudah bukan lagi presiden. Ia tidak lagi memiliki kekuasaan penuh untuk mengatur-ngatur para pejabat negara, kecuali kepada orang-orang titipannya. Ini berbeda dengan ketika SBY masih menjadi presiden dan memiliki banyak celah untuk menggunakan kekuasaannya agar Demokrat menjadi besar.

Juga berbeda dengan Presiden Prabowo Subianto, yang juga memiliki banyak celah untuk membesarkan Gerindra dengan kekuasaannya. Jokowi sekarang selain tidak memiliki kekuasaan, juga disibukkan dengan pengobatan demi pengobatan kurapnya yang sudah mengkriputkan kulit dan melongsorkan rambutnya.

Kalau sudah seperti demikian, bagaimana dengan nasib PSI ke depannya? Akankah PSI lebih gurem lagi nantinya dan Ketumnya diganti lagi dengan anak band rambut gondrong yang cukup jingkrak-jingkrak saja, menyanyikan lagu dengan judul Jokowi Insyaflah? Wallahu a’lamubishawab…(SHE).

6 Februari 2026.

Saiful Huda Ems (SHE).

News Feed