Hubungan antara PDI Perjuangan (PDIP) dan masyarakat Sumatera Barat kembali menjadi sorotan hangat. Hal ini bermula dari keheranan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, atas rendahnya perolehan suara partainya di Ranah Minang, yang disusul pernyataan kontroversial Puan Maharani mengenai harapan agar Sumbar menjadi “Provinsi yang mendukung negara Pancasila.”
Menanggapi polemik tersebut, tokoh ulama sekaligus budayawan Sumatera Barat, Buya Mas’oed Abidin, memberikan pandangan mendalam mengenai silsilah keluarga Bung Karno yang menurutnya memiliki akar kuat di Sumatera Barat.
Jejak Minang di Darah Fatmawati
Berbeda dengan anggapan umum bahwa Fatmawati adalah orang Bengkulu asli, Buya Mas’oed menyebut bahwa istri sang Proklamator tersebut sejatinya memiliki darah Minangkabau yang kental.
“Megawati itu anak Fatmawati, itu orang Minang. Siapa bilang dia orang Bengkulu? Dia orang Pesisir Selatan yang merantau ke Bengkulu,” ungkap Buya Mas’oed.
Menurut penulis berusia 85 tahun ini, Fatmawati adalah keturunan dari Putri Indrapura, keluarga raja dari Kesultanan Indrapura, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Mengingat adat Minangkabau menganut sistem matrilineal (garis keturunan ibu), maka secara adat, Megawati Soekarnoputri pun mewarisi identitas Minang dari ibundanya.
Puan Maharani: “Minang Tulen” dari Dua Sisi
Tak hanya dari garis nenek, silsilah Puan Maharani semakin kuat di tanah Minang melalui sang ayah, almarhum Taufiq Kiemas.
Ibu dari Taufiq Kiemas, Hamzathoen Roesyda, adalah perempuan berdarah Minangkabau. Taufiq sendiri memegang gelar adat Datuk Basa Batuah di Kanagarian Sabu, Batipuh Ateh, Tanah Datar.
“Ayah Puan itu datuk, orang Minang. Jadi Puan itu Minang tulen, ibunya pun anak orang Minang. Astagfirullah…” tutur Buya Mas’oed menyesalkan pernyataan Puan yang dianggap menyinggung perasaan warga Sumbar.
Pancasila dan Karakter Orang Minang
Terkait pernyataan Puan yang menyinggung soal Pancasila di Sumbar, Buya Mas’oed menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila sudah tertanam dalam kehidupan masyarakat Minang jauh sebelum istilah itu lahir.
Ia mengingatkan sejarah perumusan Sumpah Pemuda 1928 yang dimotori oleh Mohammad Yamin, putra asli Minang, sebagai bukti kontribusi nyata dalam persatuan bangsa.
“Orang Minang tidak membanggakan diri sebagai orang Minang, tapi membanggakan diri sebagai orang Indonesia. Nilai Pancasila sudah ada dalam kehidupan masyarakat Sumbar,” pungkasnya.
Hingga kini, perdebatan mengenai identitas budaya dan pilihan politik ini terus menjadi diskursus menarik dalam panggung politik nasional, terutama mengenai bagaimana PDIP merebut kembali hati masyarakat di Sumatera Barat.
Sumber: Kumparan.news (Megawati dan Puan Maharani Ternyata Berdarah Minang)
#PuanMaharani #MegawatiSoekarnoputri #Fatmawati #SumateraBarat #Minangkabau #SejarahIndonesia #PDIPerjuangan #PesisirSelatan #TokohMinang






